Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 10 • IPAR LAKNUT - Terpisah Dengan Suami •


__ADS_3

Zeo memandang langit kamarnya, kamar yang pertama ia tempati. Kamar yang sama dengan yang dulu ia tempati saat ia masih kecil bersama ibunya. Mata Zeo memancarkan kesedihan yang dalam, namun juga terpancar dendam dan kebencian disana.


"Ini belum seberapa, tunggulah yang lainnya menyusul." Gumam Zeo dengan pandangan mata yang tajam.


###


Rinjani mengganti pakaiannya di rumah utama, karena saat kemarin ia pergi mengantar mama Ratna, Rinjani tak membawa baju ganti. Jadi ia terpaksa kembali kerumah utama dan berangkat kerja dari sana, begitu rencananya. Rinjani keluar dari kamar nya bertepatan dengan pintu kamar Zeo yang terbuka. Pria itu juga baru saja selesai bersiap untuk kerja. Ia tersenyum nakal pada kakak iparnya.


"Hay. Good morning."


Rinjani melihat Zeo dengan jengah. Setelah ia mendengar cerita dari mama Ratna semalam, membuat Rinjani semakin kesal pada pria dihadapannya kini.


"Kenapa kau tinggal disini?"


"Speaking English please."


Rinjani membuang nafasnya, memutar matanya malas. Rinjani berjalan melewati Zeo acuh. Zeo tersenyum nakal lagi, ia menarik lengan Rinjani hingga wanita itu tersentak dan jatuh dilengan atas Zeo. Dengan cepat, Zeo menekan pipi dan kepala Rinjani, melummat bibir lembut berwarna nude itu. Mata Rinjani melebar karena kaget, ia mendorong tubuh Zeo sekuat tenaga hingga terlepas dari panggutan bos sekaligus adik iparnya. Tangan Rinjani terangkat hendak menampar Zeo akan tetapi tangan Zeo lebih cepat menangkapnya. memutar tubuh Rinjani dan memeluknya dari belakang. Ia tersenyum dengan nakalnya.


"Setiap pagi, aku akan membasahi bibirmu. Bersiaplah."


Mendengar ultimatum dari Zeo yang asal itu membuat Rinjani makin geram. Ia memajukan kepalanya, lalu mendorong kebelakang dengan kuat membentur kepala Zeo dan terlepaslah pelukan pria itu. Rinjani berbalik, menendang bagian pusat Zeo hingga pria itu mendelik kesakitan.


"Mampus!" Rinjani menarik tangannya yang sedari dicengkram Zeo yang kini memegangi pusat tubuhnya yang berharga.


"Di kantor kamu memang bosku, tapi dirumah ini aku adalah kakak iparmu. Kedudukan ku lebih tinggi, jadi bersikap sopan lah kepadaku."


Rinjani berkacak pinggang dengan wajah menantang. Lalu Ia berjalan seolah tak terjadi apa-apa, meninggalkan Zeo yang makin merunduk dan merosot kelantai dengan wajah yang menahan sakit yang teramat sangat.


_____


Sudah hampir seminggu Zeo tinggal di rumah utama, hanya pak Budi, dan Rinjani saja yang masih menetap tinggal disana. Sementara suaminya, Damar dan mama Ratna tak kembali sejak hari itu. Rinjani mengetuk pintu ruang kerja papa mertuanya dengan ragu. Ia mendorong handel pintu.


"Masuk Rin." Pak Budi menoleh menatap Rinjani yang tertegun, ada Zeo disana, dengan beberapa kertas dan laptop dimeja depan keduanya.


"Papa, bisa kita bicara sebentar?"


"Bicara aja Rin." Ucap pak Budi sibuk merapikan kertas-kertas di meja."Kamu nggak biasanya kaku kek gini. Apa apa?"


"Mmmm..." Rinjani melirik Zeo, bosnya itu menatapnya sekilas. Lalu sibuk lagi dengan laptop di hadapannya.


"Pa, bisa bicara berdua aja nggak?"


Pak Budi terhenti dari aktifitasnya, memandang Rinjani dan berganti menatap anaknya yang satu lagi.


"Tunggu papa di ruang santai."


"Okey."

__ADS_1


Rinjani duduk tak tenang di ruang santai. Meremas tangannya dengan gelisah. Pak Budi muncul dan duduk di seberang Rinjani menunggu.


"Ada apa?"


"Ini sudah seminggu pa."


Pak Budi menatap tajam Rinjani. Ia tau apa yang Rinjani maksud. Tentu tentang Ratna dan Damar yang sudah seminggu ini tak pulang juga tak menghubungi. Pak Budi menarik nafasnya dalam, lalu hembuskan pelan.


"Ini udah seminggu mama dan mas Damar nggak pulang."


"Papa nggak ngusir mereka Rin."


"Tapi, papa kan juga tau kenapa mereka pergi."


"Kamu mau papa bagaimana?"


Rinjani menggigit bibirnya, meremas tangannya yang basah karena keringan yang mendinginkan tangan dan kakinya.


"Pa...."


"Zeo juga anakku Rin. Dia sudah lama terpisah dariku karena Ratna. Aku ingin menebus seluruh kesalahanku padanya dan Rihana."


"Tapi pa, gimana dengan mama Ratna dan mas Damar?"


Pak Budi menghela nafas berat. "Mereka sudah banyak menikmati keringatku selama ini. Kurasa ini cukup adil untuk...."


"Rinjani..."


"Papa, aku tak tau masalalu rumah ini. Tak bisakah papa mengambil keputusan yang tidak menyakiti keduanya?" Ucap Rinjani memelas dengan alis yang turun."Baik itu mama Ratna dan mas Damar ataupun anak papa yang satu lagi."


Rinjani mengigit bibir dan mengusap sudut matanya. Ia lalu mengambil langkah panjang keluar dari ruangan itu.


_____


Malam semakin larut, Rinjani masih tak bisa tidur, ia hanya guling-guling diatas ranjang kamarnya luas.


'Seperti yang mama bilang, papa tak bisa dibujuk. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat mereka kembali.' Rinjani menarik nafasnya, "aku tak mungkin secara terang-terangan mengusir Zeo, juga tak mungkin meminta papa melakukan nya. Menyuruh Zeo pergi ke rumah yang lain, apa papa rela? Mengingat papa ingin menebus kesalahan, itu tak akan terjadi. Haaahh,, kenapa ini begitu sulit?'


Rinjani mengambil hp, melakukan sambungan telpon. Rinjani berjalan ke balkon kamar sambil menghubungi suaminya.


Nada dering terdengar pertanda sambungannya terhubung. Rinjani menunggu sejenak sampai terdengar suara Damar yang sangat ia rindui.


"Mas Damar."


("Ada apa Rin?")


"Kapan mas pulang?"

__ADS_1


("Kan udah mas bilang, mas nggak akan balik semalam orang itu ada dirumah.")


Rinjani bernafas berat. "Tak bisa kah kita bicarakan ini baik-baik?"


("Rin, ini bukan masalah yang bisa selesai dengan dibicarakan baik-baik.")


"Mas Damar mau Rinjani bagaimana?"


("Bantu mas menyingkirkan orang itu.")


"Bagaimana caranya? Aku tak mungkin mengusirnya. Dia...." Tenggorokan Rinjani tertekat, ia tak sampai hati mengatakan pada suaminya apa yang sudah ia dengar dari pak Budi. Rinjani menelan ludahnya dengan sangat susah, menyentuh dadanya yang makin terhimpit oleh sesak.


"Lalu mau sampai kapan mas disana?"


("Nggak tau.")


"Aku kesana ya mas. Aku istri mas, biar aku temenin mas disana."


("Jangan Rin.")


"Kenapa? Kenapa nggak boleh?"


("Mas nggak mau nanti papa marah gara-gara kamu ikut pergi.")


Rinjani mengambil nafas dalam, rasa sesak menyeruak dan terus menghimpit dadanya.


"Rinjani kangen mas. Sudah seminggu kita nggak ketemu."


Disisi lain dari balik pembatas balkon kamar sebelah, Zeo duduk dilantai, dengan beberapa botol disampingnya membelakangi Rinjani. Ia menenggak botol berwarna hijau ditangannya langsung dari mulut botol. Sudah tentu ia mendengar apa yang Rinjani ucapkan.


_____


Bersambung..


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2