Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 40 • IPAR LAKNAT - Pertemuan Damar dan Sam •


__ADS_3

Damar pagi ini memiliki janji temu dengan salah satu klien nya di sebuah rumah makan yang ia tak tau dimana. Berhubung Damar juga baru sekitar satu mingguan di Surabaya, ia berhenti dipinggir jalan. Lalu mengeluarkan hp nya dan menghubungi si klien, namun nomor yang ia hubungi justru sibuk.


Akhirnya memaksa Damar untuk keluar dari mobil dan bertanya. Ia melangkah, saat itu sudah sedikit lenggang walau masih ada beberapa orang tua yang menjemput anaknya di sebuah taman kanak-kanak. Damar menyapu pandangannya mencari seseorang yang mungkin bisa ia tanyai. Damar melihat seorang penjual pentol di depan TK lalu Damar melangkah dan mendekatinya.


"Om!"


Damar menoleh, dan melihat seorang anak lelaki dengan mata yang bulat, menatapnya. Tangan bocah itu memegang jemari tangan Damar sementara tangannya yang lain mengulurkan hp.


"Hp nya jatuh." Ucap anak itu.


Mata Damar melebar, ia seperti pernah melihat anak yang ada dihadapannya, tapi dimana? Ia merasa sangat familiar dengan wajahnya.


"Om?" Panggil anak itu lagi karena Damar hanya bengong saja sedari tadi. Damar tersenyum dan menyamakan tinggi. Lalu mengambil hpnya.


"Makasih ya, kamu sekolah di sini?"


Bocah itu mengangguk. Ia lalu hendak berbalik. Namun damar menahan tangannya, hingga bocah itu urung dan menatap Damar.


"Ini untukmu. Terim kasih. Sudah membantu Om." Damar mengulurkan selembar uang dua puluh ribu pada Bocah itu.


"Tidak usah om, bunda bilang, harus ikhlas kalau menolong orang. Sam ikhlas kok." Tolak bocah itu.


"Tidak apa-apa, Om juga iklas. Ini hanya tanda terima kasih." Damar masih memaksa dengan menggenggamkan uang itu ke tangan Sam.


"Tidak Om, nanti bunda marah."ucap Sam mengembalikan uang itu pada Damar. Damar tersenyum, ia begitu senang melihat bocah dihadapannya itu. sangat menggemaskan.


"Oh iya ,siapa namamu?"


"Samudra."


"Nama yang bagus, ummmm.. sebenarnya Om sedang tersesat. Apa kamu tau di mana resto Samudra?"


"Oooo,, itu resto milik bunda. Dekat kok om, dari sini lurus aja, kiri jalan."

__ADS_1


Damar membuka mulutnya hendak berucap, namun urung karena mendengar suara yang cukup ia kenal.


"Sam.."


Damar menoleh kearah suara, matanya melebar mendapati Rinjani berdiri disana.


Damar yang semula berjongkok menyamakan tinggi dengan Samudra berdiri menatap lekat mantan istrinya yang memeluk erat Samudra.


"Sam, bunda kan udah bilang jangan bicara pada orang asing." Tegur Rinjani dengan mimik wajah marah.


"Om itu tanya alamat Bun." Jawab Sam tanpa berani menatap wajah bundanya yang sedang marah itu.


"Rinjani...."


Rinjani melirik sinis pada pria yang kini berjalan mendekat dan berdiri dibelakang Samudra.


"Dia, anak mu?"


"Itu bukan urusan mu." Sinis Rinjani menatap nyalang pada mantan suaminya. Ia berganti menatap lembut anaknya."Ayo sayang, kita pulang." Sambungnya menarik tangan Samudra.


Sam melambai kan tangannya. Mengikuti sang bunda yang dengan sangat tidak sabar meninggalkan tempat itu.


"Bunda, jalannya jangan cepat-cepat dong." Pinta Sam yang terseret-seret oleh tarikan sang bunda.


Rinjani menghentikan langkahnya setelah cukup jauh dari Damar. Air matanya menetes, mengalir dengan deras di pipinya. Bahu Rinjani berguncang pelan. Sam yang tidak mengerti menatap wajah bundanya yang basah dan berair.


"Bunda...." Lirihnya, "Kenapa bunda nangis? Sam nggak marah kok. Maaf kan Sam ya Bun, Sam nggak papa di tarik bunda. Bunda jangan nangis."


Rinjani makin tersengal. Ia berlutut menyamakan tinggi dengan putranya. Lalu memeluk tubuh mungil Sam.


_____


Disisi lain, Damar hanya bisa menatap nanar Rinjani dan anak lelaki yang sangat mirip dengannya itu pergi. Ada sesal di hatinya, semakin lama sesal itu membesar.

__ADS_1


"Mungkin kah dia anak kita Rin?" Lirihnya bergumam dengan pandangan pilu."Kenapa dia mirip sekali dengan ku? Bagaimana bisa?"


Damar kembali ke mobilnya yang diparkir tak jauh dari lokasi dimana Samudra bersekolah. Ia merasa sangat lemas. Memikirkan jika benar Sam adalah anaknya, betapa jahatnya ia dulu tak mengakuinya. Bahu Damar bergetar, ia mungkin tak akan seburuk ini jika wajah Sam tidak semirip itu dengannya. Damar seperti melihat dirinya sendiri sewaktu kecil.


"Aku masih vasektomi saat itu, tidak mungkin dia adalah anakku. Kenapa? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku?" Damar terus bermonolog dalam sesalnya, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya."Aku harus memastikannya, ya, aku harus memastikannya. Aku akan datang menemuinya lagi besok."


Dering hpnya berbunyi, damar menatap layar pada benda pipih di tangannya. Panggil dari klien yang telah menunggu di Samudra resto. Setelah mengangkat nya dan mengatakan sedang dalam perjalanan,Damar bergegas membawa mobilnya melaju ke resto yang Sam tadi tunjuk.


Mobil Damar berhenti dihalaman resto Samudra. Ia memandang resto yang cukup besar itu. Ada banyak mobil dan motor yang berjejer disana. Ia tersenyum ingat akan apa yang bocah bernama Samudra itu katakan. Bahwa resto ini milik Bundanya yang tak lain adalah Rinjani.


"Aku tidak menyangka, kamu bisa semandiri ini, Rinjani."


Damar memandang plang nama di resto itu.


Samudra.


Damar tersenyum, "Mungkin kita masih berjodoh. Hingga kita dipertemukan lagi." Gumam Damar."Jika benar Sam anak adalah anakku, aku akan menebus semuanya Rinjani. Maaf kan mas." Lanjut Damar dengan guratan sesal di wajahnya.


____


Bersambung....


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2