Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 25 • IPAR LAKNAT - Air mata Rinjani •


__ADS_3

"Pak ikutin mobil itu pak." Pinta Rinjani yang baru saja menaiki taksi yang tadi dia cegat di depan rumah sakit. Walau merasa curiga dan ragu melihat penampilan Rinjani yang masih memakai baju rumah sakit di balik jaketnya yang kedodoran. Karena ia memakai jaket milik Zeo sebelum ia memutuskan keluar mengikuti Jiechi.


Rinjani terus melihat mobil milik Jiechi didepan, ia tak ingin lepas pandangan Karena khawatir akan kehilangan jejak nanti nya.


"Pak, cepat sedikit." Pinta Rinjani sedikit memaksa dan cemas. Ia sangat tak tenang ia sudah menduga jika Zeo menyembunyikan sesuatu darinya. Karena pria itu terus mengulur waktu untuk mempertemukannya dengan Damar, suaminya yang pergi sejak malam itu.


Mobil Jiechi berhenti tepat di depan jalan sebuah rumah minimalis, namun tetap cukup mewah. Rinjani juga meminta mobil taksi yang ia tumpangi untuk berhenti.


Ia merogoh kantong jaket milik Zeo. Mengambil dompet yang tersimpan didalamnya. Lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada sopir taksi.


"Sebentar ya pak. Jangan pergi dulu. Tunggu disini bersamaku."


"Baik Bu." Supir taksi itu sumringah menerima lembaran uang dari Rinjani yang jumlahnya lebih dari cukup.


Rinjani masih didalam mobil. Ia memperhatikan mobil didepannya, lalu berpindah melihat pada rumah di samping mobil milik Jiechi berhenti. Ia melihat mobil Oren milik Damar. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat hapal dengan mobil Oren suaminya itu.


Walau jantungnya terus berdegup tak karuan dan tubuhnya serasa menegang. Ia tetap menatap ke rumah ber cat cerah itu. Pintu rumah itu terbuka. Jantung Rinjani makin kuat berdetak, darahnya terus berdesir tak karuan. Hingga ia melihat sosok Damar keluar dari rumah itu. Sudut bibir Rinjani terangkat, ia sangat senang bisa melihat suaminya lagi setelah sekian lama. Mungkin inilah kesempatannya untuk menjelaskan yang sebenarnya. Bahwa ia sungguh-sungguh hamil anaknya.


Namun, sudut bibirnya yang semula terkembang turun dengan perlahan. Di sana ia melihat Damar menggandeng seorang wanita cantik dan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun. Jantung Rinjani seperti berhenti berdetak. Desiran darah yang mengalir cepat di pembuluh nya seolah membeku. Pemandangan apa itu? Mereka terlihat seperti keluarga bahagia dengan seorang putra yang tampan.


Air mata Rinjani jatuh dengan sendirinya. Kala ia melihat Damar suaminya itu mencium kening wanita yang ia gandeng. Dengan tangan bergetar, dan pipi yang terlanjur basah, Rinjani membuka pintu mobil taksi. Ia menginjak tanah dengan kaki yang lemah. Rinjani melangkah berusaha kuat, ia terus mendoktrin pikirannya sendiri. Suaminya sangat menyayangi nya. Tidak akan berhianat. Ia pasti akan menjelaskan jika Rinjani bertanya siapa wanita itu. Walau pikirannya tau, pasti ada yang sepesial diantara mereka.


Rinjani berjalan mendekat sembari menghapus air matanya.


"Mas Damar."


Damar dan Nadia menoleh bersamaan. Mata Damar membulat sempurna, melihat Rinjani yang tiba-tiba berada dihadapannya.


"Mas...."


"Kamu... Ngapain disini?" Tanya Damar masih dengan wajah yang sangat terkejut melihat Rinjani mendekat. Ia melepas genggaman tangan. Nadia menatap suaminya yang sengaja melepas genggaman tangannya, dengan pandangan mata sedih.


"Aku nyari kamu mas." Jawab Rinjani dengan suara bergetar. Ia berganti menatap wajah Nadia yang berdiri sedikit dibelakang Damar.

__ADS_1


"Dia..."


Damar menoleh pada Nadia, wanita yang Rinjani tunjuk dengan tatapan matanya.


"Nad, kamu masuk dulu sama Nathan kedalam ya." Ucapnya lembut pada Nadia yang memandangnya dengan mata sedih yang memohon."Aku mau bicara sebentar sama Rinjani."


Nadia mengangguk pelan, matanya memerah hampir menangis karena khawatir Rinjani akan membawa Damar pergi dan membatalkan perjalanan mereka ke Bandung. Damar yang kasihan pada istri pertamanya itu mengusap pipi Nadia, lalu mengecup pelan keningnya.


Deg!


Jantung Rinjani serasa lepas dari rongganya. Dada nya naik turun menahan semua gejolak di dalam sana. Serasa sangat sakit melihat suaminya bersikap lembut bahkan mengecup kening wanita yang baru ia temui dihadapannya. Sakitnya bagai di tusuk-tusuk dengan belati. Berulang hingga hancur tak berbentuk.


Nadia dan Nathan memasuki mobil Oren milik Damar. Sementara Damar masih diluar.


"Mama, papa tertinggal."


"Iya, nanti papa nyusul sayang."


Percakapan Nadia dan Nathan yang menyakitkan telinga Rinjani.


"Rin."


"Kita udah berakhir."


"Mereka siapamu mas?" Suara Rinjani yang bergetar oleh luapan emosi yang tertekan di tenggorokannya.


"Mereka keluargaku, Rin." Lirih Damar menatap wajah Rinjani yang sudah hampir menangis itu. Ia sebenarnya merasa iba juga, tapi mau bagaimana lagi. Keadaan sudah seperti ini.


"Itu Nadia istriku dan Nathan anakku. Kami sudah menikah tujuh tahun yang lalu."


Bahu Rinjani berguncang hebat, ia sudah tak sanggup lagi menahan air matanya."Mas Damar....."


"Maaf Rin....."

__ADS_1


Tangisan Rinjani makin meraung. Suara tangisan pilu yang menyayat telinga yang mendengarnya.


"Maaf Rin, aku mencintai mereka."


"Lalu kenapa mas nikahin Rinjani, mas?" Tangis Rinjani tersengal-sengal. "Kenapa mas nikahin Rinjani kalau mas dah nikah? Kenapa mas Nikahin Rinjani kalau mas nggak cinta? Berapa umur Nathan mas? Apa dia sudah lahir saat mas nikahin Rinjani?" Tangis Rinjani makin tersengal.


Damar terdiam, ia merasakan sakit juga melihat istri keduanya menangis sampai tersengal seperti itu. Tentu saja setelah lima tahun menikah, ada rasa kasihan melihat Rinjani menangis seperti itu. Hal yang pertama kali ia lihat setelah kematian kedua orang tuanya dulu.


"Maaf Rin. Aku mencintai mereka. Karena itu mas vasektomi. Untuk menjaga perasaan Nadia dan Nathan." Terang Damar, "Karena itu, mas mohon, jangan katakan ini pada papa Budi. Mas mohon, demi hubungan yang pernah kita jalani selama lima tahun ini. Dan demi cintamu padaku."


Rinjani masih terus menangis tersengal. Airmatanya sudah menganak sungai dipipinya.


"Maafin mas, Rin." Pinta Damar dengan pandangan memohon."kau boleh membenciku. Tapi mas mohon, jangan katakan ini pada papa."


Damar mengusap ujung matanya yang berair. Lalu ia berbalik dan memasuki mobilnya. Kendaraan berwarna Oren itu bergerak dan meninggalkan halaman rumah Damar yang terbuka.


Juga meninggalkan Rinjani yang masih menangis dengan suara pilu. Wanita cantik itu memukul-mukul dadanya dan terduduk di tanah yang tertutup batako itu. Ia terus menangis menatap mobil Damar yang makin menjauh dan menghilang di ujung gang.


Rasa sakit makin menghimpit dadanya. Rinjani terus memukul dadanya berulang kali agar rasa sakit rontok dan hilang. Zeo yang baru datang beberapa saat yang lalu mendekat, ikut berjongkok menyamakan tinggi dengan Rinjani yang sudah bersimpuh di atas blok batako. Pria itu menatap iba pada wanita yang masih tersengal dan memukuli dadanya sendiri. Ia lalu memeluk tubuh Rinjani dari samping. Membawa kepala wanita yang ia cintai itu ke dalam dadanya.


_______


Bersambung....


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️


__ADS_2