
"Daddy Z.....!" Seru Sam melihat Zeo baru saja keluar dari dalam mobil yang ia parkir di halaman rumah Rinjani. Bocah berusia lima tahun itu langsung berhambur memeluk tubuh Zeo.
"Heeyy.... Jagoan Daddy, nggak nakal hari ini kan?" Zeo membalas pelukan Sam mengangkat tubuhnya dan mengayun sembari berputar.
"No, Daddy. Tapi Bunda dari tadi nangis terus."lontar Sam dengan mimik muka sedih.
Zeo tertegun, ia menurunkan Sam dari gendongannya. Menatap penuh tanya pada Sam."Why?"
Sam hanya menggeleng dengan raut muka cemberut. Zeo memicingkan sebelah matanya sangsi pada pengakuan Sam.
"Kamu ya yang bikin Bunda nangis? Hayoo...?"
"No, Daddy. Bunda tadi jemput Sam, terus narik tangan Sam sampai Sam mau jatuh. Terus Sam bilang, jangan tarik-tarik bunda. Bunda malah nangis." Jelas Sam dengan wajah polosnya.
"Benarkah?"
"Huuummm... I swear." Sam mengangkat dua jarinya keatas membentuk V.
"Kenapa bunda narik tangan Sam?"
"I don't know. Tadi ada om yang hpnya jatuh, terus Sam kembalikan pada Om itu. Dan dia tanya jalan sama Sam. Trs, Om itu bicara sama bunda. Bunda sepertinya marah pada Om itu. Terus tangan Sam di tarik-tarik gini Dad, jadi sakit dan mau jatuh. Tapi bunda malah nangis." Tutur Sam sambil memperagakan kejadian dia hampir jatuh tadi.
Mendengar penuturan Sam, Zeo langsung teringat pada Damar. Mungkinkah Rinjani bertemu dengan Damar? Mimik muka Zeo berubah jadi sedih dan sendu. Akan tetapi ia paksakan tersenyum juga demi Sam.
"Sekarang, dimana bunda?"
"Di dapur."
Zeo mengulas senyum mengusap kepala Sam.
"Kamu sedang apa tadi?"
"Menggambar."
"Oh ya? Biar Daddy lihat. Mana?" Zeo menuntun Sam masuk ke dalam rumah. Sam berlarian mendahului, ia lalu duduk ditempat dia menggambar, ada banyak pewarna yang berserakan disana dan gambar bunga dan pepohonan.
"Almost done, Dad."
"Okey, tunjukan pada Daddy kalau sudah selesai ya. Daddy mau lihat bunda dulu."
"Okey."
Zeo berjalan menuju dapur, disana ia melihat Rinjani yang sedang memotong lobak Oren. Namun ia seperti kehilangan fokus, Rinjani justru mengiris jarinya sendiri.
"Aauuw..."
Zeo mendekat dan mengambil jari Rinjani yang berdarah Karen teriris. Ia masukan kedalam mulutnya.
"Makanya kalau masak jangan ngelamun." Zeo memandang lekat pada wajah sembab Rinjani."Kenapa berwajah begitu? Apa yang terjadi?"
Rinjani mengulas senyum kecil yang tak sampai ke matanya.
"Sam bilang seharian ini kamu menangis."
Rinjani masih bungkam, ia menarik tangannya hendak melanjutkan memotong Wortel.
"Bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?"
Rinjani melirik Zeo yang masih menumbu netranya di wajah Rinjani. Wanita itu lalu menundukkan kepalanya. Dan melanjutkan memotong wortel.
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana."
Hening sesaat. Namun pandangan mata Zeo sedikitpun tak lepas dari wajah Rinjani.
"Apa kau bertemu dengan Damar?"
Seketika Rinjani mengangkat kepalanya, menatap Zeo.
"Apa dia menemui Sam tadi."
__ADS_1
Air mata Rinjani langsung menetes tanpa aba-aba. Wanita itu sesenggukan. Dari sana Zeo sudah bisa membaca Apa yang sudah terjadi.
"Dia sedang berbicara dengan Sam saat aku sampai disana. Aku tak tau bagaimana Mas Damar bisa sampai bertemu dengan Sam, Ze." Tangis Rinjani tersedu. Ia Manatap mata Zeo dengan netra berair.
"Apa yang harus aku lakukan Ze? Bagaimana jika dia mengambil Sam dariku?"
Zeo mengulas senyum guna menenangkan kekalutan hati Rinjani."Itu tak akan terjadi Rin. Jangan khawatir. Dia tak akan bisa mengambil Sam. Tak akan kubiarkan. Heemm? Jangan menangis lagi."
Zeo membawa Rinjani dalam pelukannya. Rinjani masih menangis dengan suara pilu.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku."
###
Hari berikutnya, Damar mendatangi lagi sekolah Samudra. Tempat yang sama saat ia tak sengaja bertemu dengan bocah kecil itu.
Damar mencari-cari sosok kecil menggemaskan yang kini sedang berlarian dengan riangnya. Ia bersama dengan beberapa anak-anak lainnya sedang bermain perosotan.
Damar yang sudah menyiapkan beberapa snek dan makanan ringan kemasan mendekat. Hingga ke batas pintu gerbang TK.
"Anda siapa ya? Orang asing dilarang masuk." Cegah seorang satpam yang menjaga gerbang.
"Saya Om nya samudra."
Satpam itu memindai Damar dari atas sampai bawah. Ia masih sedikit ragu walau ia memiliki kemiripan dengan Sam.
"Om!" Sam berseru dari dalam. Satpam menoleh, melihat samudra melambaikan tangannya yang di balas lambaian Damar. Bocah itu berlarian mendekat dengan wajah riang.
"Hay Sam, Om bawa kan jajanan. Kamu mau?"
"Mau Om." Sam menerima papar bag yang Damar sodornya padanya.
"Om masih punya beberapa untuk teman-teman mu juga." Ucap Damar sembari mengacak-acak kepala Samudra, ia mengambil satu helai rambut bocah itu. Lalu memasukkan kedalam saku celananya. Tanpa seorangpun yang menyadarinya.
"Apa saya boleh masuk kedalam?"tanya Damar pada satpam."Saya hanya ingin sedikit berbincang dengan Sam karena sudah lama tidak bertemu."
Satpam itu sedikit ragu, namun ia mengangguk juga.
Damar tersenyum senang, "saya masih ada beberapa box makanan ringan di mobil untuk anak-anak. Bisa kah membantu mengambilkannya?" Pinta Damar dengan sopan.
"Tentu."
Setelah mengambil dua box jajanan dan membagikannya pada anak-anak TK. Damar duduk di bangku sembari menatap wajah Samudera yang sangat mirip dengannya itu. Ada secuil rindu dan harapan jika Sam benar-benar anaknya.
"Sam, berapa umurmu?"
"Lima tahun." Jawab Sam sambil makan sosis dengan nikmat.
"Lima tahun.... Umur nya sesuai." Gumam Damar.
"Apa yang menjemputmu sungguhan bundamu?"
Sam mengangguk.
"Apa dia sudah menikah?"
Sam menggeleng dengan wajah polos dan bingung menatap Damar, "Apa itu menikah?"
Damar tersenyum maklum, walau bagaimana pun Sam masih TK. Ia juga cukup lega karena Rinjani ternyata belum menikah.
"Sam, apa kamu mau membuat sebuah rahasia dengan Om?"
Sam mengangguk dengan antusias dan bersemangat. "Jangan katakan pada bunda kalau om datang. Ini rahasia."
Sam mengangguk dengan cepat. "Iya. "
Damar tersenyum senang.
"Kalau Daddy boleh?"tanya Sam polos dengan mata bulat yang menggemaskan.
__ADS_1
"Daddy?" Damar menautkan alisnya.
"Sam punya Daddy." Lontar Sam polos.
DEG!
Jantung Damar berdenyut kuat mendengar ungkapan polos Sam.
"Apa.... Bundamu tinggal dengan Daddymu?" Tanya Damar yang merasa melontarkan pertanyaan bodoh.
"Tidak."
Damar tertegun, namun ia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
"Kenapa?"
Sam menggeleng. "I don't know. Kata bunda itu tidak boleh."
"Siapa nama Daddy mu?"
"Aaa.... Namanya Daddy Z..."
"Sam! Ayo masuk ke kelas." Seru guru pembimbing dari ambang ruang kelas menatap kearah Samudra yang masih tertinggal di luar.
"Iya Buu guru...." Sahut Sam mengangkat kepalanya ke arah sang guru. Ia berdiri lalu menoleh pada Damar."terima kasih Om. Sam masuk dulu ya."
Sam berlarian sambil melambai kan tangannya. Damar tersenyum kecil sembari membalas lambaian tangan Sam.
"Mas Damar!"
Damar menoleh, merasa mendengar suara seorang wanita yang sangat ia kenal memanggilnya.
"Rinjani."
"Kamu ngapain disini?" Ketus Rinjani menatap nyalang pada Damar.
"Aku... Hanya kebetulan lewat Rin."
Bisa Damar lihat, wajah tidak suka dari Rinjani. Jika sampai Rinjani tau jika dia datang untuk menemui Sam sudah pasti wanita itu akan marah besar. Mengingat bagaimana dulu ia memperlakukan Rinjani. Membuat Damar sangat menyesal.
"Lewat? Apa kau sedang membodohi mas?"
"Rin... Maafkan mas." Damar mendekat dan mengangkat tangannya hendak mengengam tangan Rinjani. Namun, sudah ditepis Rinjani dengan cepat.
"Pergi! Jangan muncul lagi disini! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika masih melihatmu di sekitar sini."
"Rin...." Damar dengan tatapan memohon.
"Pergi! Dan jangan temui Sam lagi."
Damar tau saat ini Rinjani masih sangat marah dengannya. Mau bagaimana lagi, apa yang sudah dia lakukan sudah sangat melukai Rinjani. Damar tak ingin menambah kemarahan Rinjani padanya. Ia masih ingin bisa bertemu dengan Sam. Walau dengan cara sembunyi-sembunyi. Sampai dia berhasil melakukan test DNA untuk lebih meyakinkan nya lagi. Ia harus bersabar.
Damar melangkah menjauh, dan memasuki mobilnya, ia sempat berbalik dan memandang punggung Rinjani yang sedikit berguncang. Damar yakin, saat ini pastilah Rinjani sedang menangis.
"Betapa jahatnya aku dulu padamu Rinjani. Maafkan mas, mas akan membalas semuanya, mas akan memperbaiki semuanya setelah status ini jelas." Gumam Damar.
______
Bersambung....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️