
Disebuah sekolah SD, Harris memarkirkan mobilnya cukup lama. Ia mengeluarkan sigaret dan menjepitnya dengan mulutnya. Haris menyalakan mancis, lalu mendekatkannya pada sigaret, hingga bara kemerahan tampak tercipta disana. Harris melempar mancisnya yang telah di dasbor. Menyembulkan asap putih dari mulutnya. Mata Harris masih terpaku pada gerbang sekolah SD yang berada beberapa meter dari nya memarkirkan kendaraan. Yang mana di dalamnya Nathan sedang bermain dengan beberapa temannya.
###
Seusai pulang kerja, Damar menyempatkan lagi melihat ke resto Samudra. Tempat itu masih terlihat sepi. Ia merasa cukup heran. Karena ini sudah hari ketiga. Namun, resto itu masih tutup. Saat ia menanyakan pada petugas yang melayani catering di perusahaannya, ia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Pasalnya, mereka hanya magang untuk tiga hari.
"Ada apa ini? Kenapa masih tutup? Kamu kemana Rinjani? Mas rindu, pada Sam juga. Aku tak melihatnya beberapa hari ini. Dia juga tak masuk sekolah." Gumam Damar merasa khawatir.
Damar membawa mobilnya kembali kerumah. Di rumah, Damar disambut oleh wajah sendu Nadia. Damar menghela nafas nya.
"Kenapa lagi dia..." Batinnya saat Nadia mencium tangannya dan membawa tas kerja yang Damar bawa.
"Mas, sudah Nadia siapkan air mandi dan kopi."
Damar melihat sekeliling, ia tak melihat Nathan, ia lalu berganti memandang Nadia.
"Dimana Nathan?"
"Hari ini menginap di rumah temannya mas."
Damar hanya manggut-manggut.
Setelah makan malam, Damar menghabiskan waktunya di kamar tidur. Diatas pembaringan, Damar kembali stalking akun media sosial Rinjani, dengan akun fake tentunya. Namun ia sedikit kecewa tak ada aktifitas berarti disana. Hanya ada foto Sam yang sedang bermain PS dengan seseorang pria bertubuh atletis. Mereka membelakangi kamera sehingga hanya tampak punggungnya saja.
Damar tersenyum kecut.
"Siapa pria ini? Apa dia calon Rinjani?" Gumam Damar terus mengamati tubuh pria itu."Tidak mungkin.. Zeo? Selama ini dia terus mengancam ku, aku pun tak bisa berbuat banyak karena dia membawa banyak bukti yang akan berbalik menyerang ku. Bagaimana ini? Jika seperti ini terus aku tak akan bisa mendapatkan Rinjani lagi." Lanjutnya bergumam.
Damar menatap lagi foto Rinjani dan Sam.
"Sayang ku.... Kapan kita bisa bersatu?"
Ceklek... (Suara pintu kamar dibuka)
Gegas Damar menekan tombol keluar dari aplikasi itu. Dan meletakan hpnya diatas nakas. Nadia menatapnya dan berjalan mendekat. Istrinya itu langsung membaringkan tubuhnya di sisi Damar tanpa bicara. Ia juga memunggungi Damar. Hatinya masih merasa sakit atas permintaan dan perlakuan Damar. Apa lagi dia kini dengan terang-terangan mengatakan mencintai Rinjani dan ingin kembali pada wanita itu.
Damar hanya menatap Nadia. Ia teringat dengan Rinjani, foto-foto Rinjani yang tersenyum pada kamera terus berseliweran dikepalanya. Damar mendekati Nadia. Ia memeluk istrinya itu dari belakang.
"Akan ku anggap kamu Rinjani...." Pikir Damar memeluk erat Nadia.
Tangan Damar mulai meraba dan membuka satu persatu kancing baju Nadia. Nadia hanya terdiam. Ia sangat hapal bagaimana prianya itu jika ingin mengajak bercinta. Walau masih merasa kesal, tapi dia juga butuh nafkah batin.
"Mas....."
Nadia membalikkan badannya menyambut pelukan hangat dari suaminya. Tanpa tau, apa yang ada didalam benak Damar.
###
Malam itu, dibelahan bumi bagian lain, Rinjani yang lelah menjatuhkan bobotnya di sofa ruang tengah. Ia sangat lelah, padahal mereka tak mengadakan pesta hanya syukuran. Itupun sudah sehari yang lalu. Mungkin karena Rinjani juga sedang mengalami masa siklusnya, hingga ia merasa lemas walau tak banyak melakukan kegiatan.
"Bunda capek ya?"
__ADS_1
Rinjani menoleh, melihat Sam yang kini duduk disampingnya, menatap dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Jari kecilnya meremas-remaass lengan Rinjani. Bocah itu bermaksud memijit bundanya yang kelelahan. Namun, karena tangannya yang kecil jadi terasa sepeti remasan yang menggelitik.
"Terima kasih sayang. Bunda capek banget. Yang sini juga." Pinta Rinjani menepuk bahunya sendiri, dengan mimik yang dibuat kasihan.
"Okey..."
Sam berpindah memijit bahu bundanya.
"Iya sayang, di situ enak." Ucap Rinjani merasa kelopak matanya berat. Hingga memejamkan matanya menikmati pijitan tangan kecil Sam.
Tak lama ia merasakan pijitan yang lebih kuat di pundaknya. Juga tangan yang lebih lebar. Rinjani tersenyum mungkin itu tangan hangat suaminya.
"Iya benar, di leher juga sedikit pegal." Gumamnya.
"Bunda senang? Sekarang lebih enakan?" Suara Sam dengan sedikit kekehan. Tangan kecilnya berpindah memijit lengan atas sang bunda.
"Heemmmm...."
"Bunda buka matanya, bundaa...." Rengek manja Sam sembari memijit lengan Rinjani. Rinjani hanya terkekeh-kekeh.
"Daddy, bunda nggak mau buka mata...." Bisik Sam namun masih dapat Rinjani dengar.
Di belakang terdengar suara bisik-bisik yang entah apa. Lalu pijitan tangan itu tak Rinjani rasakan lagi. Alis Rinjani bertaut,
"Sam? Daddy Z?"
Tak ada sahutan, lalu ia membuka matanya. Kosong, tak ada seorangpun terlihat dalam pandangannya. Hanya dua gelas jus dan satu air putih diatas meja.
"Sam?"
"Z?"
Rinjani mulai beranjak dari duduknya, namun ia sudah dikagetkan oleh dua orang pria di belakang sofa.
"Daaaa......"
Rinjani terlonjak kaget, menarik sudut bibirnya yang melebar. Lalu memukul kedua pria beda generasi itu dengan bantal sofa.
"Nakal!"
"Sam, lari..." seru Zeo sambil mengangkat bobot tubuh anak sambungnya.
"Kyaa.....hahaha.... Bunda...."
Malam itu, mereka bertiga berakhir main kejar-kejaran. Niat untuk melepas lelah Rinjani pun sirna oleh kedua pria kesayangannya itu.
______
"Rin....."
Rinjani menoleh, melihat Damar sudah berdiri dihalaman resto Samudra, saat ia hendak memasuki mobilnya untuk menjemput Sam di sekolah.
__ADS_1
"Mas Damar."
Damar tersenyum lebar pada mantan istrinya itu yang semakin cantik saja sejak beberapa hari tak bertemu.
"Mau apa lagi kamu mas?"
"Aku... Menjemput Sam.."
Mata Rinjani membulat, saat dilihatnya Sam mengeluarkan kepalanya keluar dari jendala jog belakang.
"Bunda."
"Sam..." Rinjani menatap Damar dengan mata marahnya."kau..."
Rinjani bergegas melewati damar, dan membuka pintu untuk Sam. Rinjani mengangkat tubuh Sam agar keluar.
"Sam, masuk kedalam. Tunggu di kantor bunda."
"Tapi bunda..."
"Cepat!"
Mendengar bundanya meninggikan suara, Sam pun langsung berlari masuk kedalam resto. Tinggallah Rinjani dan Damar disana.
"Rin, kamu apa-apaan sih? Kenapa membentak Sam seperti itu. Apa salahnya." Protes Damar dengan jengkel melihat Rinjani sekeras itu pada Sam putranya.
Rinjani tertawa remeh.
"Lain kali jika kau berani menjemput Sam lagi, akan kulaporkan sebagai kasus penculikan." Geram Rinjani menatap nyalang Damar.
"Rin..." Terlihat jelas Damar mencoba bersabar dengan sikap Rinjani yang terus dingin. Ia harus melunak agar biasa kembali dan bersatu dengan keluarga yang sempat ia tinggalkan itu."Samudra anakku...."
_______
Bersambung....
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️