Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 48 • IPAR LAKNAT - Ijin menikah lagi •


__ADS_3

"Pria ini...."


Nadia melebarkan pupil matanya menatap sang detektif meminta penjelasan.


"Pria ini sering terlihat bersama anak laki-laki yang di gendongnya. Tapi aku tak menyelidiki siapa pria ini."


"Aku sudah tau siapa dia, kenapa dia bisa bersama dengan anak itu? Tak mungkin pria blasteran ini ayah dari Anak Rinjani. Tapi, wajah anak ini... Kenapa sangat mirip dengan mas Damar?"


Nadia menutup mulutnya dengan tangan, karena ia menyadari sesuatu dan reflek membuka mulutnya.


"Apa anak ini adalah anak biologis mas Damar?"


"Beberapa hari sebelumnya, pak Damar mendatangi lap. Ia mengambil hasil tes DNA. Tapi, saya tak bisa melihat hasilnya." Jelas sang detektif.


"Tidak mungkin... Apa sikap mas Damar akhir-akhir ini karena...."


"Jika saya melihat mimik wajah pak Damar sepertinya sangat bahagia dan jika saya boleh menyimpulkan, sepertinya hasil nya positif cocok. Karena setelah itu, pak Damar terus berusaha menemui wanita bernama Rinjani dan anak laki-laki itu."


Nadia menitikkan airmatanya. Ia kini mengerti kenapa Damar terus bersikap dingin padanya. Semua tak lepas dari Rinjani dan anaknya.


"Terima kasih, untuk saat ini cukup."


Setelah detektif itu pergi, Nadia memasuki mobil nya. Ia melempar map beserta foto-foto itu ke jog penumpang. Nadia mencengkram stir dengan kuat. Lalu ia berteriak dengan frustasi. Mengamuk di dalam mobil dan menangis.


"Teganya kau padaku mas Damar! Tega sekali kau pada Nathan... Kamu jahat! Jahat..." Teriak Nadia sembari menangis.


Setelah ia cukup tenang, Nadia membuang nafasnya, ia membawa mobilnya ke TK tempat Sam bersekolah. Menunggu disana, masih didalam mobil. Tak lama ia melihat Damar tersenyum dan memeluk Sam yang berlarian menghampiri pria yang beberapa hari ini terus bersikap dingin padanya.


Bulir bening menetes dari matanya. Melihat betapa sayangnya Damar pada Sam. Hatinya sangat sakit. Beberapa saat setelah Sam kembali masuk ke dalam kelasnya, tinggallah Damar seorang diri di depan pagar setinggi satu meter itu masih menatap kearah Sam menghilang.


Tak lama kemudian, Nadia melihat Damar dihampiri oleh beberapa orang pria berbadan tegap. Menyeret Damar. Mata Nadia membulat. Ia segera keluar dan mengikuti Damar beserta orang-orang itu. Disebuah gang sempit yang sepi Nadia melihat Damar tergeletak dengan luka memar dan darah dari mulutnya.


"Mas Damar "


Nadia segera mendekat. Ia memeluk damar yang terlihat terkejut melihat Nadia ada disana.


"Kamu...."


"Mas...." Tangis Nadia memeluk tubuh Damar yang penuh luka.


.


.

__ADS_1


"Apa yang terjadi mas?" Tanya Nadia sembari mengobati luka Damar di ruang tamu rumah mereka.


"Kamu mengikuti ku?"


Nadia memandang wajah Damar yang seperti menyelidik menatapnya.


"Nggak." Nadia membuang wajahnya dan melanjutkan mengobati luka Damar. Ia tak ingin Damar tau jika dia menyewa detektif untuk menyelidiki Damar suaminya.


"Siapa anak itu mas?" Tanya Nadia memberanikan diri."siapa anak yang mas kunjungi di TK itu?"


"Kenapa bertanya?"


"Mas Damar terlihat sangat sayang padanya..." Lirih Nadia mencoba menahan air mata nya agar tak jatuh.


"Dia anak mas."


Nadia mengangkat wajahnya, tak percaya damar akan secepat itu mengakuinya.


"Anak dari Rinjani?"


"Iya..." Damar merasa tak nyaman juga mengungkapkan nya. Mau bagaimana lagi, Nadia tetap harus tau cepat atau lambat.


Damar menatap inten Nadia yang terlihat mencoba tegar.


"Aku juga tidak tau Nad, semua ini sangat membingungkan, Sam memiliki wajah sepertiku, tak mungkin dia milik orang lain, karena itu, untuk meyakinkan diri, aku melakukan cek lap. Dan ternyata cocok." jelas Damar dengan mata berbinar. "Dia anakku Nad, darah dagingku..."


Nadia hanya terdiam , sakit rasanya, sesak rasanya dada ini mendengar apa yang Damar lontarkan.


"Nad...."lirih Damar dengan hati-hati.


Nadia mengangkat wajahnya, memandang Damar yang menatapnya intens.


"Aku.... Akan menikahi Rinjani..."


"Apa?"


Nadia semakin melebarkan matanya, apa yang Nadia takutkan akhirnya tersampaikan juga oleh Damar. Ia tau, Damar pastilah ingin memiliki anak itu juga. Yang nanti pasti akan berimbas padanya dan Nathan. Kasih sayang, bahkan mungkin semua harta milik Damar akan lebih berat pada Sam, anaknya dengan Rinjani.


"Mas.... " Nadia berdiri dan menatap suaminya tak mengerti, ia menggeleng pelan."Apa maksud mas mau nikahin Rinjani?"


"Mas udah mikirin ini baik-baik Nad. Aku ingin menebus semuanya, membawa Rinjani dan anak mas ke kehidupan mas, mendapatkan kasih sayang yang terlewat. Nad, ijinkan mas Nad."


Bulir bening membasahi pipi wanita cantik itu. Hatinya terasa perih bagai luka yang masih menganga lalu di beri perasan jeruk. Sakit!

__ADS_1


"Apa Rinjani setuju?"


Damar terdiam. Ia memang berniat untuk menikahi lagi Rinjani, sebelum Zeo melakukannya lebih dulu. Mengingat selama hampir lima tahun ini dan Rinjani masih menjanda. Mungkin saja dia masih menunggu, hanya Rinjani masih mrasa sakit hati. Hingga Damar merasa harus berjuang untuk meluluhkan nya. Begitu batin Damar dengan sangat yakin.


"Belum. Mas belum tanya, tapi hingga kini dia masih menjanda. Mungkin saja dia masih menunggu mas. Lagi pula...." Damar tak menyelesaikan kalimatnya, ia menatap mata Nadia yang terus mengeluarkan bulir bening dari matanya.


"Nad, mas minta...."


"Enggak mas." Tolak Nadia dengan suara bergetar hebat. Menampik tangan Damar."Dulu juga mas kek gini waktu mau nikahin Rinjani. Hiks, Setelah mas hanya milikku seorang, hiks, mas minta ijin lagi untuk menikahinya. Hiks hiks..."


"Mas masih punya hati nggak? Hiks hiks..."


"Nad..... Kamu jangan egois dong...." kata Damar kecewa dengan sikap Nadia yang menolak usulnya.


"Mas yang egois... Kamu masih punya kami mas? Apa mas sama sekali nggak memandang kami? Aku dan juga Nathan, apa cintamu hanya segitu hingga tega untuk menikah lagi? Hiks hiks hiks.."


"Nad.." lirih Damar dengan wajah memohon. Namun ia juga merasa bersalah. Ia masih mencintai Nadia, meski wanita itu telah menghianati dan menipunya. Tapi, ia juga mencintai Rinjani apalagi ia sudah melahirkan anak biologisnya. Damar ingin menebus semua kesalahannya.


"Cukup mas.... Nadia nggak sanggup..." Tangis Nadia berlari meninggalkan Damar yang termangu di disana.


###


"Tega kamu mas.." tangis Nadia sembari berlari, "tega kamu sama aku...."


Nadia berhenti dan menghapus air matanya begitu sudah cukup jauh dari Damar. "Aku nggak akan tinggal diam. Rinjani, aku harus menemuinya...." Gumam Nadia dengan wajah memerah menahan marah.


______


Bersambung...


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2