Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 60 • IPAR LAKNAT -


__ADS_3

"Jadi mereka sudah mengumumkan kebangkrutan ya?"


"..……."


"Bagus..."


"....…"


"Baiklah, terima kasih."


Zeo menutup sambungan telponnya, Rinjani yang tak sengaja mendengar pembicaraan telpon Suaminya itu mendekat dengan selimut yang menutupi tubuhnya,


"Hubby?"


Zeo menoleh, sedikit terkejut melihat istrinya sudah berdiri dibelakangnya.


"Kapan kamu bangun sayang?"


"Baru saja, kamu nggak ada disisi. Saat aku bangun, aku mendengar sayup suaramu dari balkon, jadi...."


Zeo mengulas senyumnya. Memeluk tubuh istrinya agar lebih hangat di dinginnya malam itu, dan terpaan angin di balkon.


"Ayo masuk, angin malam tak bagus untukmu." Ajak Zeo menuntun Rinjani untuk kembali ke kamar.


###


Didalam sebuah ruang meting, Zeo dan Haris bertemu dengan sekertaris masing-masing. mereka sama-sama menanda tangani kontrak kerjasama.


"Terima kasih." ucap Haris dengan senyum diwajahnya.


"Tidak, kita sama-sama saling membutuhkan."


"Ini sungguh di luar dugaan, padahal Rubian grub juga milik papamu." ucap Haris dengan senyum geli.


Zeo tersenyum pahit. "Sejak awal aku tahu Horison grub dan Rubian grup sering bersaing, aku jadi sangat bersemangat menjalin kerja sama dengan mu..."


Haris terkekeh, "Sepertinya dendammu sudah sampai di ubun-ubun."


"Kau tidak tau, apa yang kami alami. Aku sampai butuh tahunan untuk melepaskan traumaku, dan ibuku sampai harus menderita selama itu. Tidak hidup tidak mati."


Haris tersenyum kecut.


"Aku salut padamu. Sejauh aku mengenalmu, kau sangat...." Haris menggantung kalimatnya.


"Apa? katakan saja..." tatap Zeo dengan sedikit malas.


"Tidak mau. Kau tau jawabannya...." Haris berdiri di ikuti oleh asistennya."Aku masih ada kesibukan. Lain kali kita minum-minum."


"Okey."


###


Beberapa hari setelah pengumuman kebangkrutan Rubian grub, Damar dan mama Ratna masih menempati rumah besar itu. Pak Budi hanya menatap nanar pada televisi yang menyiarkan kebangkrutan perusahaan nya.

__ADS_1


Banyak hal yang terjadi, ia tak pernah menyangka akan seperti ini. Usaha yang sudah ia rintis sejak muda hancur begitu saja. Di pemberitaan akhir-akhir ini juga adanya demo karyawan yang masih belum di bayarkan hak nya.


Mama Ratna yang melihat berita itu pun bergidig ngeri.


"Dam gimana ini dam? Mama takut kalau rumah ini nantinya akan didatangi mereka. Mama takut dam."


"Sudahlah ma, mereka juga hanya pekerja kecil, tak akan tau rumah kita ini." Jawab Damar mencoba menenangkan walau sesungguh ia pin merasa gelisah.


"Nggak usah khawatir, walau kita tak membayar mereka...."


"Braakkk!


Damar dan mama Ratna terlonjak kaget mendengar pak Budi seperti melempar barang didekatnya.


"Da-mar ja-ng-an sa-m-pai ka-mu ti-dak mem-ba-yar ha-ak me-re-ka." Suara pak Budi dengan sangat kesulitan dalam keadaan dirinya yang mengalami strok itu.


"Mes-ki ki-ta ha-ru-s men-ju-al ru-ma-h i-ni se-ka-li pu-n..."


"Tapi pah....."


Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Damar dan mama Ratna saling berpandangan. Mimik wajah mereka berubah sangat tegang dan gelisah.


Dari arah depan Bu Ijah berlarian dengan tergopoh-gopoh. Wanita tua itu mengusap keringatnya dan dengan nafas terengah-engah ia bertutur.


"Nyah, bapak.... Didepan ada banyak orang mau menerobos masuk. Satpam yang berjaga kewalahan menahan gerbang. Mereka menuntut nyonyah dan mas Damar untuk keluar...."


"Apaa?" Damar dan Mama Ratna serentak.


"Mereka terus meneriakkan gaji mereka pak, nyah."tutur Bu Ijah lagi.


"KELUAR! JANGAN SEMBUNYI!"


BAYARKAN GAJI KAMI!"


"BERIKAN HAK KAMI!"


Damar pun keluar seorang diri, untuk menenangkan para pekerja yang bahkan nekat sampai kedepan rumah. Sementara mama Ratna menunggu dengan ketakutan di didalam bersama pak Budi.


"Apa salah kita pa, kenapa nasib kita begini? Huhuhu...." Tangis mama Ratna berlutut di samping suaminya duduk. Ia menyentuh tangan pak Budi. Lalu menyenderkan kepalanya di sana.


"Apa salah kita pah?" Tangis Bu Ratna lagi.


Sementara itu, di luar damar mencoba menenangkan para pendemo.


"Mohon tenang! Kami pasti akan membayar semua gaji kalian, tanpa terkecuali. Tapi tolong, beri kami waktu.."


"Waktu sampai kapan? Kami lelah di beri janji-janji palsu." Seru seorang yang sepertinya ketua organisasi pekerja.


"Mohon bersabar, kami sangat down sekarang. Kami butuh waktu untuk melelang aset-aset kami agar bisa membayar kalian para pekerja. Karena itu, mohon bersabar. Ini cobaan."


"Kami butuh kepastian!"


"Benar! Kami butuh kepastian."

__ADS_1


"Baik. Akan coba kami selesaikan sampai akhir tahun ini." Janji Damar yang melihat para pendemo sudah sangat kehilangan kesabaran."Karena kami tidak bisa langsung mendapatkan pembeli dengan cepat. Dan masih banyak pembayaran yang harus kami selesaikan."


"Penuhi janji mu pak."


"Kami tidak bisa menunggu selama itu...."


"Kami akan terus berdemo sampai hak kami di penuhi!"


Setelah diskusi yang cukup alot, akhirnya Damar dan perwakilan dari pekerja bersepakat. Damar akan menyelesaikan pembayaran gaji pada akhir bulan ini.


Damar menjatuhkan bobotnya ke sofa tamu. Ia sangat lelah. Menghadapi para pendemo sungguh menguras tenaga, emosi dan pikiran.


"Dam, dari Maan kita akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu bulan dam?"


"Jual semua aset kita ma. Hanya itu ..."


Mama Ratna menangis tersedu. Sedangkan Damar hanya memijit pelipisnya. Kepalanya serasa sangat pusing. Sementara pak Budi yang sudah tak bisa apa-apa lagi hanya memejamkan matanya meratapi semua yang terjadi.


"Nyah, ada tamu didepan." Ucap Bu Ijah dengan wajah gelisah.


"Hah?? Tamu apa lagi?"


"Tenang ma, jangan panik dan terbawa emosi lagi, damar nggak sanggup disaat sulit begini malah harus merawat dua orang tua Yangs stroke."


"Damar!"


"Ha-ha Damar hanya bercanda mama. Plis mama jangan marah-marah lagi, kita lihat saja siapa tamunya." Ujar Damar mencoba mencairkan suasana.


"Bu, suruh aja masuk."


"Baik."


Tak lama, bi Ijah membawa rombongan tamu masuk keruang utama.


Mata Damar melebar, begitupun mama Ratna yang bahkan mulutnya pun sampai ikut membulat sempurna. Sementara pak Budi hanya menyipitkan matanya seolah sudah menduga siapa yang datang...


Bersambung..


Heemmm, kira-kira siapa ya yang datang?


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️


__ADS_2