
Flash back
Damar pulang lebih awal hari ini, karena papa Rudi meminta Damar untuk pulang lebih awal, itu artinya, ia pulang pada jam kerja usai. Yang berarti ia tak bisa menemui Nathan anak semata wayangnya. Dan kali ini terpaksa Damar pulang lebih awal, demi bisa menemui Nathan dan Nadia.
Dalam perjalanannya kerumah Nadia, Damar mampir membeli makanan kesukaan Nathan, juga mampir membeli bunga. Satu buket bunga Mawar untuk Nadia, dan satu buket bunga Lily untuk Rinjani.
Damar mengulas senyumnya, mengingat kembali malam dimana ia sangat merasakan lagi nikmatnya tubuh Rinjani yang sangat berbeda dengan Nadia. Dua buket bunga yang berbeda di kedua tangannya.
"Satu Nadia, dan satu Rinjani. Keduanya sama-sama indah dengan pesonanya."
Damar tersenyum kecut saat matanya terpantik pada bunga mawar milik Nadia. Ia merasa sangat bersalah pada istri pertama karena telah melakukan hubungan suami istri dengan Rinjani lagi, padahal ia sudah berjanji tidak akan melakukannya.
Damar lalu melajukan lagi kendaraannya ke rumah tujuan. Setibanya disana Damar disambut oleh pelukan kecil dari Nathan. Dan senyum di wajah cantik Nadia. Setelah berpelukan dengan Sang anak, Damar memeluk tubuh Nadia. Menghirup aroma parfum ditubuh wanita itu cukup lama.
"Mas kok tumben balik cepet?"
Nadia melepas pelukannya dan tersenyum semanis mungkin pada Damar.
"Hari ini papa nyuruh mas balik cepet Nad, takut aja ntar nggak sempet liat kalian."Lalu Damar menyerahkan buket bunga mawar.
"Kenapa mas memangnya?" sembari tersenyum menerima buket bunga kesukaannya.
"Papa ada tamu, dan mau bahas tentan perusahaan, itu sih yang aku dengar."
"Oohh, ayo mas makan dulu." Nadia menarik manja lengan suaminya.
"Enggak deh, mas mau mandi dulu boleh? Biar seger."
"Boleh mas, biar Nadia siapin."
Selagi Damar berada di kamar mandi, Nadia mendekati ranjang dimana kemeja Damar yang dia pakai tadi tergeletak. Dengan senyum liciknya, Nadia menyemprot kemeja bagian depan dengan parfum miliknya.
Nadia sudah sangat lelah terus sembunyi-sembunyi, ia ingin muncul kepermukaan. Dipandang sebagai istri Damar. Dan tentu saja gelar nyonya di keluarga Rudi Rubiandini. Diakui sebagai istri yang sah secara hukum dan agama. Tentu saja agar Nathan juga bisa mendapatkan haknya.
Flash back off.
______
"Pah!"
"Apa-apaan ini? Kenapa orang ini ada disini lagi?"
Mama Ratna dengan pandangan mata yang penuh amarah menatap Zeo menunjuk kasar pria itu.
"Ratna. Duduk."
"Nggak pa! Papa selalu begini! Nggak pernah menghargai mama. Apa sebegitu pentingnya wanita itu? Apa sebegitu pentingnya anak ini sampai papa tega menyakiti mama sedalam ini pa?"
Mama yang merasa ditipu berteriak frustasi. Rinjani merasa iba, pada mama mertuanya juga pada Zeo. Berada diantara mereka tidaklah mudah.
"Mama, duduklah." Pak Rudi meninggi kan suaranya menatap tajam papa Ratna yang masih marah dengan dada yang naik turun karena emosi dan air mata yang berlinang di wajahnya. Rinjani ikut berdiri, mengusap lengan dan punggung mama Ratna.
__ADS_1
"Sabar ma, kita duduk dulu."
Ratna menepis tangan Rinjani berganti menatap menantunya dengan nyalang.
"Kau.... Kamu pasti tau rencana papamu kan?"
"Ma...." Rinjani dengan nada lemas memohon.
"Biadab kalian semua." Ratna memandang Rinjani dan pak Budi serta Zeo secara bergantian dengan mata yang memerah.
"Ayo Dam! Kita pergi!"
Damar yang sedari tadi duduk diam dengan pandangan mata sedih berdiri menatap Rinjani.
"Mas kecewa pada mu Rin."
"Mas...." lirih Rinjani memohon.
Mama Ratna dan Damar mulai melangkah.
"Nggak ada seorangpun yang boleh meninggalkan tempat ini. Atau semua fasilitas dan saham kalian ku cabut." Tegas Pak Rudi dengan suara yang cukup tinggi.
"Pa!"
Zeo tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada seorangpun yang menyadarinya.
Pada akhirnya, semua makan malam dengan tenang. Tak ada suara kecuali denting sendok dan piring yang beradu.
"EHEM." Dehem pak Budi,"Inilah yang papa mau, semua keluarga papa berkumpul. Papa tau ini egois, tapi papa sangat berharap kalian bisa menerima satu sama lain."
"Dam, Zeo adikmu."
"Aku tidak akan pernah mengakuinya."
"Mama juga."
Rinjani menunduk, mendengar ucapan frontal dari suami dan mertuanya. Membuat Rinjani merasa kasihan pada Zeo. Rinjani melirik Zeo yang duduk dihadapannya. Namun pria itu terlihat biasa saja. Tanpa ekspresi, sangat dingin dan tidak perduli.
Sementara pak Budi yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba menguasai emosi yang mulai menjilat nya.
"Kalau begitu, papa nggak akan meminta pendapat kalian lagi. Sikap kalian ini sangat mengecewakan papa." Suara pak Budi terdengar sangat berusaha menguasai emosinya.
"Mulai malam ini, Zeo akan menjadi direktur di perusahaan Rubian, setara dengan jabatan Damar."
Baik Damar maupun Mama tersentak, serentak menoleh pada pak Budi.
"Pah!"
"Dan siapapun yang keluar dari rumah ini, tidak perlu kembali lagi, baik di rumah ini, ataupun di perusahaan. Termasuk kau Zeo."
Zeo tersenyum miring. Ia cukup geli dengan pernyataan dari papanya. Ia dipaksa tinggal, sementara papa pasti sangat tau, tanpa sokongan dari pak Budi pun dia sudah lebih dari mampu hidup diluar sana. Berbeda dengan Damar dan Ratna.
__ADS_1
______
Malam itu, Damar yang diliputi amarah, melampiaskan dengan bercinta kembali. Rinjani yang merasa permainan Damar kasar dan agresif hanya bisa menahan. Ia tau Damar pasti sangat marah dan terluka. Seusai permainan panas itu, Rinjani keluar dari kamarnya menuju balkon dengan piyama model kimono dengan motif kotak kuning dan bintang laut merah. Menghirup udara malam itu, mencoba menenangkan diri dan melupakan rasa sakit akibat serangan yang Damar lakukan.
"Kenapa berwajah begitu?"
Rinjani menoleh, di balkon samping tepatnya kamar Zeo, pria bule itu tersenyum simpul. Mata Zeo menangkap tanda kemerahan dan bekas gigitan di leher dan dagu Rinjani. Ia lalu mengalihkan pandangannya. Hatinya lagi-lagi merasakan sesak dan perih bagai ditusuk-tusuk ribuan pisau.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku kenapa?" Zeo berusaha tak menatap wajah Rinjani, ia mendongakkan kepalanya menatap ribuan bintang. Sakit rasanya, melihat Rinjani dengan noda merah menjijikan ciptaan kakaknya, Damar.
"Kau pasti terluka oleh ucapan mereka tadi."
Zeo mengulas senyum pahit.'Aku justru terluka dengan pemandangan menjijikan di tubuhmu.' batin Zeo.
"Aku tidak masalah dengan itu."
"Benarkah?"
'Jangan menatap kemari! Kau membuatku gugup.' pikir Zeo yang melihat dari ekor matanya, Rinjani yang berdiri menghadapnya. Menatap lekat tanpa kedipan. Meski begitu, Zeo sangat pandai menutupi. Ia bersikap sangat tidak perduli, mendongak menatap langit , walau jantungnya terus berdegup dengan kencang.
###
Hari berikutnya, mama Ratna yang pergi ke pasar belum kembali saat sarapan. Damar juga berangkat lebih awal, hanya tinggal Pak Budi, Zeo dan juga Rinjani. Pak Budi menghela nafas panjang nya melihat keadaan rumah nya yang begini.
Hari itu berlalu dengan cepat, sore hari Rinjani yang telah kembali dari kantor membersihkan diri. Dan menunggu Damar kembali. Karena walau bagaimanapun, suaminya itu pasti kembali. Namun hingga malam tiba. Tak ada siapapun yang pulang kerumah. Pak Budi, mama Ratna, Damar, bahkan Zeo pun tak kembali.
Rinjani yang menunggu di ruang utama menghela nafasnya, menatap jam dipergelangan tangannya. Pukul 9.30 malam. Sudah terlalu malam, Rinjani yang kelelahan menunggu akhirnya tertidur juga disofa tamu. Tak lama Zeo kembali, ia menatap Rinjani yang pulas di sofa mendekat dan berjongkok memandang wajah tidur wanita itu yang damai seperti bayi.
"Kenapa tidur disini? Apa kau menunggunya?" Zeo tersenyum pahit,"Dia tidak akan kembali Rinjani. Dia pulang kerumah istrinya. Untuk apa kamu menunggu sampai tertidur sini? Bodoh?"
Zeo menyelipkan tangannya diantara lutut Rinjani dan tangan kanannya di lengan wanita itu. Dengan hati-hati, Zeo mengangkat dan mengendong nya. Membawa Rinjani ke kamar sebelah. Kamar Rinjani dan Damar. Setelah membaringkan Rinjani diranjang. Zeo menyelimuti tubuh Rinjani. Netra nya menatap pada bibir penuh wanita yang terlelap itu. Wajahnya perlahan mendekat, semakin dekat semakin dekat, dan menempel pada bibir Rinjani. Zeo menyesapnya, perlahan lidahnya menyusup masuk kedalam rongga mulut Rinjani bermain-main dengan lembut.
Rinjani mengangkat tangannya dan memeluk leher Zeo, mata Zeo terbuka karena terkejut meski belum melepas panggutannya.
"Mas Damar....."
_____
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️