
"Kau! Lepaskan!" Sentak Rinjani berusaha menarik tangannya yang di cengkram kuat oleh Damar.
"Rinjani aku mau...."
PLAAKK!
Wajah Damar terhempas kesamping, segera Rinjani menarik tangannya dengan cepat.
"Sekurity! Usir orang ini keluar dari sini." Titah Rinjani dengan suara bergetar karena emosinya. Kilatan amarah terpancar jelas di wajahnya.
Seorang sekurity berseragam datang, dan Rinjani mengambil langkah lebar meninggalkan Damar yang masih terhempas. Rasa sakit di pipi sampai ke hatinya. Sesal, hanya itu yang terasa semakin meremas dadanya.
Setelah Damar di seret keluar oleh sekurity, damar terus berfikir bagaimana caranya agar ia bisa bertemu Rinjani. Membuat wanita itu melihatnya sekali lagi saja.
"Maafkan aku Rinjani. Kamu pasti sangat terluka. Maafkan mas Rinjani...." Sesal Damar lirih.
Malam itu, Damar duduk di atas pembaringan dengan bersandar pada kepala ranjang. Ia membuka hpnya, melihat akun sosial media Rinjani. Namun, karena ia di blokir, akhirnya, Damar menggunakan akun fake.
Ia melihat beberapa foto Rinjani dengan Samudra, dari saat masih bayi hingga berumur lima tahun. Damar mengusap hpnya yang terpampang wajah Rinjani dan Samudra. Air matanya menetes hatinya sangat sakit karena nya.
Selama ini ia terus mengabaikan anak kandungnya namun justru memberi limpahan kasih sayang pada Nathan yang ia tak tau siapa ayahnya. Dada nya menjadi makin sesak. Ia marah, hidung nya mengembang mengingat Nadia sudah menipunya selama ini.
Saat itu, Nadia masuk kekamar dia berjalan mendekati sang suami. Damar pun bergegas menekan tombol keluar di hpnya. Lalu Damar menarik selimut dan membetulkan posisi tidurnya. Miring membelakangi Nadia.
"Mas?"
"Heemm..."
"Aku mau bicara."
"Ya udah bicara aja."
"Mas..." Nadia menggoncang lengan Damar. Damar yang masih kesal karena belum bisa menetralkan perasaannya tadi, menoleh dan menatap nyalang pada Nadia. Nadia pun sedikit terkejut dan berubah sedikit ciut. Melihat mata Damar yang berkilat marah menatapnya.
"Mas...."
"Apa?" Tanya Damar dengan ketus.
__ADS_1
"Kenapa mas tadi nggak datang ke sekolah Nathan mas? Mas sudah janji pada Nathan mas akan datang di hari ayah." Lirih Nadia dengan suara sedikit bergetar memberanikan diri.
"Aku sibuk tadi."
"Tapi mas sudah janji pada Nathan, hari ayah nggak setiap hari mas, setahun sekali, hanya meluangkan waktu satu dua jam mas nggak bisa?"
"Nad, aku sibuk kerja. Kerja buat kalian juga. Jangan menuntut mas untuk hal-hal yang lain lagi. Mas capek. Mas mau tidur."
Nadia terkejud dengan sikap Damar yang beberapa hari ini semakin dingin padanya, dan kini Damar bahkan meninggikan suara padanya. Hatinya serasa sakit. Ia menangis. Suara isakan terdengar hingga ke telinga Damar. Namun, rasa kesal masih Damar rasakan. Karena Nadia-lah ia sampai mengabaikan Rinjani, karena Nathan-lah ia rela vasektomi bahkan sampai tidak mengakui Sam sebagai anaknya.
'aku tak bisa memaafkanmu Nadia, karena kamulah, karena Nathan lah aku sampai menelantarkan Sam dan Rinjani. Hingga mereka bersikap begini padaku. Menangis lah, aku tak perduli.' batin Damar tidur dengan membelakangi Nadia.
"Pergilah! Jangan menangis di sini. Aku mau tidur. Suaramu sangat mengganggu." Ucap Damar dingin tanpa menoleh ataupun melihat kerah Nadia.
Nadia yang terluka, akhirnya berjalan keluar. Ia masih menangis.
"Kenapa dengan mu mas? Kenapa sikapmu semakin dingin? Ucapan mu juga tak selembut dulu..." Tangis Nadia lirih.
###
Hari ini mereka akan melakukan meting untuk penandatangan kontrak dan membuat beberapa kesepatakan. Tentu saja Damar tidak menggunakan namanya, agar Rinjani tidak curiga dan tak mau bertemu dengannya.
Damar berjalan memasuki sebuah ruang meting di resto Samudra yang dekat dengan kantornya. Sesuai harapan, disana ada Rinjani yang sudah duduk dengan dua orang karyawannya. Wajah Rinjani tampak sangat terkejut, dan berubah menjadi marah saat melihat Damar juga ada disana. Sebagai kliennya. Namun Rinjani tetap bersikap profesional.
Selama meting, Damar terus mencuri pandang pada mantan istrinya itu. Sementara Rinjani merasa tak nyaman ia memilih mengirim pesan pada Zeo agar menjemputnya.
Setelah meting selesai, Rinjani berjalan lebih dulu dan menyerahkan semua pada karyawannya.
"Rinjani." Panggil Damar berlari kecil mendekat.
"Apa mau mu pak Damar." Sinis Rinjani dengan tatapan yang masih dipenuhi amarah."Saya pikir semua sudah selesai dan jika ada masalah apapun silahkan berdiskusi dengan management."
"Aku mau bicara hal pribadi."
"Tidak ada hal pribadi diantara kita. Permisi."
"Rinjani." Damar menahan lengan Rinjani hingga wanita yang sudah berbalik dan hendak melangkah itu kembali berhadapan dengannya. Menatap nyalang pada Damar.
__ADS_1
"Sopanlah pak Damar!" sentak Rinjani menarik tangannya. namun Damar bersikeras menahannya.
"Maaf.. Ku mohon, beri mas kesempatan." Damar dengan wajah dan nada bicara memohon.
"Bicaralah." Lontar Rinjani sembari memalingkan wajahnya dengan tangan yang dilipat didada."saya sangat sibuk, jadi cepatlah."
"Bisakah kita bicara ditempat yang lebih pribadi."
"Jika tidak ada yang lain, saya permisi." Pamit Rinjani yang sudah tak ingin berlama-lama dengan Damar, berbalik dan mengayunkan kakinya.
"Rinjani.." Damar menahan lengan Rinjani hingga berbalik.
"Maaf kan aku." Ucap Damar cepat, karena dia tak ingin kehilangan kesempatan dan moment."Maafkan aku atas semuanya."
"Aku sungguh-sungguh minta maaf. Bisa kah kamu memaafkan aku?"
"Maaf?" Rinjani tertawa getir."Maaf katamu?"
______
Bersambung...
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️
__ADS_1