
"Maaf Nad, aku mengkhianatimu lagi."
Damar menyembunyikan wajahnya diantara lengan yang ia tumbukan di pagar pembatas balkon kamarnya, malam itu. Seusai ia dan Rinjani melakukan hubungan yang cukup panas setelah sekian lama tak menyentuhnya, namun ternyata rasa yang Rinjani berikan membuat Damar tak mampu mengingat istri pertamanya, Nadia. Hingga hanya ada dia dan Rinjani.
"Mas."
Damar yang tengah meruntuki dirinya sendiri dibawah langit malam, menoleh memandang sosok yang memanggilnya diambang pintu. Rinjani masih dengan linggeri di tubuhnya, membiarkan angin membelai kulit mulus itu dengan lembut, dan memainkan rambut Rinjani yang panjang.
Jakun Damar turun naik. Matanya terpaku pada istri cantiknya yang ia tak tau sedang berwajah apa. Ia tak bisa membacanya, sedihkah, bahagiakah.
"Mas Damar kenapa diluar sendiri malam-malam gini?"
"Cari angin Rin." Damar berbalik dan berjalan mendekat."Diluar dingin, kenapa hanya memakai baju setipis ini?"
"Aku membuka mata, dan Mas Damar nggak ada."
"Maaf, aku cuma cari angin." Damar mendekatkan wajahnya mencium pipi Rinjani. "Ayo tidur lagi."
Damar mengendong Rinjani dan membaringkannya diatas ranjang. Melihat tubuh Rinjani dengan linggeri yang begitu menggoda, membuat pria itu menelan ludahnya beberapa kali.
"Maafkan aku Nad."
Damar mendekap tubuh istrinya, dan menyatukan bibir dengan bibir Rinjani, tangan Rinjani memeluk leher suaminya. Rinjani merasa sebahagia ini, bagai disiram air setelah gersang yang sangat lama.
Keesokan paginya, Rinjani mendapati sisi ranjangnya yang kosong, Rinjani segera bangun. Malam yang sangat panjang dan begitu indah, mungkinkah hanya mimpi? Jantungnya berdetak cukup kencang, tubuhnya serasa tegang dan lemas. Gegas dia berjalan ke meja rias, melihat pantulan dirinya, mencoba memastikan jika semalam bukanlah mimpi. Rinjani mengulas senyum lega dan bahagia. Tanda yang Damar buat menodai kulit putihnya yang mulus.
Tanpa sadar butiran bening meluncur di pipinya. Rinjani sangat bahagia. Ia tertawa tanpa suara, menutup mulutnya dan melihat tanda-tanda kemerahan yang Damar buat semalam.
"Mas Damar...."
Rinjani yang masih diliputi rasa bahagia itu, berjalan sambil menghapus air mata bahagianya.
"Mas?"
Rinjani mencari-cari keberadaan suaminya, ia membuka pintu kamar mandi. Akan tetapi tak ia temukan disana. Rinjani berpikir sejenak, ia lalu membersihkan diri. Barulah ia keluar kamar dan mencari suaminya lagi.
"Ada apa Rin?" Mama Ratna yang melihat menantunya bangun kesiangan itu, menatap Rinjani dengan heran.
"Mas Damar mana ma?"
"Udah berangkat kerja."
"Loh, kok nggak bangunin Rinjani sih?"
"Katanya nggak tega liat kamu pules."
"Terus? Rinjani kan harus kerja juga. Udah telat nih."
Mama Ratna mengulas senyum maklum, apa lagi melihat ada beberapa tanda di leher Rinjani.
"Katanya Damar dah mintain ijin kamu nggak masuk hari ini."
"Haahh, kok mas Damar sembarangan gitu sih."
Rinjani menggerutu, ia ada jadwal meeting dengan beberapa vendor hari ini. Bisa-bisa jika dia tidak masuk malah jadi dianggap tidak profesional. Ia pun menghubungi bagian HRD. Bahwa dia akan datang sedikit terlambat.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke kantor Rinjani yang diantar oleh sopir. Menghubungi bos nya Zeo. Melakukan panggilan Vidio. Namun, hingga Rinjani sampai di kantor pun bosnya itu tidak mengangkat panggilannya.
"Ya ampun. Jangan-jangan bos marah lagi."
Rinjani memasang syal di lehernya untuk menutupi bagian yang Damar tandai. Ia akan sangat malu jika datang terlambat dan terlihat bekas itu dilehernya, bisa-bisa teman-teman nya menggoda nggak ada habisnya.
###
Siang itu seusai makan siang dengan para vendor-nya. Rinjani tak sengaja berpapasan dengan Zeo, wajah bosnya itu terlihat sangat kuyu dan sayu. Seperti orang yang telah kehilangan semangatnya. Rinjani tersenyum menatap hangat Zeo. Pandangan mata Rinjani memancarkan kebahagiaan, tentu itu bisa Zeo baca, sepanas apa hubungan Rinjani dan Damar semalam.
Jantung Zeo berdenyut kuat, rasa sakit itu menyeruak. Ia menyentuh dadanya dan sedikit meremasnya.
"Bagaimana malam mu?"
Rinjani mengulas senyum lebar, "Terima kasih."
Zeo melirik kecil pada leher Rinjani yang syal tipisnya sedikit melorot, hingga menampakan tanda merah disana. Rasa sakit itu menyeruak lagi.
"Apa kau bahagia?"
Rinjani mengangguk cepat dengan senyum yang sangat lebar. "Terima kasih Zeo, aku akan menepati janjiku. Kau yang Menang."
"Sesuai perjanjian. Katakan." Ucap Rinjani dengan wajah yang masih memancarkan bahagia.
"Mmmm .. kalau begitu, aku minta...." Zeo mengerling nakal pada wanita dihadapannya."Cium."
Rinjani tertegun sesaat, lalu ia tergelak...
"Aha-ha-ha.... Kau membuatku malu saja. Kalau bercanda, jangan kelewatan. Ini di kantor bagaimana jika ada yang mendengar? Mereka bisa salah paham."
Zeo tersenyum tipis, bahu Rinjani masih berguncang oleh tawa nya. "Papa Budi mengundangmu makan malam."
"Yah, mungkin mereka akan kabur. Tapi, entahlah. Lihat saja nanti."
"Bagaimana dengan mu?"
"Aku tidak keberatan, lagi pula, kamu kan memang bagian dari keluarga papa."
"Meski itu akan membuat suami pergi lagi?"
Rinjani mengulas senyum, ia mengerti maksud Zeo. Seperti beberapa waktu yang lalu. Ibu dan suaminya pergi karena ada anak dari istri pak Budi yang lain di rumah utama.
"Kalau boleh egois, aku tidak mau. Tapi, hati ini tidak mengijinkan." Rinjani menyentuh dada kirinya sembari mengumbar senyum damai."Jadi, datanglah, adik ipar."
"Bos. Disini aku bos mu."
"Okey, kami menunggumu di rumah bos." Pungkas Rinjani melambaikan tangannya sambil berjalan melanjutkan langkahnya yang tertahan.
Zeo memandang punggung Rinjani, lalu menghela nafas panjang.
"Maaf, jika nanti kamu terkejut. Mungkin lebih tepatnya suami dan mertuamu."
______
Malam itu, mama Ratna ikut membantu menyiapkan makan malam untuk tamu istimewa yang papa Rudi sebutkan. Karena ia tak tau siapa sebenarnya yang dimaksud, tentu dengan senang hati Ratna menyiapkannya. Setelah semua meja tertata rapi, ia bersiap untuk bersolek.
__ADS_1
Rinjani memilih diam, karena ia tau akan bereaksi apa ibunya itu. Walau ia juga merasa bersalah tidak memberitahu akan hal ini. Semua tak lepas dari permintaan papa di malam sebelumnya. Dengan memohon papa mertuanya itu meminta Rinjani untuk merahasiakannya.
"Mas Damar kok lama sih pulang nya?" Gumam Rinjani menatap layar hp nya. Pesan yang dia kirim belum juga di balas. Ia khawatir jika Damar tidak datang, nanti malah bikin pak Budi kecewa dan marah.
Rinjani menekan tombol hijau di nomor suaminya. Saat itu juga langsung tersambung.
("Mas udah di depan Rin.")
"Iya mas, Rinjani turun."
Dengan riang gembira Rinjani menuruni tangga dari lantai atas menuju pintu utama, membukakan pintu untuk suaminya. Menyambut Damar dengan senyum termanisnya dan wajah tercantik nya.
"Kamu beda hari ini? Cantik dengan make up." Damar menyerahkan bunga lili yang tadi ia beli pada Rinjani, yang langsung menerimanya dengan senyum lebar. Terlebih ia mendapat pujian dari suaminya yang sangat jarang ia dengar. Rinjani lalu memeluk tubuh Damar. Rinjani membaui aroma yang berbeda dari tubuh suaminya itu.
Rinjani mengernyit, menatap Damar dengan pandangan aneh.
"Mas ganti parfum?"
"Nggak, kenapa Rin?"
"Kok ada bau parfum yang lain? Ini bukan parfum mas biasanya. Bukan bau parfum ku juga." Rinjani mendekatkan penciumannya membaui tubuh Damar lagi. Pria itu tampak sedikit gugup dan gelagapan.
"Ng... Anu, Rin, ini tadi ada SPG penjual parfum. Anak-anak kantor pada coba, terus aku ikut-ikutan aja semprot sedikit di badan."
"Ooh... Mas beli nggak?"
"Nggak, takut kamu nggak cocok sama baunya."
Rinjani tersenyum geli. "Ayo masuk. Mandi, terus ganti baju."
_____
Papa Rudi sedikit gelisah, ia menunggu tamunya datang yang sedikit terlambat. Pak Rudi berjalan mondar-mandir di ruang utama. Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti didepan rumah. Gegas pak Rudi berjalan menuju pintu utama.
"Siapa sih tamu istimewa nya?" Bisik mama Ratna sedikit mencondongkan tubuh pada menantunya. Rinjani hanya menanggapi dengan senyum kikuk. Sementara Damar yang duduk di samping Rinjani sibuk dengan hp nya yang menyala sedari tadi jari-jarinya sibuk memijit benda pipih itu.
"Nah, ini dia, orang nya sudah datang." Seru Pak Rudi dengan wajah gembira berjalan dari pintu utama.
Bersambung...
_____
Wah, gimana ya Readers reaksi dari mama Ratna dan Damar kalau tamu istimewa yang ditunggu adalah Zeo?
Kasih jawaban di kolom komentar ya....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️