Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 53 • IPAR LAKNAT - Rencana pindah •


__ADS_3

"Aku sudah menceraikan Nadia, harusnya ini mempermudah jalanku untuk dekat lagi dengan Rinjani. Tinggal urus secara hukum. Aku akan mendaftarkan nya besok." Gumam Damar sembari membawa mobilnya melaju.


###


Hari ini Haris lagi-lagi mengamati SD tempat Nathan bersekolah. Cukup lama Haris menunggu, sampai jam pulang sekolah, ia berjalan keluar dari mobilnya. Menghampiri Nathan yang menunggu jemputan.


"Hay..."


Nathan menoleh,


###


Nadia yang baru saja menerima panggilan telpon dari nomor asing bergegas membawa mobilnya kesebuah tempat yang di tujuk oleh pemilik nomor itu. Nadia memarkirkan mobilnya didepan sebuah villa. Ia Langsung berhambur memasuki vila itu.


"Nathan!"


Nathan yang sedang bermain itu menoleh mendengar mamanya memanggil.


"Mama..."


"Sayang..." Nadia langsung menghampiri dan memeluk Nathan, ia sangat bersyukur Nathan baik-baik saja. Ia sangat khawatir jika sampai Nathan diapa-apain sama orang yang menghubunginya tadi.


"Kamu nggak papa kan Nat?"


"Enggak papa ma. Aku lagi main. Tadi om baik kasih banyak mainan buat Nathan." Celoteh bocah SD itu dengan gembira.


"Bu Nadia." Panggil seorang pria paruh baya. Nadia menoleh padanya.


"Tuan kami ingin bicara pada anda."


###


Disisi belahan bumi yang lain. Zeo yang sudah mendengar papanya di ambang kebangkrutan menatap foto ibunya. Di kejauhan, Rinjani mendekat, ia memeluk lengan suaminya.


Rinjani ikut memandang foto almarhum mertuanya. Ia pikir,suaminya itu sedang merindukan ibunya.


"Sampai sekarang, aku belum bertemu dengannya." Lirih Rinjani menyenderkan kepalanya di lengan Zeo. Suaminya itu tersenyum tipis.


"Kamu mau bertemu?"


"Bolehkah?"


"Tentu saja. Kamu menantunya." Ucap Zeo menatap balik istrinya yang memandang wajahnya dari samping."Aku akan mengatur jadwalku dulu."


"Baiklah."


Rinjani berjinjit, memberikan kecupan kecil pada suaminya. Yang Langsung disambut oleh Zeo. Tangan Zeo berpindah memeluk pinggang Rinjani, menikmati rasa lidah yang saling bertaut.


Zeo mengeratkan pelukannya, saat tangan Rinjani mengalung mesra di lehernya. Ciuman lembut itu berubah menjadi semakin panas seiring dengan berlalunya waktu.


Zeo mengangkat tubuh Rinjani, membopongnya tanpa melepas tautan bibir mereka. Zeo membaringkan tubuh istrinya diatas sofa memberi sentuhan lembut pada Rinjani, berdua saling bertukar kasih sayang. Hingga akhir penyatuan mereka. Zeo mengecup punca kepala Rinjani. Mengusap sayang kepala wanitanya.


###


Keesokan paginya, Rinjani yang bersiap hendak mengecek restonya mencari Bu Ros, ia ingin berpesan agar nanti menjemput Sam di TK dan membawa bocah itu ke resto. Karena hari ini Rinjani ingin mengajak Sam jalan-jalan bersama Bu Ros juga.

__ADS_1


Sudah berkeliling rumah, namun masih tak menemukan Bu Ros, akhirnya Rinjani mencoba mengetuk pintu kamar Bu Ros. Karena tak ada sahutan, Rinjani mendorong pintu kamar Bu Ros yang tidak dikunci. Ia melongok kedalam. Kosong.


"Apa Bu Ros ke pasar ya? Tapi, tadi nggak pamit." Gumam Rinjani. Hendak menutup pintu kamar itu lagi. Namun terhenti. Ia kembali melihat kedalam kamar Bu Ros. Melihat sebuah fot berbingkai di kamar asistennya itu.


Rinjani berjalan mendekat ia mengamati foto itu. Di foto itu, Bu Ros yang masih terlihat muda tersenyum pada kamera, disampingnya berdiri seorang pria yang sepertinya suami Bu Ros. Lalu diantara mereka berdiri seorang anak kecil berambut coklat. Dia sangat mirip dengan Zeo.


"Sepertinya ini foto saat Bu Ros masih muda. Jika ini Zeo, apakah mereka saling kenal sebelumnya?"


Dengan hati bertanya-tanya, Rinjani berjalan keluar dari kamar Bu Ros. Karena tak menemukan ART nya itu, Rinjani memutuskan menulis memo. Lalu berangkat ke resto.


Sesampainya di resto,


Ia disibukan dengan beberapa aktifitas pengecekan dan memberi beberapa instruksi pada pekerjanya. Karena merasa lelah, Rinjani merenggangkan otot tubuhnya.


"Rinjani..."


Wanita itu menoleh ke arah sumber suara.


"Damar!"


Damar mendekat, dari sudut pandangnya, mata dan sikap Rinjani tak lagi menyiratkan permusuhan.


'seperti nya dia sudah memaafkanku. Dia sudah melunak. Syukurlah.' pikir Damar.'Rinjani memang baik, dari dulu ia selalu memaafkanku. Sepertinya dia memang masih mencintaiku' lanjut Damar membatin.


"Ada apa lagi kemari?"


"Rin, aku... Sudah menceraikan Nadia."


Raut wajah Rinjani tampak terkejut. "Kenapa?"


Walau tak mengatakan apapun dalam sudut pandang damar mantan istrinya itu pastilah sangat ingin tau kenapa.


"Dia menghianati ku, dia bermain di belakangku.. Dan yang paling tak bisa aku maafkan adalah, dia berselingkuh dengan pesaing bisnis papa."


Rinjani masih terdiam tak mengatakan apapun dan tak berekspresi apapun. Damar pun semakin gencar memojokkan Nadia. Nadia-lah yang bersalah. Sampai...


"Disaat perusahaan semakin sulit, aku baru menyadari jika, dia yang berada dibalik layar." Tutup Damar dengan penuh sesal wajahnya pun sangat sedih namun ia mencoba terlihat bijak di depan mantan istrinya itu.


"Karena itu aku menceraikannya."


"Baiklah, aku masih ada yang harus dilakukan." Pamit Rinjani dengan wajah datar.


"Aaa... Iya Rin. Terima kasih sudah mendengarkan ku."


Rinjani hanya tersenyum tipis lalu berbalik meninggalkan Damar dengan sejuta rasa bahagia di dalam dada pria itu.


'Sepertinya Rinjani benar-benar sudah memaafkanku, dia juga sepertinya simpati kepadaku. Baiklah, semangat Dam.' batin Damar dengan hati berbunga.


"Ingin rasanya bertemu dengan Sam. Tunggu, sebaiknya jangan dulu. Nanti saja. Aku harus kembali ke perusahaan dulu. Sudah hampir satu jam aku tinggalkan." Gumam Damar.


###


Hari berlalu, Rinjani dan Sam masih menetap di Surabaya ingin menghindari mantan suaminya yang masih getol menemuinya. Rinjani bermaksud menyusul suaminya yang berada di Jakarta. Karena disanalah pria itu bekerja. Sering kali kembali ke rumah hanya untuk melihat Sam dan isrtinya.


Saat Rinjani mengutarakan maksudnya untuk pindah, tentu disambut baik oleh Zeo.

__ADS_1


"Yah, begitu lebih baik. Aku tak perlu bolak-balik Jakarta Surabaya." Lontar Zeo memeluk tubuh Rinjani seusai malam penyatuan keduanya.


"O iya, aku juga sudah mengatur jadwal. Kebetulan aku ada perjalanan bisnis ke Lombok, kita sekalian Ziarah kesana."


"Benarkah?"


"Heemmm..."


"Kapan?"


"Tiga hari lagi, setelah aku selesaikan urusan di Jakarta. Nanti kita ketemu di Lombok. Bagaimana?"


"Baiklah, aku ajak Bu Ros dan Sam sekalian liburan, boleh?"


"Sekalian bulan madu." Kekeh Zeo menghujani Rinjani dengan kecupan kecil di wajah dan tubuhnya. Hingga Rinjani merasa geli dan terkekeh-kekeh.


Hari berikutnya, Damar mendatangi lagi resto Rinjani, ia baru saja berhenti hendak parkir, namun ia melihat Rinjani memasuki mobilnya.


"Mau kemana dia?" Gumam Damar penasaran. Mobil yang ditumpangi Rinjani bergerak keluar dari halaman resto, sontak Damar pun membuntutinya.


Rupa-rupa nya, Rinjani kembali ke rumah,


"Rupanya disini kalian tinggal Rinjani. Untung saja aku membuntuti mu. Jadi aku bisa mengetahui rumahmu." Gumam Damar girang menatap bangunan beberapa meter di depannya.


Tak lama terdengar suara celotehan Sam dan Bu Ros. Damar tersenyum senang, ia membuka seat belt hendak turun menghampiri. Namun langsung ia urungkan karena bu Ros menggeret sebuah koper yang cukup besar. Lalu dari dalam rumah itu, Rinjani juga muncul dengan menggeret koper.


"Mau kemana lagi mereka?" Gumam Damar yang melihat Sam sangat gembira."Apa mereka akan pergi?"


Sebuah taksi berhenti tepat didepan rumah Rinjani, taxi itu mulai bergerak setelah semua penumpang naik kedalamnya. Gegas Damar mengikuti lagi.


"Mau kemana mereka?"


Damar membuka HP-nya mencoba mencari tau dan menelusuri. Dalam perjalanan itu, akhirnya Damar mendapat informasi jika Rinjani hendak ke Lombok.


"Aku harus menyusulnya." Gumam Damar."Akan ku gunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan mereka."


______


Bersambung..


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2