
Mata Damar membulat sempurna, ia sangat terkejut dengan kalimat yang Nadia lontarkan. Bagaimana bisa dia meminta Damar memilih Antara Rinjani dan keluarga kecilnya.
"Nad, Mas sayang sama kalian, mas nggak mau ninggalin kalian."
"Jadi mas mau ninggalin Rinjani." Nadia menatap penuh harap.
Tubuh Damar terkulai mendengarnya. "Itu nggak mungkin Nad."
Nadia menyentuh dadanya yang serasa sakit, keadaan ini sangat menyiksanya. Menjadi istri pertama Damar namun ia merasa seperti selingkuhan saja. Air matanya lolos, menderai di pipinya.
"Nad, saat ini orang yang mengancam posisi mas masuk ke perusahaan Rubian grup. Jika mas menceraikan Rinjani, kamu tau apa yang mungkin papa lakuin? Hak waris mas dicabut. Kau tau apa itu artinya? Kita akan jadi gembel."
Tangis Nadia semakin menjadi, ia terus tersengal. Hati sangat sakit setiap kali masih harus membagi suami. Tapi ia juga tak sanggup jika harus hidup susah. Tanpa materi, bagaimana kehidupan Nathan anaknya nanti? Tanpa materi bagaimana mereka bisa hidup nantinya?
"Maafin Mas yang tidak berdaya ini Nad." Damar memeluk tubuh Nadia yang terus berguncang."Mas akan cari cara agar tetap bisa mendapatkan hak waris itu, meski menceraikan Rinjani."
Damar menghela nafas panjangnya. "Bersabarlah."
"Aku sudah bersabar selam tujuh tahun ini mas. Butuh berapa tahun lagi untukku bersabar?" Lirih Nadia dengan tangis yang masih tersengal.
###
Di rumah utama Rubiandini.
Zeo dan Rinjani sama-sama baru keluar dari kamarnya. Zeo tertegun, Rinjani juga, wanita itu tersenyum sangat manis tanpa ia sadari. Memacu jantung seseorang berdetak lebih cepat.
"Dia pergi?"
"Iya?"
"Suamimu. Aku liat tadi mobilnya keluar garasi."
"Iya, ada masalah di proyek, dia harus segera kesana."
"Oh ya?" Zeo mengambil langkah mendahului berjalan menuruni tangga. Ia sangat jengah dengan sikap Damar yang terus menipu Rinjani hanya untuk memprioritaskan Nadia. Rinjani menyusul mensejajari langkah Zeo.
"Kenapa nada bicaramu seperti itu?"
Zeo menoleh,
"Seperti tidak suka."
Zeo menghentikan langkahnya, begitupun Rinjani. Zeo menatap wajah Rinjani dengan lebih dalam.
"Ini hari Minggu."
"Benar."
"Dan jam lima subuh, suami mu sudah keluar dengan alasan masalah proyek. Apa kau tau apa jabatan suami mu?"
"Manager pusat."
__ADS_1
"Benar." Tegas Zeo."apa menurutmu manager pusat akan mengurusi hal semacam ini. Sepagi ini?"
Rinjani memandang Zeo dengan mata tidak suka, pria itu seperti sedang memprovokasi perasaannya.
"Apa maksud pernyataan mu itu, Zeo? Kau mau bilang suamiku selingkuh begitu?"
Zeo hanya diam, lalu mengambil langkah menuruni tangga. Meninggalkan Rinjani dengan perasaan tidak tenang.
'Benarkah mas Damar selingkuh? Haruskah kutanyakan pada mas Damar? Bijakkah? Tapi kami sudah bahagia sekarang. Dia juga sangat menyayangi ku. Meski kami jarang melakukan hubungan suami istri, tapi, itu karena dia bekerja. Mas Damar sibuk bekerja. Benar. Jangan kendorkan kepercayaan mu hanya karena ucapan Zeo, Rinjani.' batin Rinjani mencoba menenangkan pikirannya dari berprasangka buruk.
###
Satu Minggu kemudian,
Zeo yang sudah masuk ke Perusahaan Rubian grup, dan terus melancarkan semua rencananya justru menemukan hal Janggal. Penyelewengan dana yang tidak sedikit dan dilakukan selama beberapa tahun lamanya. Zeo tersenyum tipis, ia merasa lucu karena pelakunya tak lain adalah abangnya sendiri.
"Untuk apa Damar melakukannya? Bodoh sekali, di perusahaan ayahnya sendiri." Gumam Zeo sembari menatap layar komputernya. "Baguslah, ini berarti aku tak perlu susah-susah lagi."
Zeo mengukir senyum tipis di wajahnya.
###
Rinjani duduk di kloset kamar mandi di lantai satu. Duduk termenung, hatinya tak karuan, jantungnya pun berdebar. Keringat dingin mengalir di punggung. Rinjani menarik nafasnya, lalu hembuskan. Begitu terus untuk mengurangi rasa gugupnya.
Rinjani menarik benda pipih panjang dari bawah. Matanya terpejam, seraya menelan ludah. Ia membuka matanya, satu demi satu. Melirik pada benda itu. Namun, sepertinya ia tak sanggup.
Rinjani keluar dari ruangan lembab itu, ia terperangah, hampir saja bertubrukan dengan Zeo yang hendak melintas. Zeo tersenyum geli dibuatnya.
"Sebenarnya, aku sangat takut melihatnya. Maukah kau membantuku?" Rinjani mengulurkan tangannya yang menggenggam sesuatu.
Dahi Zeo mengernyit, tapi ia menengadahkan tangannya juga menerima apa yang ada di genggaman Rinjani. Zeo memperhatikan benda pipih panjang itu. Ia tau itu adalah alat test kehamilan, ia menatap Rinjani yang terlihat harap-harap cemas menunggunya mengatakan apa hasilnya. Sekelibat bayangan saat ia menyelidiki kamar Rinjani dan Damar. Ia menemukan banyaknya testpack di dalam sebuah kotak yang tertata rapi. Kesemua test pack itu menunjukkan negatif.
"Bagaimana?"
Rinjani menatap Zeo dengan penuh harap, namun terselip kecemasan disana.
"Satu garis..."
Wajah Rinjani berubah menjadi sangat kecewa, matanya sudah mengembun hendak menangis.
Zeo menunjukkan hasilnya, memang ada satu garis, tepat di atas jarinya. Lalu jari itu berpindah. Mata rinjani berubah menjadi berbinar, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Zeo mengukir senyum di wajahnya, entah senyum apa itu.
"Jadi ini berhasil?"
Rinjani mengambil testpack itu dari tangan Zeo untuk melihat sendiri hasilnya. Memang ada dua garis disana. Rinjani tersenyum lebar, ia sangat bahagia sampai melompat-lompat kegirangan dan memeluk tubuh Zeo.
"Aku bahagia sekali Zeo. Akhirnya...." Serunya dengan masih memeluk tubuh Zeo. Air matanya mengalir karena haru. Setelah sekian lama menunggu dan berjuang, akhirnya ia hamil juga.
"EHEM." Dehem Pak Budi melihat Rinjani dan Zeo yang sedang berpelukan."Ada apa ini?"
Rinjani yang mendengar suara papa mertuanya melepas pelukannya dan menatap pak Budi dengan wajah yang sangat cerah dan bahagia.
__ADS_1
"Papa! Lihat ini! Aku hamil! Rinjani hamil pa." Serunya dengan girang.
"Benarkah?" Pak Budi yang berjalan mendekat mengambil testpack yang Rinjani tunjukkan. Ia pun tersenyum sangat lebar, ia sudah menantikan ini. Sangat ingin menimang cucu. Sudah tentu ia sangat bahagia.
"Syukurlah Rin, akhirnya...." Papa Budi memeluk tubuh menantunya yang juga membalas pelukan papa mertuanya. Senyum Rinjani tak pernah lepas dari wajah cantiknya.
"Kapan kamu mau mengatakannya pada Damar?" Tanya pak Budi melepas pelukannya.
"Nanti pa, biar aku yang memberitahunya, huumm?" Rinjani menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Baiklah."
###
Malam itu, Rinjani berdandan sangat cantik, mengenakan terusan berwarna hitam polkadot. Berlari kecil menyambut suaminya didepan pintu. Ia tersenyum lebar melihat bunga Lily yang Damar sodorkan.
"Terima kasih, mas." Rinjani mengecup ringan bibir Damar.
Seusai makan malam, semua berkumpul di ruang santai, namun tidak termasuk Zeo, ia sudah pergi sejak petang dan hingga malam ini belum kembali.
Papa dan mama duduk bersebelahan, tersenyum-senyum sambil melirik Rinjani dan Damar bergantian.
"Ada apa sih? Kok keknya pada bahagia banget?" Tanya Damar dengan alis mengernyit melihat atmosfer diruangan itu sangat berbeda. Rinjani yang duduk disebelahnya, dengan senyum yang lebar menunjukkan testpacknya.
"Sebenarnya, aku ingin memberikan kejutan buat mas, tapi hari ulang tahun mas Damar masih lama, dan hari pernikahan kita sudah lewat. Jadi..."
Mata Damar melebar, ia terkejut, melihat testpack yang Rinjani sodorkan.
"Apa ini Rin?"
"Aku hamil mas." Ucap Rinjani dengan binar bahagia diwajahnya, tak lupa senyum yang mengembang diwajah cantiknya.
"Apa?" Mata Damar makin melebar raut wajahnya sudah sangat jauh dari bahagia. Marah, dan kecewa. Tentu saja.
"Kamu nggak mungkin hamil, Rin."
Bersambung....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️
__ADS_1