Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 44 • IPAR LAKNAT - Lamaran Zeo 2 •


__ADS_3

Rinjani tersenyum geli sekaligus haru.


"Apa ini?" Ucapnya menatap Bu Ros dalam. "Kenapa ibu juga ikut-ikutan?"


"Yah, mister Zeo menawari aku uang yang banyak jika berhasil membujukmu. Jadi yah, pilihlah aku untuk setuju. Walau kamu hanya dapat kue. Berbeda dengan dua yang sebelah sana." Ucap bu Ros dengan mimik muka di buat serius melirik Zeo dan Sam, walau terlihat jelas sedang menahan senyum.


Rinjani melirik Zeo dengan senyum nakal dan lirikan kesal. Lalu Rinjani memandang anaknya samudera.


"Bagaimana dengan mu? Apa yang dia janjikan padamu?"


"Daddy mau menemaniku tidur sepanjang malam bersama bunda."


"Itu bohong, jangan percaya."


Rinjani lalu beralih menatap Zeo. "Kunci apa ini?"


"Kunci hati ku."


Rinjani tersenyum geli lagi. "Kamu yang paling tidak modal. Lihat Bu Ros, dia membawa kue, lalu Sam membawa cincin. Kenapa kamu hanya membawa kunci hati?"


"Karena dari sinilah semua bermula dan bermuara Rinjani."


"Bunda cepatlah, kaki ku sudah sakit." Rengek Sam.


"Baiklah, anak tidak sabaran."


Rinjani mendekati Bu Ros.


"Rinjani mau Bu Ros yang dapat imbalan. Karena yang dua disebelah sana sangat menyebalkan." Tuturnya mengambil kue di tangan Bu Rosmala. Wajah wanita tua itu tampak sumringah.


"Jadi kamu menerima lamaranku?"


"Terpaksa, karena kamu sangat licik menggunakan anak kecil dan orang tua." Kekeh Rinjani dengan senyum yang lebar. Ia meletakkannya kue itu dimeja. Sementara Zeo berdiri, begitupun dengan Sam.


"Benarkah?" Suara Zeo.


Rinjani mengerling.


"Ini sungguh berhasil?" Sambung Zeo lagi.


Rinjani langsung memeluk pria yang masih terlihat tak percaya itu. Zeo pun berbalas memeluk wanita yang sudah ia nanti selama lima tahun lebih itu. Pelukan mereka merenggang, lalu perlahan wajah Zeo mendekat, semakin dekat terus dekat, lalu menggulum lembut bibir Rinjani.


Dengan sigap Bu Ros menutup mata Sam.


"Aaaaggggg....."


"Sam jangan mengintip, nanti bintitan. Diam." Bisik Bu Ros.


_______


"Terima kasih."


Zeo menoleh setelah membaringkan Sam di tempat tidurnya malam itu.


"Untuk apa?" Tanya Zeo sembari menyelimuti Sam hingga sebatas dada.


"Karena sudah menunggu selama ini hingga hatiku benar-benar terbuka."

__ADS_1


Zeo mengulas senyum, berbalik dan memeluk pinggang Rinjani.


"Aku yang harusnya berterima kasih, karena sudah menerimaku. Aku tau ini sulit bagimu, setelah dihianati sedalam itu."


Rinjani menatap dalam mata Zeo. "Apa kamu akan menghianatiku juga nanti?"


"Akan aku buktikan nanti. Karena laki-laki itu, berjanji dan menepatinya." Ucap Zeo memeluk Rinjani lebih erat. "Seorang pria selalu memegang kata-katanya. Aku mencintaimu, dan aku tak akan menghianatiku apapun yang terjadi."


Zeo merenggangkan pelukannya. Ia menatap manik mata Rinjani. Tangan Zeo mengusap lembut pipi Rinjani yang halus dan kenyal.


"Apa yang membuatmu menerimaku sekarang?"tanya Zeo masih penasaran, menatap Rinjani dengan sayang.


"Uummm... Beberapa hari yang lalu, Bu Ros pernah bilang, sudah saatnya aku melihat masa depan. Dan tidak terpaku pada rasa sakit di masa lalu. Dan ku pikir itu benar juga."kata Rinjani. "Dan... Sam, juga butuh sosok ayah."


Wajah Zeo mendekat perlahan, mengecup ringan bibir Rinjani.


"Kamu.... Sudah jadi sosok ayah untuk nya selama ini... Kupikir....."


Zeo mengecup lagi bibir Rinjani, hingga beberapa kali harus menjeda ucapannya.


"Kupikir...."


Tangan Zeo berpindah dari pipi bergeser kebelakang kepala Rinjani, dan memperdalam ciuman.


###


Ke esokan harinya, Damar sedang meting di sebuah kafe yang mana tempat itu dekat dengan sebuah museum. Saat sedang berjalan dengan kliennya Damar melihat sekumpulan anak TK. Damar cukup mengenali seragam anak-anak TK itu.


Netranya langsung berkeliling menyapu setiap sudut mencari sesosok bocah yang sangat ia rindui. Siapa lagi kalau bukan Samudra. Anak kandungnya yang lahir dari rahim Rinjani.


Damar segera pamit pada kliennya, ia sangat ingin mendekat pada putranya itu.


"Sam!" Panggil Damar begitu jarak mereka cukup dekat.


"Om?" Seru Sam begitu menoleh dan melihat Damar.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Damar berjalan mendekat dan menyamakan tinggi.


"Cuma main-main sama teman dan Bu guru."


"Apa bundamu ikut...."


Sam menggeleng, ada kelegaan di hati Damar. Ia lalu memeluk tubuh Sam.


"Om?"


"Om kangen padamu Sam....." Lirih Damar dengan haru.


"EHEMM...."


Suara deheman dibelakangnya membuat Damar terkaget dan menoleh setelah melepaskan pelukannya.


"Daddy...." Seru Sam dengan mata berbinar, langsung berlari dan berhambur ke pelukan Zeo. Damar menatap pria bule itu dengan tatapan tidak terima.


"Apa pesan bunda kemarin?" Tanya Zeo sembari menggendong Sam dan melirik remeh Damar.


"Jangan bicara pada orang asing."

__ADS_1


"Benar, ingat janjimu sebagai laki-laki." Balas Zeo dengan lembut, namun menatap tajam pada Damar lalu membawa Sam menjauh. Sementara Damar memandang Zeo dengan marah tanpa bisa melakukan apapun.


"Dia lagi, dia lagi. Kenapa dia terus-menerus mengganggu hidupku?" Gumam Damar geram."Jika begini aku tak akan bisa dekat dengan Sam. Anak kandungku sendiri. Apa yang harus kulakukan?"


Beberapa saat kemudian, Damar sudah berkendara di jalan raya, ia memukul stir mobilnya dan merasa sangat marah.


"Harusnya, akulah yang dipanggil Daddy oleh Sam bukan nya Zeo. Dan harusnya, aku jugalah yang menggendong Samudra. Mata kagum itu juga harusnya Sam tujukan padaku, bukan pada pria brengsek itu. Aaaarrrgg!"


Damar terus meruntuk dan marah. Damar terdiam sesaat otaknya terus berpikir.


"Rinjani, aku harus bertemu dengannya. Samudra bilang Daddy nya tidak tinggal dengannya. Itu artinya, mereka belum menikah. Tapi berani sekali dia....."


Damar menggeram lagi. Ia memukul stirnya dengan marah. Damar menghentikan kendaraannya di parkiran resto Samudra. Lalu memasuki bangunan yang bertema semi outdoor itu. Damar berhenti di depan meja kasir. Lalu bertanya pada karyawan yang berjaga.


"UMM.. Apa Rinjani ada?"


"Ibu Rinjani?"


"Iya,"


"Hari ini belum datang."


"Jam berapa biasanya dia datang?"


"Tidak pasti bapak, karena Bu Rinjani biasanya masih mengontrol beberapa outlet yang lainnya."


"Oohh, begitu..." Ucap Damar dengan nada kecewa.


"MMM.. apa aku bisa meminta nomor hpnya?"


"Maaf pak, itu bersifat pribadi. Kami juga tidak memiliki kewenangan."


"Oohh, begitu ya?" Nada bicara Damar kembali kecewa.


"Lalu, jika aku ingin melakukan kerjasama dengan resto ini bagaimana?" Tanya Damar tak ingin menyerah."Saya sedang mencari rekanan untuk catering di perusahaan saya."


"Bisa menghubungi tim management kami pak." Sang karyawan menunjukan brosur yang tertumpuk di atas meja.


Damar mengambil brosur itu mengamati dan melihat ada nomor yang tertera disana.


"Apa ini nomor Rinjani?" Tanya Damar menatap sang karyawan sembari menunjuk sebuah nomor yang tercetak disana.


"Itu, nomor kantor kami. Silahkan menghubungi disana jika ingin melakukan pemesanan dan lain sebagainya."


"Baiklah kalau begitu. Permisi." Pamit Damar dengan membawa brosur itu ditangannya. Damar kembali kedalam mobilnya.


"Percuma bertanya pada mereka. Satu-satunya petunjuk hanya ini." Gumam Damar sambil mengoyangkan brosur ditangannya.


Tanpa sengaja, Damar melihat Rinjani baru saja keluar dari sebuah mobil berwarna putih.


"Ternyata kita masih berjodoh." Gumam Damar dengan senyum senang. Ia menyusul keluar dan masuk ke dalam bangunan itu. Menatap punggung Rinjani dan menarik lengannya, hingga wanita cantik itu berbalik.


Raut wajah Rinjani terlihat sangat terkejut, lalu juga marah mengetahui Damar ada di sana.


"Apa yang kau lakukan disini?" Sentak Rinjani menarik tangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2