Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 43 • IPAR LAKNAT - Lamaran Zeo 1 •


__ADS_3

"Apa ini?"


Rinjani menatap dua orang pria yang berdiri didepannya dengan tuksedo yang sama dengan size yang berbeda.


"Apa kami tampan bunda?"


Rinjani mengulas senyumnya.


"Looking good." Puji Rinjani dengan mengacungkan dua jempolnya.


"Daddy, Bunda suka." Ucap Samudra mendongak menatap Zeo.


"Ada apa ini Ze?"


"Ikutlah...." Zeo mengulurkan tangannya, Rinjani dengan patuh menyambut tangan yang mengambang itu. Lalu mengikuti langkah Zeo memasuki mobil berbadan panjang yang terparkir di belakangnya.


"Kita mau kemana?"


"Ra-ha-sia...." Sam tersenyum nakal memandang bundanya. Lalu ia menatap Zeo yang tersenyum dan mengangkat tangannya, mereka bertos ria.


"Apa yang kalian sembunyikan dari ku?"


Sam cekikikan.


"Sam?"


Tak dapat jawaban dari Samudra, Rinjani berganti menatap Zeo yang duduk disamping Sam.


"Ze?"


Zeo hanya melempar senyum misterius tanpa mengatakan apapun. Mereka berhenti di sebuah butik yang merangkap dengan salon. Lalu membawa Rinjani masuk kedalam, yang mendapat sambutan dari para karyawan dan pemiliknya.


"Selamat datang."


Zeo tersenyum ramah, "Aku serahkan dia padamu." Sembari mendorong lembut tubuh Rinjani.


"Percayakan pada kami."


"Ze, ada apa ini?" Rinjani melirik dengan tatapan tanya dan curiga.


"Kali ini, menurut saja." Ucap Zeo dibarengi dengan kedipan mata nakalnya.


"Sam?"


"Bunda, jangan rewel kayak anak kecil. Nurut saja. Kami tunggu disini."


Rinjani mengerucutkan mulutnya. Kesal juga dengan ucapan sang anak.


.


.


Selama hampir satu jam Rinjani di poles dan sudah mengenakan gaun berwarna peace. Ia keluar dari ruang rias dan berjalan keruang tunggu. Zeo terdiam. Terpana oleh penampilan Rinjani yang sangat cantik dan anggun.


"Apa aku secantik itu sampai mulut kalian terbuka secara bersamaan?" Rinjani tersenyum geli melihat dua pria beda generasi itu menatapnya dengan mulut ternganga.


"Bunda cantik sekali..." Sam yang pertama mendekat dan memeluk tubuh ibunya.


Sementara Zeo masih mematung ditempatnya, terlihat salah tingkah. Rinjani hanya meliriknya dengan senyum manis di wajah cantiknya.


.

__ADS_1


.


"Daddy, bunda cantik sekali kan?" Tanya Sam saat ketiganya sudah berada di dalam Limosin.


"EHEM! Iya...." Dehem Zeo dengan muka merah, sedikit mengalihkan pandangan matanya kearah lain.


Rinjani hanya mengulas senyum geli di wajahnya melihat tingkah Zeo yang tak biasa.


"Kita akan kemana?"


"Nanti kamu juga akan tau." Balas Zeo tanpa menoleh kearah Rinjani yang duduk disampingnya, bersekat Samudra. Rinjani mengulas senyum lucu lagi. Rona merah di wajah Zeo sangat terlihat dengan jelas.


"Zee?"


"Heeemm?"


"Lihatlah kemari."


Zeo masih memalingkan wajah kearah lain,


"Lawan bicaramu ada disini."


"Apa kamu mau menerima konsekuensi nya jika aku melihat kearah mu?" Tanya Zeo masih tanpa menoleh kearah Rinjani.


"Lihat kemari. Aku ingin melihat wajahmu."


Mimik muka Zeo semakin memerah. "Baiklah, jangan salahkan aku, kamu yang menggodaku lebih dulu..."


Zeo menahan bahu Sam, lalu sebelah tangannya yang lain menutup mata bocah berusia lima tahun itu. Zeo membalikkan badannya, melihat wajah cantik Rinjani dengan polesan warna pink di bibirnya yang sedikit merenggang dan sensual. Menggoda Zeo untuk sekedar mencicipi seranum apa rasanya.


Tubuh Zeo sedikit mencondong dengan cepat melahab dan menyesap bibir Rinjani yang sedari tadi menggodanya. Membawa lidahnya masuk kedalam rongga mulut Rinjani. Menyatukan benda kenyal tak bertulang yang saling melilit.


"Daddy! Lepaskan... Gelap. Aku nggak bisa lihat." Tangan mungil Sam mencoba menarik telapak tangan Zeo yang menutupi matanya.


"Daddy!" Protes Sam kesal ia menggigit jari Zeo yang masih bergerak perlahan di sekitar mulutnya.


"Aaaarrrgg!"


"Sam!"


Rinjani menarik dan mengangkat tubuh Sam kepangkuan nya.


"Kenapa mengigit uncle Z?" Rinjani mencubit pipi gembul Sam.


"Daddy Z nakal, bunda. Tadi mataku di tutupinya. Sampai aku tak bisa melihat karena gelap. Daddy Z nakal." Adu Sam memukul tubuh Zeo.


Zeo tertawa kecil. "Maaf ya. Masih mendukung Daddy kan?"


"Nggak mau!"


"Hei, mana janji laki-laki?"


Rinjani tertawa kecil. "Memang nya apa yang kalian rencanakan?"


"Tidak ada." Keduanya mengeleng kompak. Zeo lalu mengambil Sam dari pangkuan Rinjani. Memindahkannya ke pangkuannya sendiri. Lalu berbisik ditelinga Sam dengan tangan yang menutupi agar gerakan bibirnya tak terbaca oleh Rinjani.


Lalu wajah keduanya berbinar dan tertawa. Entah apa yang mereka Tertawakan. Rinjani hanya memutar matanya malas sembari membuang muka.


###


Mobil itu berhenti disebuah restoran, mungkin lebih tepatnya resto milik Rinjani sendiri. Rinjani menoleh menatap wajah Zeo dan Sam dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Kenapa kemari?"


"Menurutmu kenapa?"


"Tempat ini sudah dibooking oleh seorang costumer...."


Zeo mengulas senyum nakal.


".... Untuk acara lamaran...." Rinjani tersenyum dan tersipu, ia baru menyadari, jika customer itu mungkin saja Zeo mengingat pria di depannya kini tersenyum pasti dan menuntunnya memasuki resto.


"Sudahlah...." Gumam Rinjani, mengikuti saja langkah Zeo dan Sam.


Di resto itu, sudah di hiasi banyak lampu-lampu yang menyala diaatas kepala. Dan dinding yang di hiasi bunga-bunga dan tanaman rambat. Ia sendiri yang menghiasnya tadi. Alunan musik soft terdengar begitu ia memasuki tempat itu. Zeo menarik kursi untuk Sam, lalu ia berganti menarik kursi untuk Rinjani.


"Jadi aku yang kedua?"


Dahi Zeo mengernyit menatap Rinjani yang tersenyum malu-malu lalu ia berganti melihat Sam yang ternyata juga mendongak kearahnya.


"Sam, dia iri padamu."


"Kalau bunda mau mengulangnya, Aku tidak keberatan." Lontar Sam dengan mata bulat yang terlihat bersungguh-sungguh.


Rinjani tergelak, "ha-ha-ha, tidak sayang. Bunda hanya bercanda."


"Kalau bunda serius pun. Aku akan mengalah." Lontar Sam lagi dengan wajah serius. Membuat Rinjani mencubit pipi Sam gemas.


"Daddy..." Adu Sam menatap Zeo dengan mata memelas sembari menggosok pipi nya yang di cubit Rinjani.


"Daddy harus bagaimana, jika Daddy memarahinya sekarang, mungkin lamaran Daddy akan ditolak. Bagaimana menurutmu?" Ucap Zeo dengan tangan terangkat kesamping sembari mengendikkan bahu.


Wajah Sam semakin mengemaskan karena memasang wajah kasian yang bingung. Mungkin antara sakit dicubit dan terpaksa mengalah karena tak ingin lamaran Daddy-nya di tolak oleh sang bunda.


Rinjani dan Zeo saling melirik dan melempar senyum.


Beberapa saat kemudian mereka bersantap malam bersama. Sembari ketiganya bercengkrama. Hingga makan malam pun usai,


"Karena aku sudah beberapa kali melakukannya dan terus ditolak. Jadi kali ini aku tidak akan melakukannya."


Rinjani hanya mengernyit heran tak mengerti maksud Zeo. Pria yang justru tersenyum nakal itu menoleh pada Sam. Bocah mungil itu paham maksud Daddy, hingga ia yang berdiri dan turun dari kursinya. Lalu berdiri disamping Rinjani duduk.


Sam berlutut lalu membuka kotak berisi cincin. Rinjani yang terkejut menatap Zeo dengan penuh protes. Namun pria itu justru ikut berdiri dan berlutut di samping Sam.


"Bagaimana jika, dua laki-laki yang membujuk mu?" Ia membuka kotak dengan sebuah kunci.


"Tambah satu orang wanita tua...." Tiba-tiba saja Bu Ros muncul dan ikut berlutut, Bu Ros sendiri membawa sekotak kue yang di hias cantik dengan dengan tulisan "Nikahilah Zeo, Rinjani."


_______


bersambung.....


kali ini Zeo bakal ditolak apa di terima ya? Tulis jawabannya versi kalian di komentar ya


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️


__ADS_2