
Damar berlarian di koridor rumah sakit. Ia bergegas terbang ke Jakarta begitu mendengar bahwa papanya jatuh sakit. Tentu saja Damar khawtir.
Sesampainya dia di ruangan yang Ratna tunjuk, Damar langsung membuka pintu ruang VIP dengan sangat tak sabar.
"Maa..."
Ratna yang baru keluar dari kamar mandi sontak terkejut melihat anaknya tiba-tiba berseru.
"Ihh.. Damar kamu ini bikin kaget aja." Lontar Ratna menepuk udara.
"Maaf ma, bagaimana keadaan papa?"
Ratna memandang tubuh suaminya yang terbaring di brankar dengan beberapa selang di tubuhnya.
"Ya, seperti ini lah, dia bahkan belum sadar dari kemarin." Ucap Ratna prihatin.
"Bagaimana bisa terjadi ma?"
"Mama juga nggak tau, mama hanya mendengar papamu marah-marah di telpon lalu ia tiba-tiba ambruk." Jelas Ratna menceritakan kronologis kejadian nya.
Damar mengusap wajahnya kasar."Cobaan apalagi ini."
"Dam, apa yang sebenarnya terjadi? Apa perusahaan papa lagi nggak stabil?"
"Bukan nggak stabil lagi ma, tapi lebih ke...."
"Apa dam?"tanyaa Ratna dengan sangat penasaran.
"Kita bangkrut ma."
"Apa?" Ratna membelalakkan matanya, "bagaimana bisa? Perusahaan sebesar itu. Jangan main-main, Dam."
"Itulah kenyataannya ma.."
"Astaga... Apa yang harus mama lakukan?"
"Mama, sekarang yang terpenting mama mulai berhemat, seperti kata papa dulu. Kurangi belanjaan yang tidak perlu, kalau bisa malah hentikan saja."
"Dam,, masalahnya mama...."
"Apaa ma?" Tanya Damar dengan tatapan menyelidik.
"Mama ikut arisan yang cukup besar nominalnya."
"Apa?"
"Ya mau bagaimana lagi, itu arisan sudah jalan separuh, masih ada separuh lagi." Terang Ratna dengan wajah kasihan.
__ADS_1
Damar mengusap wajahnya kasar. "Nanti biar damar pikirkan."
"Dam, sebenarnya mama......"
.
.
"Apa? Bagaimana bisa mama melakukan hal sefatal itu?'
"Maafkan mama dam. Teman mama menawar kan fee yang cukup besar.... Tapi ternyata..... Maafkan mama dam. Kita harus bagaimana sekarang?" Tangis Ratna mengiba."Mama tidak tau jika teman mama itu penipu. Mama sudah mengajak beberapa orang ikut juga. ternyata dia malah nggak ada kabar sampai sekarang. Mereka pasti mengejar mama untuk ganti rugi.. huhuhu."
Damar tampak sangat frustasi dan menjambak rambutnya kasar.
###
"Ibu...."
"Iya Nad."
"Sampai kapan kita akan tinggal disini?"
Nadia termenung mendengar pertanyaan anaknya. Ia hanya diam saja.
"Kenapa? Nathan nggak betah tinggal disini?"
Nathan menggeleng. "Nggak ma. Tempat ini menyenangkan. Aku juga suka dengan paman baik itu. Tapi,, papa bagaimana? Apa dia juga boleh tinggal di sini?"
Setelah memastikan Nathan pulas, Nadia berjalan keluar dari kamar nya. Ia hanya berjalan dan melihat keadaan rumah yang sangat mewah dan luas itu. Hingga langkahnya terhenti oleh seorang pelayan yang menuntunnya untuk mengikuti.
Sesampainya Nadia di sebuah ruangan bernuansa hangat.
"Apa kau sudah memutuskan?" Tanya Haris tanpa melihat pada Nadia.
"Nathan anakku."
"Lalu?"
"Aku tidak akan menjualnya."
Haris tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak membelinya. Aku hanya menukarkan nya, dengan apa yang sangat kamu inginkan selama ini. Bukankah kamu juga sedang dalam masa sulit? Diceraikan suami yang hampir bangkrut. Kau juga tak memiliki pekerjaan.
Dengan gaya hidupmu yang seperti itu, aku yakin kau akan berakhir menjual diri lagi. Karena itu, sebelum itu terjadi, aku ingin menyelamatkan Nathan. Karena itu berikan Nathan padaku."
Nadia mengepalkan tangannya. Memang keadaan nya saat ini sedang sangat sulit. Ia tau Haris pasti sudah menyelidikinya dengan seksama. Sampai tau sedetail itu. Tapi, jika dia harus hidup jauh dari Nathan rasanya...
__ADS_1
"Aku akan mengirimmu keluar negri. Ketempat yang kamu inginkan. Bagaimana? Apa tawaranku menukar Nathan dengan rumah impian dan saham masih kurang bagimu? Aku bisa menambahkannya jika kau mau."
Nadia menelan ludahnya, tawaran yang Haris berikan tidak tanggung-tanggung. Tapi menukarnya dengan Nathan? Apa ia mau? Apa ia sanggup untuk meninggalkan dan tak pernah menemui anak semata wayangnya itu? Atau sanggupkan dia hidup miskin dengan mengabaikan tawaran Haris yang menggiurkan?
###
Bu Ratna mendorong pak Budi yang duduk di kursi roda dengan tubuh lemah dan sulit digerakkan. Pak Budi mengalami stroke. Akibat dari tekanan di perusahaannya.
"Gimana Dam, keadaan kantor?" Tanya Bu Ratna sembari mengupas jeruk, begitu melihat Damar menjatuhkan bobotnya di sofa.
"Makin sulit ma. Keknya Damar harus mengumumkan kebangkrutan perusahaan sebelum makin banyak kita kehilangan."
"Apa? Terus...."
"Mau gimana lagi ma, kita harus mengcover semua, gaji karyawan dan biaya operasional yang tidak sedikit kita juga harus menjual aset-aset kita untuk menutupi semuanya." Jelas Damar dengan lemas.
"A-apa? Menjual aset? Maksud kamu?"
"Ya menjual apa yang masih tersisa ma. Mungkin rumah ini juga."
"Nggak mau Dam, mama nggak mau miskin. Kalau kita jual semua, kita jadi miskin. Mama nggak mau." rengek mama Ratna mendekat pada Anaknya.
"Mau gimana lagi ma, kita dah hancur. Bahkan yang di Surabaya juga sudah tutup. Jika kita menjual semua, paling tidak kita masih punya satu yang bertahan ma."
"Mama nggak mau Dam..." Rengek Bu Ratna menangis tersedu. "Kenapa jadi begini? Rubian grup dulu sangat besar. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Huhuhu....."
Damar hanya menghela nafasnya. Ia juga menyesali nya, Rubian grub benar-benar tumbang, hanya tersisa perusahaan yang dia peruntukkan Nadia dan Nathan. Yang ia kelola diam-diam. Perusahaan NN.
"Bagaimana sekarang? Perusahaan itu atas nama Nadia. Aku sudah menceraikannya. Kenapa dulu aku tidak pakai namaku saja sebelum bercerai..." Sesal Damar bergumam."Ahh, sudahlah toh Nadia juga tak tau semua juga atas instruksi ku. Aku hanya menggunakan nama Nadia saja."
"Selesaikan dulu urusan Rubian grup baru urus NN."
Bersambung....
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️