
"Benarkah? Sungguh?"
Sebagai seorang manusia yang tidak terbangkitkan, akan sulit untuk mempelajari sihir jika tidak mempunyai sebuah bakat sihir. Akan tetapi itu berbeda jika dia mempunyai gift yang di berikan oleh dewa tertentu. Dan kini sebagai seorang Dewa dan juga sebagai seorang kakak, dengan kemampuannya, Rio dapat memberikan sebuah berkah gift berupa Sytem replika yang baru saja selesai dibuatnya. Dengan selesainya diupgrade sistem di versi sebelumnya, ia di beri hak otoritas membuat sistem replika untuk diberikan kepada adiknya. Walaupun dia diberikan hak tertentu, tetapi tetap saja untuk item-item dan fitur-fiturnya semuanya ia sendiri yang tanggung. Sistem tidak berkewajiban untuk melakukan hal tersebut, jadi untuk bahan-bahannya yang berupa item ia ambil dari ruang penyimpanannya.
"Benar. Kalau kamu sampai berinisiatif untuk belajar sihir, bagaimana mungkin aku sebagai kakakmu melarangmu. Tapi belajar sihir itu tidak mudah loh~ apakah kamu masih ingin melakukannya?"
Untuk mempelajari sihir, sangat sulit jika tidak memiliki tekad yang kuat untuk mempelajarinya. Walaupun memiliki bakat sekalipun, kalau hanya belajar setengah-setengah, bagaimana bisa menguasainya. Walaupun begitu dilihat sekalipun, sepertinya Rani telah bertekad untuk mempelajarinya.
"Lakukan. Aku akan melakukannya." Rani dengan wajah yang berkaca-kaca.
Tekad yang kuat telah tertanam pada dirinya. Sebagai seorang kakak, mana mungkin dia mengecewakan adiknya ketika dia telah mengatakan kata-kata tersebut. Jadi untuk dari itu, Rio menaruh tangan kirinya ke arah belakang punggungnya. Seperti istirahat di tempat ketika berada di lapangan upacara. Sebuah layar yang setipis nan lembut muncul dengan tulisan.
[Otoritas Telah Diaktifkan!]
[Memberikan Sebuah Gift Kepada Pengguna 'Rani' Apakah Anda Menerimanya?]
[Ya] [Tidak]
Dia mulai memilih [Ya]
[Sedang melakukan Proses Penyatuan]
Setelah dia menekan tombol, sebuah cahaya terang baru saja melewati Rani. Dan kini cahaya itu berhenti tepat berada di atas kepala Rani.
__ADS_1
Melihat ke arahnya, sepetinya Rani masih belum menyadari cahaya itu.
[Memuat 1%]
[10%]
[40%]
[80%]
[100%]
[Berhasil Pengguna Telah Terdaftar]
"Baiklah kalau begitu, kapan ya kira-kira ada waktu untuk belajar sihir..." Rio mengusap-usap dagunya dengan tangannya menentukan waktu yang pass agar tidak bertentangan dengan waktu luangnya.
"Ah, ya. Kakak akan pergi lagi sehabis ini kan? Aku mengerti. Jadi tidak ada waktu luang untuk mengajarkanku sihir." Rani menatap ke arah bawah dengan ekpresi kecewa. Rio menyadari itu, dan membalasnya dengan lembut memukul kepalanya.
"Tidak, gadis Bodoh. Saat ini kakak lagi senggang. Tapi kau kan tahu kakak baru saja kembali ke rumah, kakakmu juga butuh istirahat untuk memulihkan stamina. Bagaimana kalau besok? Akan kuajari kamu sihir bareng temanmu itu."
Rio bisa memahami mengapa Rani bisa di penuhi motivasi untuk mempelajari sihir. Yah, walaupun dia enggan dan ingin bermalas-malasan di dalam kamar selagi ada waktu luang, tetapi melihat ekpresi adiknya itu, dia tidak tega untuk menolaknya.
"Besok? Ah, ya. Kalau begitu besok kakak akan mengajari aku dan Nuke sihir."
__ADS_1
"Benar, bukankah lebih cepat maka lebih baik?"
Semakin cepat dia mempelajarinya, semakin cepat pula dia dapat menguasainya. Keuntungan dari itu Rani dapat menjaga dirinya sendiri.
"Ya. Aku sangat tidak sabar untuk menantikannya. Oh iya, aku hampir melupakannya. Bibi menyuruhku untuk memberitahu kakak untuk segera turun kebawah karena makan siang sebentar lagi akan segera siap. Kakak pasti lapar kan? bagaimana jika makan bersama dengan yang lainnya?"
"Ah, kalau itu sepertinya tidak mungkin. Aku ngantuk sekali." "Hwahhh" dia menguap. "Jadi aku akan tidur untuk saat ini. Taruh saja makanan itu di atas laci ini." Rio menunjuk ke arah laci yang berada di sampingnya. "Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, aku akan tidur." Rio mengambil selimut dan melentangkan tubuhnya diatas kasur, lalu memejamkan matanya.
"Ah, ya. Selamat tidur. Kakak pasti lelah setelah perjalanan yang panjang. Sampai jumpa besok kakak." Rani mematikan lampu, lalu menutup pintu kamar. Turun ke bawah untuk menuju ke arah ruang makan.
Rani dengan cepat berjalan ke arah ruang makan yang disana terdapat bibinya dan bibi Sinta dan putrinya Marsya. "Maaf menunggu lama." Dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan bibinya.
"Dimana Rio? Kenapa dia tidak turun untuk makan?"
Semua orang yang berada di ruangan ini memperhatikannya.
Rani lebih memilih menatap ke arah makanan yang berada di atas mejanya dibandingkan dengan ucapan yang baru saja di tanyakan oleh bibinya. Dia tidak bisa mengungkapkan jika kakaknya tidak bisa mengikuti makan siang keluarga. "Ah, itu... Kakak baru saja sampai ke rumah setelah perjalanan yang panjang, jadi dia ingin beristirahat untuk sementara waktu. Kakak bilang untuk tidak mengkhawatirkannya, jadi makan saja duluan. Kakak juga menyuruhku untuk menaruh bagian makanannya di kamarnya."
Setelah dia selesai mengucapkan katanya, bibi Sinta membalasnya dengan lembut dan hangat. "Bukankah makanannya akan dingin setelah ia bangun? Rasanya mungkin akan berbeda ketika selagi hangat." Di teruskan dengan Marsya "Ya, ya." Marsya mengangguk setuju dengan pernyataan ibunya.
"Sudahlah. Untuk saat ini mari kita makan terlebih dahulu.... Nanti akan aku buatkan lagi makanannya ketika Rio sudah bangun."
"Ah, ya. He he he..." Rani hanya bisa tertawa ringan setelah mendengar ucapan bibinya.
__ADS_1