
"Kamu nggak mungkin hamil."
"Mas?" Wajah bahagia Rinjani berubah menjadi sangat bingung dengan apa yang suaminya tuturkan. Bagaimana mungkin ia tak hamil jika test pack itu saja menunjukkan dua garis merah.
Mimik muka Damar yang semula pias, berubah menjadi merah karena murka. "Itu bukan milikku. Dengan siapa kau bermain Rin? Katakan! Siapa ayah dari anak ini?"
Rinjani yang masih belum mengerti semakin bingung, bagaimana bisa Damar melontarkan pertanyaan konyol semacam itu? Anak siapa? Tentu saja anak suaminya, Damar. Apa Damar lupa telah bercinta dengannya hingga memungkinkan untuk menghasilkan buah hati.
"Maksud mas apa?" Suara Rinjani bergetar, tubuhnya yang mulai lemas karena ucapan suami, membuatnya semakin tak bertenaga. Mata Damar mendelik pada Rinjani, ia berdiri dan mencengkram kuat lengan istrinya, yang meringis kesakitan. Dan terpaksa ikut berdiri.
"Mas...." Ringis Rinjani memegangi tangan Damar yang mencengkram lengannya.
"Anak siapa Rin?"Damar meninggikan suaranya.
"Dam! Pertanyaan macam apa itu? Rinjani istrimu, tentu saja itu anakmu!" Hardik pak Budi memelototi anaknya dengan suara tinggi.
"Nggak mungkin pa. Itu bukan anakku!"
"Damar!" Pak Budi meninggikan suaranya hingga beberapa oktaf.
"Ini anakmu, Mas." Tangis Rinjani dengan lelehan di pipinya dan bahu yang berguncang hebat. Ia sangat syok dan terkejut Damar justru menolaknya, padahal mereka sudah menunggu sekian lama untuk ini.
Damar tertawa menyeringai dengan mata yang sangat murka. "Itu tak mungkin anakku, sebab aku sudah operasi vasektomi."
"APA?"
Damar tertawa remeh, ini kesempatan nya untuk menceraikan Rinjani. Walau ia merasa sakit hati juga mengetahui Rinjani hamil padahal ia sudah vasektomi. Sudah jelas itu anak orang lain. Yang artinya, Rinjani sudah melakukan hubungan dengan pria lain.y
"Awalnya aku melakukan vasektomi hanya agar tak ada wanita yang tiba-tiba mengaku memilik anak denganku. Dan meminta menikah denganku. Tak ku sangka aku bahkan lupa sampai sekarang." Ucap Damar beralasan dengan remeh menatap Rinjani yang menangis tersedu. karena tak mungkin Damar mengaku melakukan vasektomi demi Nadia.
"Dengan begini, kita bisa tau seperti apa Rinjani. Itu bukan benihku. Entah milik siapa itu, aku tak bisa menerimanya." Tegas Damar melepas cengkeramannya di lengan sang istri yang masih menangis dan menatap Damar dengan pandangan pilu.
"Aku nggak bisa menerima ini pa, ma." Sambung Damar lagi menatap pak Budi dan Ratna secara bergantian."Disini, sangat sakit." lanjut Damar menunjuk dadanya.
"Mas, ini anakmu mas." Tangis Rinjani tersengal-sengal. Damar menoleh menatap Rinjani nyalang dan jijik.
"Katakan bayi siapa itu?"
"Mas Damar."
"Katakan Rinjani!?" Sentak Damar dengan mata melotot hampir keluar dari tempatnya.
"Ini milik mas Damar, benih mu mas, anakmu."
Damar tertawa, tawa mencemooh. "Bagaimana bisa seorang yang sudah vasektomi bisa memiliki anak? Pikir!" Damar menunjuk pelipisnya dengan telunjuk, gigi-giginya berderet tampak dari mulutnya yang terbuka karena geram.
"Aku nggak bisa menerima anak dari laki-laki lain." Damar memalingkan wajahnya dari Rinjani."Maaf pa, aku ceraikan Rinjani."
Semua mata membelalak, pak Budi, Rinjani bahkan Mama Ratna menatap Damar bersamaan. Rinjani menangis makin tersengal, lelehan dipipinya makin melebar dan deras.
"Rinjani aku menalak mu!"
__ADS_1
"DAMAR!!"
"Dam, Rinjani sedang hamil, kau tak bisa sembarangan menceraikannya." Tegur mama Ratna berdiri mendekat pada Rinjani dan mengelus punggung mantunya.
"Kamu jangan gegabah Dam." Ratna berganti menatap tajam Damar. Ia prihatin, harusnya ini adalah kabar gembira, tapi entah kenapa malah jadi petaka.
"Aku sudah bulat. Aku ceraikan Rinjani. Hatiku sakit. Dia sudah menghianati ku dengan hamil anak pria lain. Apa mama tidak sakit hati karenanya? Papa?" Damar menatap kedua orang tuanya dengan memohon namun masih ada kemarahan diwajahnya.
"Damar, kau tau konsekuensinya jika menceraikan Rinjani bukan?" Pak Budi menatap tajam pada Damar. Yang justru tertawa tak percaya dengan ucapan dari ayahnya sendiri.
"Jadi papa masih akan mencabut hak waris ku meski tau itu bukan anakku? Mesti tau anak papa ini telah di hianati oleh menantu kesayangan papa ini?"
"Maaf pa, aku sudah tak perduli lagi. Hatiku sakit, aku sudah di hianati oleh nya." Damar menunjuk wajah Rinjani yang masih terus mencucurkan air matanya. "Aku ceraikan kau Rinjani. Mulai hari ini kau haram ku sentuh."
"Damar! Sudah mama bilang, kau tak bisa menceraikan Rinjani karena dia sedang hamil." sentak mama Ratna menatap anaknya dengan pandangan kesal.
"Hamil bukan anakku ma!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Damar, tentu itu dari tangan pak Budi. Dia sudah sangat marah dengan sikap dan ucapan anaknya, meski begitu ia juga tak bisa menyalahkan Sikap Damar. Mungkin jika dia menjadi Damar pun, mungkin pak Budi akan merasakan sakit yang sama. Damar tertawa pahit. Menatap pilu papanya.
"Aku akan ceraikan dia setelah anaknya lahir. Selama itu, aku tak Sudi tinggal seatap dengannya. Aku keluar."
Damar mengambil langkah lebar-lebar, keluar dari rumah utama. Rinjani yang masih tak menginginkannya, mengejar Damar hingga didepan pintu.
"Mas, jangan pergi mas, jangan tinggalin Rinjani. Ini anakmu mas. Percayalah padaku." Mohon Rinjani menahan lengan Damar yang masih terus berjalan tanpa memperdulikan Istrinya. Ia menyentak kasar lengannya hingga tangan Rinjani terlepas dan jatuh terduduk kebelakang.
"Mas Damar! Ini anakmu mas! Kenapa kau menolaknya? Mas Damar!"
Damar tak perduli, ia terus melanjutkan langkahnya, memasuki mobil pribadinya dan pergi meninggalkan rumah utama. Rinjani berdiri dan mengejar sampai halaman depan sambil terus memanggil nama suaminya.
"Mas Damar!"
###
Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sejujurnya, ia memang marah, ia juga sakit hati, merasa dihianati oleh Rinjani. Damar memukul setirnya berulah kali dengan emosi.
"Bisa-bisanya Rinjani hamil saat aku sudah vasektomi. Siapa sebenarnya, pria yang sudah tidur dengannya sampai hamil begini? Sialan! Kenapa aku merasa tak rela? Kenapa aku merasa sangat dihianati seperti ini? Harusnya, Ini hal yang bagus. Harusnya papa membuka matanya, Rinjani hanyalah wanita jallang yang sok suci dan baik." Gumam Damar.
"Jika papa masih tetap mencabut hak waris ku, aku masih punya rencana B."
"Rin-ja-ni... Siapa sebenarnya yang sudah menghamili mu??" Geram Damar mencengkram kuat roda kemudi nya.
Mobil coklat milik Damar berhenti tepat dihalaman rumah yang ia beli untuk Nadia dan Nathan keluarga kecilnya. Ia keluar dari dalam mobil dengan masih dirundung kesal dan marah.
"Ada apa mas?" Nadia yang melihat wajah kesal Damar bertanya heran. Damar masih tak menjawab, ia asal masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Mas, Nadia ambilkan minum ya." Nadia berjalan ke dapur dan kembali dengan segelas air dingin. Ia angsurkan pada Damar yang langsung meneguknya sampai habis.
"Ada apa mas?" Tanya Nadia mengulang pertanyaan nya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Nathan mana?"
"Tidur mas."
Damar beberapa kali menyentaknya, mengatur emosinya hingga mulai menenang. Nadia masih setia menunggunya, mengusap lengan sang suami agar lebih tenang.
"Rinjani, hamil Nad."
"Apa?"
Nadia terlonjak kaget hingga berdiri dari duduknya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sangat,
"Bukankah, mas Damar sudah vasektomi?"
"Iya. Kamu juga yang nungguin mas kan waktu itu."
Nadia mengangguk setuju, tapi wajahnya masih sangat terkejut.
"Tapi, Rinjani hamil mas."
"Itulah..."
"Itu artinya, dia berselingkuh? Dia berhubungan dengan pria lain." Sambung Nadia matanya berubah jadi berbinar dan terselip semangat di setiap katanya, "Ini kesempatan kita mas."
"Ceraikan Rinjani mas."
Damar memandang sayu pada Nadia, "Sudah Nad. Mas sudah menceraikan dia. Tapi, tidak bisa karena dia lagi hamil. Jadi kita harus menunggu sampai bayi itu lahir. Kamu mau kan?"
Nadia tersenyum bahagia, ia mengangguk dengan cepat.
'Akhirnya, penantian ku terbayar.' Kata Nadia dalam hati.
"Selama itu, mas akan tinggal di sini."
Senyum Nadia, semakin mengembang.
______
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️