
"Apa? Damar menguntiti Rinjani?"
"Benar boz."
Zeo tersenyum sinis, "Brengsek itu masih belum menyerah ternyata."
"Haruskan saya melakukan tindakan?"
Zeo terdiam sejenak,"Tidak perlu biarkan saja."
Tatapan mata Zeo menerawang, ia pun mengulas senyum licik.
###
Rinjani telah sampai di hotel tempatnya menginap, sudah tentu Damar pun masih menguntiti nya. Damar memesan kamar tepat di samping kamar Rinjani.
Berhubung liburan sekalian bulan madu, Rinjani mengambil kamar sendiri. Sementara Sam satu kamar dengan Bu Ros. Kalaupun kepepet Sam tidur di kamar Rinjani dan Zeo nanti masih bisa dipindahkan bila siap untuk berperang. UPS!
"Daddy Z, kami sudah sampai di hotel." Ucap Rinjani melalui sambungan telpon, melaporkan ia sudah sampai di lombok.
("Okey, istirahat dulu, nanti kalau kerjaan ku sudah selesai aku langsung kesana.")
"Okey."
("O iya, siang ini jangan makan di luar. di kamar saja. Jangan keluyuran.")
"Siap bos."
Setelah sambungan telpon putus Rinjani merebahkan diri ranjang. Kamarnya memang tidak dia tutup dengan rapat, agar Sam bisa masuk sewaktu-waktu.
"Bunda....." Seru Sam berlarian masuk kedalam kamar dan ikut menjatuhkan diri kasur.
"Iya sayang. Ayo kita jalan-jalan. Udah sampai Lombok."
"Nanti ya, tunggu Daddy."
"Aaa.... Sam bosan." Rengek Sam menggoyangkan tubuh ibunya.
"Sam... Sam.... Bunda lelah, Sam apa tidak lelah?"
"Enggak." Jawab bocah itu cepat dan mantap. Walau tampak sekali matanya mengantuk.
"Ya sudah, nanti kita keluar. Setelah Sam memijit bunda."
"Okey." Sam dengan tangan kecilnya mulai memijit kaki dan lengan Rinjani.
"Nanti gantian ya." Ucap Rinjani. Lalu ia duduk. "Sekarang giliran Sam. Abis Sam nanti bunda lagi. Oke?"
"Okey."
__ADS_1
Kini Sam berbaring, belum ada satu menit, bocah itu sudah terlelap. Rinjani tersenyum geli melihat putranya yang menggemaskan itu. Ia pun ikut berbaring disamping Sam.
Rinjani membuka matanya, merasakan ada tangan yang melintang memeluk tubuhnya dari belakang. Rinjani menoleh, wajah tampan Zeo sudah tampak terlelap juga.
Rinjani melihat Sam, ia juga masih pulas. Lalu wanita itu berbalik menghadap suaminya. Menikmati wajah Zeo yang tenang. Tangan Rinjani terangkat menyentuh pipi suaminya. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Mengecup ringan bibir Zeo, ia terkejut, seketika saat Zeo berbalik melahabnya dengan rakus.
"Curang! Jadi kamu pura-pura tidur?"
Zeo tergelak. "Kamu nakal juga, suami lagi enak-enak tidur malah digangguin."
Wajah Rinjani merona.
"Kamu makin cantik dengan semu merah di pipi."goda Zeo menyentil hidung istrinya.
"Kapan sampai?"
"Setengah jam yang lalu."
"Kenapa malah nggak bangunin?"
"Kalian tidur sangat pulas. Tentu saja aku tak tega."
Rinjani mengerucut kan bibirnya. "Kenapa jadi jelek begini hah?" Protes Zeo sambil mencapit bibir Rinjani yang monyong.
Tok tok, suara pintu diketuk.
"Apa Sam disini? Sedari tadi aku mencari bocah itu. Dia pergi nggak pamit."
"Masuk, dia lagi tidur disana."
Bu Ros memasuki kamar dan melihat Rinjani masih berbaring malas disamping Sam.
"Oohh, disini rupanya," Bu Ros berjalan mendekat lalu mengelus kepala Sam."Biar dia ibu bawa ke kamar sebelah."
"Disini saja nggak papa kok Bu."
Bu Ros terkekeh kecil,
"Tidak apa, mungkin kalian ingin memulai bulan madu." Goda Bu Ros mengerling nakal pada Rinjani.
Setelah membawa Sam pergi, tinggalah disana Zeo dan Rinjani. Zeo menarik lengan istrinya agar bangun dari pembaringan.
"Ayo pindah ke balkon dari sana kelihatan lebih indah."
Tentu saja ini Zeo lakukan agar Damar yang berada disebelah kamar mendengar dan melihat kemesraan mereka. Hingga membuat pria yang masih mengejar istrinya itu makin tak karuan.
Rinjani mengikuti tarikan tangan suaminya. Begitu sampai di balkon Rinjani menatap hamparan air yang jauh disana.
"Benar katamu,bagus."
__ADS_1
Zeo memeluk tubuh Rinjani dari belakang. Tangan nakal Zeo membuka kancing baju Rinjani satu demi satu.
"Jangan Zi, jangan disini." Lirih Rinjani dengan mata terpejam menikmati karena Zeo terus menghujani leher dan tengkuknya dengan kecupan.
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
Zeo melempar jauh kemeja Rinjani.
"Ze, jangan nakal."
Zeo terkekeh kecil tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Ze hentikan Ze.. jangan... Jangan disini ..."
###
Sementara disebelah kamar yang mereka tempati, lebih tepatnya kamar Damar. Mantan suami Rinjani itu tersentak mendengar suara lirih Rinjani. Damar langsung bangun dari pembaringan karena ia tau Rinjani juga tidur saat ia mengintip di balik celah pintu kamar Rinjani tadi. Damar memasang telinganya. Ia mendengar lagi suara rintihan Rinjani. Damar berjalan kearah balkon. Disana ia berhenti tepat didepan pintu.
Mendengarkan dengan seksama.
"Zeo..... Jangan....."
Mata Damar melebar, mendengar nama adik nya disebut. Dan suara penolakan Rinjani yang seperti memohon.
"Jangan...... Berhenti...."
"Ze....."
Suara Rinjani membuat rahang Damar mengeras.
Bersambung....
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️
__ADS_1