Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 24 Perjalanan


__ADS_3

"Kau marah? Makhluk bodoh sepertimu yang bahkan hanya memiliki sedikit kecerdasan, apakah layak untuk menjadi lawanku?"


Tepat setelah zombie itu mendekati lelaki itu dan mencoba mengarahkan gergaji mesin itu padanya, tiba-tiba sebuah penghalang muncul di sekeliling tubuh lelaki itu. Gergaji itu tertahan dan terpental sejauh 9 meter.


Kini zombie besar itu tidak memiliki senjata apapun di tangannya untuk melawan lelaki itu.


"Apakah segitu saja kekuatanmu? Hanya segitu bagaimana cukup untuk menggores pelindungku? Jujur saja kau itu terlalu lemah. Kau sangat mengecewakanku!" Ucap Rio dengan perasan penuh kecewa.


Mendengar perkataan itu, zombie besar itu sangat marah dan memukul pelindung yang ada di sekitar lelaki itu secara membabi buta.


Alhasil pelindung itu tidak mengalami apa-apa. Tidak ada tanda-tanda retak atau rusak, yang ada tangannya yang menjadi sakit akibat memukul.


"Apakah kamu sudah putus asa sehingga melawanku dengan membabi buta? Sungguh.. lemah! Sekarang, MATI!"


*Crack*


Zombie besar itu tiba-tiba terjatuh ke tanah dan menghilang dengan meninggalkan Magic Stone berwarna biru.


Rio mengambil magic stone itu, dan....


"Magic stone ini berbeda dengan yang lainnya." Dia melihat ke arah sekumpulan magic stone yang berserakan di jalan.


"Yang putih besar ini juga terlihat berbeda..." Dia berjalan ke arah sekumpulan magic stone dan mengambil salah satunya.


"Bagaimanapun juga, ini pasti akan berguna nanti. Masukan semua ke dalam penyimpanan!"


Semua magic stone terlahap dan masuk ke dalam ruang penyimpanan.


"Mari kembali ketujuan awal. Kediaman rumah Santi sudah terlihat dari sini."


Dia kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Rumah Santi.


Kediaman Rumah Santi. Pintu Luar Gerbang Rumah.

__ADS_1


Rio tepat berhenti di luar pintu gerbang rumah.


Tampak tidak ada siapapun yang berjaga di pintu gerbang. Pengawalan yang tidak terjaga, dimana semua pengawal?


"Tidak ada siapapun di sini. Mereka semua berada di dalam rumah. Syukurlah Santi masih berada di dalam kamarnya."


Rio mengaktifkan sihirnya seolah dia tidak terlihat dan berjalan menembus gerbang.


Dia telah sampai di taman, dan berjalan menuju pintu masuk.


Tidak ada yang berjaga di depan pintu. Para pengawal berjaga di balik pintu ini.


Rio berjalan dan membuka pintu.


Terdapat kedua pengawal di dalam pintu yang sedang waspada terhadap seseorang yang baru saja membuka pintu, tetapi setelah pengawal itu melihat orang itu, mereka terkejut dan kembali bersikap tenang.


"Tuan muda."


"Dimana Santi?" Rio mulai bertanya kepada kedua pengawal itu.


Mendengar jawabannya itu, Rio berjalan melewati tangga menuju kamar Santi.


Di luar kamar terdapat pengawalan ketat.


Para pelayan dan pengawal sedang berkumpul di sana.


Salah satu pelayan melihat Rio dan berjalan ke arahnya.


"Tuan muda, Nona dari tadi menangis karena anda menghilang. Dia memaksa keluar untuk mencari tuan. Kami terpaksa mengurungnya di dalam kamar."


"Kalian sudah melakukan pekerjaan dengan bagus. Tidak apa-apa, buka pintunya!" Rio menyuruh pengawal yang berjaga di pintu untuk membukakan pintu kamar.


Salah satu pengawal membuka pintu ruang kamar itu, Segera Rio memasuki kamar.

__ADS_1


Di dalam kamar, terdapat Santi yang sedang menangis sambil memeluk guling.


"Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Rio sambil berjalan ke arahnya.


Wajahnya kini melihat ke arah sumber suara, dia melihat wajah Rio dan terkejut. Sontak Santi pergi berlari ke arahnya untuk memeluknya.


"Sayang.... Hiks... Hiks... Dari mana saja kamu? Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku?" Santi bangkit dan berlari ke arah Rio dan langsung memeluknya.


"Aku sangat sedih ketika kamu menghilang di tengah keadaan seperti ini. Aku, aku... benar-benar putus asa sekali." Santi meneteskan air matanya di dalam pelukan hangat Rio, sedangkan Rio menyeka air matanya menggunakan tangannya.


"Tidak apa-apa, aku ada di sini."


"Hiks... Tolong jangan pergi kemanapun dan tetaplah di sini."


"Baiklah, baiklah, aku akan tetap di sini." Rio melirik ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 02:27 Malam. "Sudah larut malam, kamu pergi tidurlah."


"Janji ya jangan kemana-mana lagi? "


"Iya."


"Kalau begitu tidurlah di sampingku." Santi memegang lengan Rio dan menuntunnya ke arah tempat tidur.


Sementara itu Rio memberikan respon kepada para pelayan dan pengawal untuk segera pergi dari ruang kamar.


Mereka menerima respon. Segera menutup pintu, lalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.


Sementara itu di dalam kamar.


Rio tidur menyamping, sedangkan Santi tertidur lelap sambil memeluk Rio.


Ketika Santi sedang tertidur, Rio terbangun dan membuka matanya.


Dia menatap ke arah wajah Santi, dan...

__ADS_1


"Dasar wanita bodoh." Gumam Rio sambil mengelus-elus kepala Santi.


__ADS_2