
"Dia Zeo anakku."
"Apa?"
Rinjani tercengang, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, bagaimana bisa seorang Zeo yang berwajah bule tulen itu adalah anak papa mertuanya yang miliki wajah Asia.
"Sayang, apa kau mau bilang dia adalah anak pelacur itu?" Tunjuk Mama Ratna dengan mata nyalang.
"Diam! Jangan menyebut Rihana seperti itu! Dia istriku juga Ratna."
"Papa..... Bisa-bisanya kau membawa anak durjana ini kemari."
"Dia juga anakku Na, dan dia akan tinggal disini."
"Tega kamu pa."
Tubuh Mama Ratna berguncang hebat, mimik mukanya berubah-ubah, marah, benci, sedih, dan kecewa bercampur disana. Rinjani menatap wajah mama mertuanya dengan mata yang sedikit berair. Ia seolah bisa merasakan kepedihan Hati mama Ratna.
Mama Ratna berdiri dengan tiba-tiba. Menatap nyalang pada Zeo dan suaminya bergantian. Matanya sangat berair, siap untuk memuntahkan butiran bening dari sana.
"Jika dia tinggal disini. Aku pergi. Jangan mengharapkanku kembali jika masih ada dia dirumah ini."
Air mata mama Ratna luruh juga, banjir hingga mengajak sungai di pipinya. Papa Rudi menatap istrinya, ada rasa marah, kecewa dan bersalah disana.
"Rat-na..."
Mama Ratna berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan meja makan dengan punggung yang terus berguncang. Rinjani memandang iba pada punggung itu.
"Ratna! Ratna!" Panggil pak Budi berdiri dari kursi tapi tak beranjak menyusul sang istri.
Rinjani memandang papa mertuanya lalu berganti menatap Zeo yang asik makan seolah tak perduli. Netra Rinjani menyipit. Ia ikut berdiri dan menatap pak Budi.
"Pa, biar Rin yang nyusul mama."
Rinjani berjalan dengan sedikit berlari menyusul mama Ratna yang ia yakin hatinya sangat hancurr. Walau tak tau bagaimana ceritanya, tapi Rinjani bisa mengambil kesimpulan, jika mama Ratna pernah dihianati oleh papa Rudi dengan menikah dengan mama Zeo. Yang entah bagaimana akhirnya papa Rudi kembali pada mama Ratna hidup bahagia, sampai Zeo hadir lagi kerumah besar keluarga Rudi.
Rinjani berjalan melewati mama Ratna, dan berhenti didepan wanita yang masih terus menangis itu. Rinjani menatap wajah sendu mama mertuanya. Lalu memeluk tubuh wanita tua yang rapuh oleh air mata.
"Mama..."
Tangis mama Ratna pecah, ia menangis sejadinya dalam pelukan Rinjani. Mendengar tangis pilu dari wanita yang keras itu membuat air mata Rinjani menetes juga.
__ADS_1
"Mama tinggallah dulu disini. Jangan buru-buru pergi. Mama nyonya rumah ini, bukan Mama yang seharusnya pergi." Bujuk Rinjani mengeratkan pelukannya.
"Papamu mana perduli dengan mama, Rin. Dulu juga begitu, dengan tak tau malunya wanita jallang itu datang dan menghancurkan kebahagian mama. Untuk apa anaknya sekarang datang lagi? Dia pasti berniat menghancurkan keluarga bahagia ini juga." Tangis mama pilu.
"Terus, mama mau pergi?"
"Mama nggak Sudi tinggal dibawah atap yang sama dengan anak itu."
Rinjani menghela nafasnya, dan melonggarkan pelukannya. Mandang wajah tua yang basah oleh air mata. Rinjani mengangkat tangannya mengusap pipi mama Ratna dengan lembut.
"Biar Rinjani yang antar kemana mama mau pergi."
______
Didalam mobil yang melaju pelan, mama Ratna sesenggukan. Menangis dengan suara pelan namun masih dapat Rinjani dengar. Meski begitu Rinjani mencoba untuk tetap fokus melihat ke depan. Sesekali Rinjani mengusap lengan mama mertua nya itu untuk menyalurkan energi positif.
Rinjani menghentikan mobilnya dihalaman vila keluarga Rudi yang jaraknya lebih dari 10km dari rumah utama. Rinjani turun dari mobil, memutari setengah badan dan membuka pintu samping mama Ratna duduk. Membantu Ratna turun dari dari mobil dan menuntun tubuh lemah itu masuk kedalam vila.
"Ada apa neng Rinjani? Ibuk kenapa sesenggukan begitu?" Tanya mbok Darmi ikut membantu menuntun majikannya duduk di sofa tamu.
"Mbok tolong ambilkan minuman hangat buat mama, dan siapkan kamar buat mama tidur."
"Baik neng." Mbok Darmi berjalan meninggalkan keduanya menuju dapur.
Sesaat kemudian mbok Darmi datang dengan dua gelas teh hangat diatas nampan lalu meletakkannya di meja depan Rinjani dan majikannya duduk.
"Makasih mbok." Rinjani mengambil satu cangkir teh dan memberikannya pada mama Ratna yang masih menangis.
"Iya neng. Apa neng Rinjani juga mau menginap di sini?"
"Iya mbok."
"Oo iya, mbok permisi dulu buat beresin kamar untuk ibuk dan neng Rinjani."
"Iya, makasih ya mbok."
Setelah mbok Darmi pergi, pintu utama vila terbuka. Damar muncul dengan wajah cemas, menghampiri ibu dan istrinya.
"Mama!"
Rinjani mengangkat kepala, menoleh pada suaminya yang datang dengan nafas terengah setelah Rinjani mengiriminya pesan tadi sebelum perjalanan ke vila.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Damar menatap Rinjani dan mama Ratna yang duduk bersebelahan.
Mama Ratna memeluk anak semata wayangnya dengan tangis tersengal-sengal. Damar berganti menatap istrinya meminta penjelasan.
"Ada anak papa yang lain ada di rumah."
"Apa?"
Damar memandang wajah mamanya yang masih basah. Mengusap pipinya dengan sayang.
"Anak laknut itu datang lagi, Dam. Mama nggak rela tinggal satu atap dengannya." Tutur mama Ratna dengan tersengal.
"Jadi mama milih pergi, Dam. Papa mu nggak ngejar mama, Dam. Papa mu nggak sayang sama mama."
"Mama yang tenang ya, biar Damar yang urus. Mama percaya kan sama Damar?"
Mama Ratna mengangguk pelan, memeluk lagi anak lelakinya dengan masih menangis tersengal-sengal.
*****
Di rumah utama kediaman keluarga Budi.
Zeo memandang langit kamarnya, kamar yang pernah ia tempati. Kamar yang sama dengan yang dulu ia tinggali saat ia masih kecil bersama ibunya. Mata Zeo memancarkan kesedihan yang dalam, namun juga terpancar dendam dan kebencian disana.
"Ini belum seberapa, tunggulah yang lainnya menyusul." Gumam Zeo dengan pandangan mata yang tajam.
Bersambung...
______
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️