
Huuwweeekkk...
Huuwweeekkk....
Rinjani memuntahkan seluruh isi perutnya. Zeo yang khawatir menyusul istri nya ke toilet karena tak kunjung kembali ke meja tempat dimana mereka makan siang sehabis dari pemakaman.
Rinjani keluar dari toilet dengan muka yang kusut. Dengan sangat lesu mengusap bibirnya. Ia tertegun melihat sang suami sudah menunggu nya di depan toilet.
"Suamiku. Kenapa bisa ada di sini?"
"Aku khawatir, kamu nggak balik-balik." Cemas Zeo menyambut tubuh istrinya yang tiba-tiba lemas."kamu baik-baik aja? Ada yang nggak kena?"
"Enggak, sepertinya aku...." Rinjani menggantung kalimatnya, ia merasa cukup tak enak jika mengatakannya pada sang suami.
"Kenapa? Kalau kamu merasa nggak enak badan kita dokter dulu."
Rinjani memandang Zeo dengan pandangan mata yang entah apa.
"Aku.... Ingin keluar dari sini..." Lirihnya sangat pelan.
"Iya?" Zeo memandang wajah istrinya dahinya berkerut bingung."Bicaralah lebih keras agar aku dengar."
"Aku... Ingin keluar dari sini... Bau nya sangat tak enak..."
Zeo terdiam sejenak, mencoba mengerti apa yang istrinya rasakan. Sangat lucu tiba-tiba Rinjani ingin keluar hanya karena baunya tak enak.
"Sayang.... Kita baru aja pesan makanan loh, belum makan juga. Masak udah mau keluar lagi?"
Entah, karena perasaan tak enak sehabis muntah, atau karena memang hormonnya. Rinjani sudah ingin menangis saja, suami nya menolak. Sayang nya Zeo tidak cukup peka dan menuntun Rinjani sampai ke meja tempat Bu Ros dan Sam menunggu.
Di meja itu, sudah tersaji semua yang mereka pesan. Mata Rinjani membulat, rasanya perut mulai tak bisa dianjak berkompromi, rasa mual terus mendesak untuk keluar.
"Sayang?" Panggil Zeo yang udah menarik kan kursi untuknya. Namun, Rinjani memilih menutup mulut nya dan berlari lagi arah toilet.
"Sayang!" Panggil Zeo semakin cemas dan bingung dengan reaksi istrinya.
"Tuan muda."
Zeo yang hendak melangkah menghentikan langkahnya. Menatap Bu Ros yang tersenyum senang.
"Biar saya saja. Tolong temani Sam makan. Jatah untuk saya dan mbak Rinjani dibungkus kan. Kami tunggu di luar ya, tuan."
Walau ragu, Zeo mengangguk dan urung menyusul Rinjani. Ia lebih percaya pada Bu Ros yang sesama wanita dan mungkin hanya wanita saja yang paham.
"Mbak,"
Rinjani sudah tampak pucat membersihkan mulutnya dari sisa muntahan.
"Iya buk." Suara Rinjani terdengar lemah.
"Ayo, ibuk temani keluar restoran."
__ADS_1
Ada kelegaan di wajah Rinjani, ia senang ada orang yang mengerti keadaannya dan justru menawarkan untuk keluar dari restoran.
"Mister Zeo sama Sam meneruskan makanannya. Nanti nyusul kita kemari." Ucap Bu Ros begitu mereka udah berada di luar restoran lewat jalur samping. Hingga Rinjani tak perlu membaui aroma yang membuatnya merasa mual.
Rinjani menghirup dalam-dalam udara segar di luar restoran. Rasanya bebas dan nyaman walau ada polusi.
"Mbak Rinjani mau coba lihat-lihat penjual buah di sana?" Tunjuk Bu Ros kearah penjual buah yang berderet di pinggir jalan sebarang restoran itu. Rinjani mengangguk dengan senyum yang lebih segar.
"Ini baunya enak Bu, seger. Berapa sekilo?" Tanya Rinjani sembari menciumi buah leci madu hijau."Boleh icip nggak?"
"Boleh timbang dulu tapi ya, leci sekilo nya 65rb."
"Oke."
Ibu penjual menimbang buah yang Rinjani beli. Sementara Rinjani sudah memilih beberapa buah lain nya. Sampai tak terasa ia sudah membeli banyak buah. Bu Ros hanya tersenyum melihat banyaknya kantung buah yang sudah terbeli.
Rinjani asyik menghabiskan buah lecinya, lalu berganti memakan jambu dalhari. Lalu berganti lagi memakan mangga yang sudah sangat ranum itu.
"Bu Ros nggak makan?"
"Nggak mbak Rinjani. Liat mbak Rinjani makan seenak itu, saja, ibuk sudah senang." Jawab Bu Ros.
"Seger loh buk makan buah siang-siang gini."
"Iya, ibuk tau kok. Mau minum nggak mbak Rinjani? Biar ibuk belikan minum di warung itu." Bu Ros menunjuk warung kelontong dipinggir jalan.
"Oke, Rinjani ikut buk." Rinjani bergerak dari duduknya sambil mengambil kantung kresek Rempang buah yang di belinya.
"Begitukah?"
Bu Ros mengangguk.
Rinjani pun urung dan mempersilakan Bu Ros untuk beli setelah memberinya uang untuk belanja.
Tak lama setelah Bu Ros kembali dari membeli minuman, Zeo dan Sam datang menghampiri.
"Wah, beli apa nih?"
"Buah, hunny." Jawab Rinjani.
"Kamu laper? Kok nggak makan di dalam aja?" Tanya Zeo heran menunjuk restoran yang baru aja ia dan Sam keluar. Rinjani menggeleng.
"Bunda beli apa? Sam minta." Sam asal mengulak-ngalik kantong belanjaan Rinjani. Lalu ikut makan sisa leci yang masih ada.
###
Selama beberapa hari ini, Rinjani hanya malas-malasan dan bermanja-manja pada suaminya. Tentu itu hal yang sangat jarang Rinjani lakukan, membuat Zeo mengnautkan alisnya heran.
"Sayang, kamu kenapa sih?" Kekeh Zeo dengan tingkah Rinjani yang terus sibuk bergerak-gerak diatas tubuhnya yang rebahan di sofa sambil nonton tv.
"Kalau Sam lihat gimana?" Sambung Zeo mengangkat wajahnya mencari-cari anak sambungnya. Zeo kembali memandang istrinya yang masih tetap asyik bermanja-manja diatas tubuhnya. Ia mengulas senyum. Lalu memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Sekali-kali Sam lihat juga nggak masalah kali ya, lagi pula dia juga tidak ada." Gumam Zeo memejamkan matanya. Menikmati kemanjaan istrinya yang tak biasa.
"Daddy! Bunda!"
Saat sedang menikmatinya malah terdengar suara Sam yang langsung membuat Zeo gelagapan ia pikir Rinjani bakal bergegas pergi dan menjauh, atau memukul ringan tubuhnya mungkin. Tapi lagi-lagi Zeo di buat heran, Rinjani masih tetap bermanja-manja ditas tubuhnya.
"Bunda....." Sam mendekat.
"No... Ini Daddy bunda." Rinjani mengeratkan pelukannya pada Zeo.
"Daddy Sam juga. Bunda minggir."
"No. No. Sam yang minggir."
Melihat dua orang ibu dan anak memperebutkan nya membuat Zeo sedikit terheran. Rinjani tak pernah bersikap begini. Kenapa sekarang justru berskap manja dan tak mau kalah. Pada anak nya sendiri.
"Sudah! Jangan berebut Daddy." Ucap Zeo bangkit dan duduk dengan masih ada Rinjnai yang seolah enggan jauh darinya.
"Di kiri bunda, dan Sam di kanan. Sudah! Adil, semua dapat Daddy." Ucapnya sembari memeluk dua orang yang amat disayanginya.
"Mbak Rinjani, mister Zeo,"
Bu Ros datang dengan sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah piring dengan tutupnya.
"Ibu punya hadiah buat kalian. Ini sepesial." Ucapnya sembari meletakkan piring diatas meja.
"Apa ini Bu Ros?"
"Buka saja."
Rinjani membukanya. Ia tertegun. Di tengah piring itu ada sebuah tespack yang sangat ia kenal. Ia tau ia pernah membuangnya di tong sampah.
"Ini...." Zeo juga tertegun megambil alih testpack yang ada ditangan Rinjani.
"Ibu Ros hamil?"
Bu Ros menepuk jidad nya sendiri.
"Bukan ibu, tapi mbak Rinjani."
"Heeee???"
Bersambung ...
Berhubung udah end dan tinggal extra part beberapa bab aja. Yuk baca karya terbaru Othor enggak panjang juga.
Suami Meletoy , Istri Perkasa
__ADS_1