
Setelah selesai untuk berbicara dengan Nuke, Rio kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Tubuhnya baik-baik saja, tetapi pikirannya benar-benar lelah. Rio melompat ke arah tempat tidurnya seolah-olah dia sedang melompat ke sebuah kolam renang.
Kasurnya menerimanya, itu benar-benar empuk. Sesekali dia mengganti posisi ke kiri lalu ke kanan. Rebahan yang luar biasa...
"Haaah!" Dia menghela nafas lega seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugasnya bekerja dari kantor. "Sangat melelahkan...." Seorang pria muda yang terlihat kelelahan secara mental. Kondisi fisiknya terlihat baik-baik saja, namun itu berbeda jika dikaitkan dengan pikirannya.
Umumnya orang yang mudah lelah adalah orang yang sudah lanjut usia. Untuk seseorang remaja yang baru berusia 17 tahunan, kondisi fisik maupun ototnya masih terbilang sehat dan kuat. Berbeda dengan orang yang sudah lanjut usia, tubuh jadi mudah capek dan rentan terhadap penyakit.
Namun, ini adalah masalah yang berbeda. Sebagai orang satu-satunya yang memikul tanggung jawab, Rio harus bekerja lebih keras di masa depan agar semua orang yang berada di sekitarnya lebih aman.
Dengan menggunakan sihirnya dia bisa saja untuk menghilangkan kelelahannya baik secara fisik maupun mental. Walaupun begitu, dia memiliki batas-batas tertentu karena ini adalah hal yang wajar.
__ADS_1
Seperti inilah beban yang dipikul oleh para orang tua untuk menghidupi keluarganya.
"Setelah ini sepertinya tubuhku yang satunya akan segera pergi.." Dia bergumam pada dirinya sendiri di ruangan kosong di dalam kamarnya.
Seperti itulah. Rencana selanjutnya dia akan menggunakan tubuh utamanya untuk bepergian melihat dunia ini yang sangat luas. Ada beberapa tempat yang ingin dia lihat pasca kehancuran di hari kiamat ini. Salah satunya adalah bertemu dengan manusia yang masih bertahan hidup.
"Tapi meskipun begitu, bergonta-ganti kesadaran memang melelahkan."
Benar. Bergonta ganti memasuki tubuh yang satu, lalu kembali ke tubuh yang lain memang tidak relevan. Bisa saja dia menggerakan dua tubuh sekaligus dengan memasukannya sedikit ke sadaran ke tubuh klonnya. Dengan begitu bukankah akan lebih baik?
Menjaga kedua orang di tempat yang berbeda sangat merepotkan. Apakah lebih baik jika dia menyatukan mereka di tempat yang sama dengan begitu pekerjaannya tidak akan bertambah dua kali lipat?
Ketika dia tenggelam ke dalam pikirannya itu, seseorang baru saja mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
*Tok-Tok-Tok* Terdengar suara pintu yang berbunyi. Dilanjuti dengan suara wanita. "Kakak, apakah kamu ada di dalam?"
Seseorang menyebut namanya dari arah luar pintu kamar.
"Masuk saja, pintunya tidak terkunci kok." Saut Rio dari dalam kamarnya menyuruh adiknya memasuki kamar.
Perjalanannya di dunia ini baru saja di mulai. Dia harus mengamatinya dengan cara melihatnya dari lapangan. Dengan cara begitu dia akan mengetahui misteri dari dunia ini yang tidak diketahuinya.
Ketika dia terlelap dalam pikirannya, tidak terasa Rani telah duduk di pinggir kasur dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dilihat dari sekilas Rio mengetahui sepertinya Rani sedang memikirkan sesuatu.
"Kakak, apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia ingin bertanya tentang hal yang serius. Jadi Rio bangkit dari kasurnya dan segera berpindah tempat ke pinggir kasur bersebelahan dengan Rani untuk mendengarkan pertanyaan yang ingin dilontarkannya.
__ADS_1
"Sebelum itu, ada apa dengan wajahmu? Tidak biasanya kamu lesu begitu."
Dengan reflek, Rani membalas perkataan Rio."Ah, ya. Aku tidak apa-apa kok. Ini hanya karena aku memikirkan beberapa hal. Daripada itu, bisakah kakak memberitahuku apakah aku bisa menggunakan sihir seperti Nuke?"