
Rinjani menggigit bibir bagian dalamnya. Beberapa kali ia meremas tangannya sendiri, berpindah dari satu tempat duduk ke tempat yang lain. Mengusap bantal yang memang sudah halus dan rapi. Rasanya, dulu tak segugup ini. Mungkinkah karena ia saat ini menunggu suaminya kembali? Dan sudah mengenakan linggeri yang Zeo pilihkan di balik piyama model kimono yang melekat ditubuhnya.
Rinjani mengecek hp nya, memastikan jika suaminya itu benar-benar sedang dalam perjalanan pulang. Detik demi detik, rasanya lama sekali, Rinjani menghela nafasnya.
"Apakah ini sudah benar? Kenapa rasanya gugup sekali, padahal ini bukan pertama kalinya melakukan ini dengannya." Rinjani berdiri dan mondar-mandir macam setrika dengan masih menggenggam hp ditangannya.
Rinjani teringat pada pria yang mencetuskan ide memakai linggeri itu. Ia lalu melakukan panggilan vidio pada Zeo.
"Aku gugup sekali. Bagaimana kalau dia tak suka? Bagaimana kalau aku diabaikan? Bagaimana kalau...."
["Heemm,, biar kulihat penampilanmu."]
Rinjani secara reflek menjauhkan hpnya. Tampak dilayar Rinjani separuh badan sebatas perutnya. Zeo mengernyit.
["Kau pakai apa itu? Bukankah sudah kubilang pakai linggeri?"]
"Iya, aku memang memakainya."
["Mana? Biar kulihat."]
"Apa? Kenapa aku harus menunjukan nya padamu?"
["Kau bilang sangat gugup dan punya banyak ketakutan. Karena itu, biar kulihat, agar aku bisa menilainya."]
"Dasar mesum! Sudah, aku matikan saja. Percuma bicara padamu." Wajah Rinjani cemberut dan ditekuk-tekuk sebal.
["Ha-ha-ha, iya iya, maaf. Makanya, pede dong! Kamu cantik, tubuhmu juga bagus. Jika disuguhi hal seperti itu, pasti tergoda, terlebih kamu istri sahnya."]
Wajah Rinjani bersemu merah.
["EHEM, sekarang, busungkan dada mu. Katakan kamu bisa. Kamu cantik. Kamu seksi. Kalian akan bercinta malam ini."]
Rinjani menegakkan punggungnya, "Aku cantik, aku seksi, kami akan bercinta malam ini."
["Benar."] Zeo terlihat tersenyum pahit dengan pandangan yang sulit diartikan.["Jika kamu merasa gugup selalu tarik nafas dalam dan hembuskan. Itu akan membantu."]
Rinjani mengangguk patuh,
["Aku, masih ada kencan sendiri malam ini. Jadi jangan ganggu aku."]
"Baiklah. Semoga kau juga sukses dengan kencan mu."
["Fighting!"]
Rinjani menutup sambungan telponnya. Ia menarik nafas dalam lalu hembuskan begitu berulang kali, sampai rasa gugupnya hilang.
__ADS_1
Diwaktu yang bersamaan, handel pintu bergerak kebawah seolah seseorang tengah menekannya siap untuk membuka pintu. Jantung Rinjani berdegup kencang, menanti seseorang dibalik pintu itu. Siapa lagi jika bukan Damar.
###
Dilain sisi,
Tangan Zeo terkulai kebawah dengan masih menggenggam hp nya. Zeo menutup matanya, menelan ludah yang mencekam tenggorokannya dengan sangat sakit. Ia lalu membuka matanya, mengambil campange dan menuang pada gelas. Ia menenggaknya sampai habis tak bersisa dalam sekali teguk.
Tanpa ia sadari, air matanya mengalir keluar. Ia tertawa getir. Meremas dadanya yang sangat sesak, kenapa ia harus merasa sesakit ini?
"Terlalu banyak debu disini." Gumamnya mendongakkan kepalanya keatas, dengan mata memerah dan beberapa kali mengerjap.
Zeo mengangkat botol campange nya hendak menuangkan ke dalam gelas, namun urung dan meminumnya langsung dari botol.
"Sepertinya, aku butuh lebih banyak campange."
Zeo berjalan keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil lebih banyak minuman keras.
###
Rinjani menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit lelah, ia tersenyum dengan senyum terbaiknya.
"Mas..."
Damar tertegun, menatap Rinjani yang sedikit berbeda, memakai piyama kimono sebatas atas pahanya, berwarna Pink soft, sangat selaras dengan make up tipis di wajahnya. Dan kulitnya yang putih.
"Aku sudah menyiapkan air mandi hangat. Mandilah dulu."
Damar tersenyum kecil. Menyerahkan semua bawaannya pada Rinjani yang menengadahkan tangan mengisyaratkan meminta bawaan suaminya itu. Lalu Rinjani meletakan semua itu di meja tak jauh darinya.
Rinjani juga membantu Damar melepas jasnya, lalu membuka kancing kemejanya. Damar menatap wajah cantik istrinya, hari ini entah kenapa, riasan Rinjani yang sederhana dan tipis namun sangat memikat pandangan matanya, hingga dia terus menatap wajah ayu istrinya itu.
Rinjani berbalik menatap mata Damar dengan lembut, perlahan kakinya berjinjit, menutup mata dan mendekatkan wajahnya pada wajah Damar yang tak melepas pandangan matanya dari bibir berwarna nude milik istrinya itu.
Hingga kedua benda kenyal itu menyatu dan saling melahap.
Rinjani melepas penutup lingerie nya, lalu mengalungkan tangannya memeluk leher Damar. Kedua tangan Damar meraih pinggang Rinjani, memeluk istrinya dengan erat, tanpa melepas panggutannya.
###
Zeo menatap keluar jendela apartemennya, melihat lampu-lampu yang menyala dan bergerak dibawah kakinya. Ia menenggak lagi campange nya, pandangan matanya menerawang jauh, namun terselip kepiluan disana. Hatinya serasa sakit bagai dirajam sembilu. Dadanya sangat sesak seolah ia telah kehabisan oksigen.
"What's going on, Zeo?" ("Ada apa denganmu, Zeo?")
"Kenapa kamu tak rela? Kenapa kamu merasa sakit? Dia melakukan itu dengan suaminya."
__ADS_1
"Apa kau tak lihat wajah bahagianya? Kenapa kau justru merasa sakit? Kenapa Zeo?"
Zeo terus bergumam pada dirinya sendiri dengan pandangan mata yang sendu.
###
Kembali ke Rinjani dan Damar. Kedua insan itu mengambil nafas karena terlalu lama menyatukan bibir. Senyum merekah sempurna di wajah Rinjani, setelah sekian lama akhirnya ia bisa memadu kasih dengan suaminya lagi. Merasakan lagi bibir Damar yang ia rindui.
Damar menatap tubuh Rinjani yang memakai lingerie yang Zeo pilih. Mata Damar menggantung, penampilan menggoda Rinjani membangkitkan gairah pria dewasa yang ia miliki. Damar bersenandung dengan diselipi senyum diwajah tampannya.
🎶"Kau cantik hari ini..."🎶
🎶"Dan aku suka..."🎶
🎶"Kau lain sekali..."🎶
🎶"Dan aku suka..."🎶
Rinjani tersenyum melebar, memeluk lagi tubuh suaminya yang masih bersenandung. Kembali menyatukan bibir mereka.
Wik wik wok wok.. udah sensor aja. 😤😂
###
Zeo membuka matanya yang silau oleh terpaan cahaya yang menyilaukan. Suara dering hp nya terus menggema di ruangan itu. Kepala pria bule itu, sangat pening, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya, mencoba sadar kembali.
Mungkin karena terlalu banyak minum semalam, terbukti ada beberapa botol di meja tepat di samping kepalanya tergeletak tadi. Zeo menyipitkan mata dan memindai ruangan dimana ia terbangun. Rupanya, ia tertidur setelah tak sanggup lagi minum malam itu.
Suara dering hp nya masih berbunyi nyaring. Dengan malas ia mengambil gawai nya, yang terletak diatas meja. Netra Zeo melekat pada layar datar yang menyala di genggaman nya.
_____
Heemm,, siapa yang menelpon yahh??🤔
bersambung....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️