Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 15 • IPAR LAKNUT - Kembali Kerumah •


__ADS_3

Pagi itu, Rinjani membuka matanya, ia tidur diatas ranjang Zeo, rambutnya yang berantakan menyebar diatas bantal yang ia tiduri. Wajah sendu dan mata yang sembab tercetak jelas di disana.


Ia ingat semalam, saat Zeo membaringkan tubuhnya diranjang, lalu memeluknya dengan erat. Rinjani yang merasa apa yang terjadi tak sesuai dengan pikirannya mendongak menatap wajah Zeo yang memejamkan matanya.


"Kenapa?"


"Tidur. Aku ngantuk."


"Kau bilang, tidur dengan mu...."


"Kita sedang melakukannya."


Rinjani terdiam, ia tak mengerti isi pikiran Zeo. Ia pikir Zeo menginginkan tubuhnya, mengulang lagi percintaan satu malam mereka, hingga membuat Rinjani gabut setengah mati. Namun ia merasa sedikit lega kini, Zeo hanya ingin tidur bersamanya. Tidur dalam arti kata benda bukan kata kerja. Rinjani sedikit bernafas lega dan senang, ia tak menghianati suaminya untuk kedua kalinya.


Rinjani bangun dan duduk diatas ranjang, memindai ruangan itu berkeliling. Bersih, tak ada lagi tanda-tanda keberadaan Zeo. Rinjani merangkak menuruni ranjang, berjalan mendekati lemari pakaian. Ia membuka pintu lemari, kosong. Tak ada sehelai pun pakaian disana. Mata Rinjani berair, ia sangat bersyukur dan lega akhirnya Zeo pergi. Seperti janjinya. Tanpa suara.


Rinjani tersedu. Zeo tak seburuk yang dia pikirkan selama ini. Walau pria itu sering menggoda dan mencuri bibirnya. Tapi setidaknya dia menepati janji dan tidak benar-benar bercinta dengannya.


Rinjani bergegas menuruni tangga seusai membersihkan diri. Rinjani mendapati pak Budi duduk sendiri di meja makan. Dengan ragu Rinjani mendekat dan duduk. Dengan takut-takut Rinjani membuka mulutnya,


"Zeo dimana?"


Itu hanyalah pertanyaan untuk memastikan saja jika Zeo benar-benar pergi.


"Zeo sudah kembali ke apartemennya."


"Benarkah?"


"Heemm... Terima kasih karena sudah baik padanya, Rin." Pak Budi menatap menantunya dengan mata yang dalam."Teruslah seperti itu, Zeo sudah terlalu banyak menderita karena ku. Kelak, aku harap kamu mau lebih baik lagi dengannya."


Rinjani tersenyum kecut.


"Kapan? Kapan dia pergi?"


"Semalam."


Sekelebat bayangan samar Zeo terlintas di benaknya.


["Maaf, aku tak ingin melibatkan mu lebih jauh. Kau tidak pantas disakiti."]


'Jadi, itu bukan mimpi?' batin Rinjani.


Setelah kepergian Zeo, Rinjani bergegas menghubungi Damar dan Mama Ratna. Dengan hati riang gembira, Rinjani memasuki gedung Zeos. Ia bekerja seperti biasanya. Walau lelah ia tetap tersenyum dan gurat bahagia terpancar di wajahnya. Bagaimana tidak, sore ini sepulang kerja ia dan Damar akan bertemu lagi, tidur di ranjang yang sama lagi. Rinjani memikirkan bagaimana agar malam ini bisa berkesan baginya dan sang suami.


______


Disisi lain, Mama Ratna yang sudah mendengar kabar bahwa Zeo telah meninggalkan rumah utama. Senang bukan main. Ia bergegas mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk pulang.

__ADS_1


Taxi yang mama Ratna tumpangi berhenti tepat di depan rumah utama. Ratna menjejakkan kakinya dihalaman turun dari taxi, ia membetulkan kacamata coklat yang bertengger di matanya. Ratna memandang seluruh bagian luar rumah utama, menghirup udara khas rumput basah yang baru saja di potong oleh tukang kebun.


Ratna berjalan memasuki rumah utama.


"Tolong, ambilkan barang-barang ku yang masih tertinggal di taxi ya." Titahnya pada salah seorang pekerjanya yang mengangguk patuh.


Ratna berjalan semakin dalam,


"Ingat pulang juga kamu, ma?"


Ratna menoleh pada suara bas milik suami nya. "Papa..."


"Ku pikir kamu udah nggak ingat rumah lagi."


"Itu kan karena papa. Ngapain bawa anak itu kerumah."


"Dia butuh tempat tinggal ma, apartemen nya baru direnovasi."


"Kan bisa tinggal di hotel, nggak harus disini kan?"


"Ini juga rumahnya ma."


Ratna mencibir. "Papa ngapain nggak kerja?"


"Papa mau percayakan perusahaan pada anak papa."


Wajah Ratna berbinar senang, bagaimana tidak. Ini kali pertamanya pak Budi mempercayai sepenuhnya perusahaan pada anaknya Damar. Ratna dengan wajah senang bersungut mendekat. Merangkul lengan suaminya.


Pak Budi mengernyitkan dahi. "Yaah, Damar juga sudah cukup lama berada di sana." Pak Budi menarik lengannya dari pelukan sang istri."katakan pada Damar agar Minggu ini dia meluangkan waktu untuk makan malam. Papa ada yang mau didiskusikan."


"Siap pa."


______


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


Sekalian aja Othor kasih visual di sini ya.



Rinjani.





Zeo Ferdinand





Damar





Nadia





Mama Ratna





Pak Budi Rubiandini

__ADS_1




__ADS_2