
"Bu Ros."
Bu Ros membukakan pintu kamarnya, "Iya mbak Rinjani?"
"Boleh aku masuk?"
"Tentu saja."
Bu Ros membuka pintu kamarnya lebar-lebar, membiarkan Rinjani masuki kamarnya. Rinjani menyapu pandangannya keseluruh ruangan itu.
"Kamar ibuk rapi ya."
"Yaaahh,, namanya juga di tinggali setiap hari, dibersihkan, mbak."
Rinjani mengulas senyum. Ia lalu memandang ke arah foto yang dulu pernah dia lihat.
"Itu?" Tunjuk Rinjani pada foto diatas nakas.
"Oh, ini? Ini foto suami saya mbak Rinjani." Lontar Bu Ros sembari mengambil foto itu.
"Itu... Bocah lelaki itu ..."
"Oh, ini anak majikan saya dulu." Jelas Bu Ros, ia lalu tersenyum melihat Rinjani yang terdiam sesaat.
"Ia mirip dengan ....."
"Itu memang mister Zeo mba Rinjani." Jawab Bu Ros cepat. "Dulu, dia anak yang sangat malang, ibunya mengalami kelumpuhan karena sering mendapat perlakuan yang tidak baik."
Bu Ros menerangkan bagaimana dulu Rihanna menginjakkan kaki ke kediaman Rubiandini. Dan bagaimana perlakuan dari Ratna yang cemburu Buta. Hingga Rihana mengalami kelumpuhan akibat perbuatan Ratna..
Rinjani menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan, ia terkejut mama Zeo bisa mengalami hal semacam itu. Disaat suaminya itu masih sekecil itu. Mungkin umurnya belum genap 10 tahun.
"Saat tragedi itu, suamiku membawa mereka kembali kerumah kami. Mereka hanya tinggal selama beberapa hari dengan kami. Dan di jemput oleh saudara dari nyonya Rihana. Setelah itu, kami sempat hilang kontak." Jelas Bu Ros dengan pandangan teduh.
__ADS_1
"Mbak Rinjani, mungkin ini saatnya mbak Rinjani tau semua tentang tuan muda Zeo." Ucap Bu Ros lagi sembari menyentuh punggung tangan Rinjani.
Rinjani yang mendengar penuturan tentang masa lalu Zeo. Dan tujuan pria itu kembali ke rumah pak Budi adalah untuk menuntaskan dendam nya. Dari Bu Ros yang ternyata adalah pengasuh Zeo semasa kecil. Namun ia sama sekali tidak berat sebelah.
Rinjani berjalan dengan perasaan yang ia tak tau apa. Hingga ia akhirnya justru berhenti di depan rumah pak Budi. Rinjani menatap bangunan itu. Tampak beberapa orang pria yang sedang memasang tanda rumah disita.
Di dalam halaman rumah yang luas itu masih ada beberapa mobil. Salah satunya milik Zeo yang sudah tentu Rinjani sangat mengenalinya. Rinjani melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Suara tangisan dari Ratna terdengar sangat Menyakitkan. Langkah kaki Rinjani terhenti, melihat di ruang tamu, Ratna yang bersimpuh di lantai dan pak Budi yang duduk diatas kursi roda disebelahnya. Beberapa meter didepannya Zeo berdiri dengan angkuh.
"Memohonlah, merangkak lah di bawah kakiku."
Dengan cepat Ratna merangkak hingga di depan Zeo berdiri.
"Saya mohon ...."
Zeo tergelak. "Bagaimana rasanya? Dulu kau perlakukan ibuku dengan sangat buruk. Bahkan saat dia merangkak seperti ini padamu kau justru menendangnya. Haruskah, aku melakukan hal yang sama?"
Bahu Ratna semakin bergetar hebat. Tangisnya semakin terdengar pilu. Sementara Damar yang sudah babak belur hanya bisa menatap melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Sedangkan pak Budi, yang sudah tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya hanya bisa memejamkan matanya. Dengan air mata yang meleleh dari tempatnya.
Kini setelah mereka bangkrut, bahkan tak memiliki tempat bernaung. Kemana lagi bisa pergi kecuali Zeo mau berbaik hati membantu keluarga yang sudah menghancurkan hidupnya dan membuatnya trauma cukup lama.
Rinjani bersitatap dengan Zeo yang saat itu tak sengaja melihat kearahnya. Rinjani masih mematung ditempatnya berdiri, saat suaminya itu memilih mengalihkan pandangannya.
Aku akan memberi kalian tempat tinggal yang lain." Pungkas Zeo sembari melangkah keluar rumah.
Zeo menatap Rinjani yang berdiri dihadapannya. Menatapnya dengan mata yang entah apa.
"Beginilah aku yang sesungguhnya, aku bukan pria baik Rinjani seperti yang kamu sangkakan."ucap Zeo menatap wajah istrinya."Bencilah aku... Aku...."
Rinjani memeluk tubuh kekar Zeo. Ia merasa sangat sedih. Ia melepas pelukannya pada pria yang bahkan tak memeluknya balik.
"Sejak awal kedatanganku untuk dendam ini... Apa kamu kecewa?"
Rinjani menatap iris mata Zeo, menggeleng pelan."Aku tidak kecewa. Bagaimana bisa aku kecewa pada pria rapuh dan tersakiti ini namun masih bisa memberikan kekuatan pada orang lain. Mencintai anak dari pria yang dia dendami."
__ADS_1
Mata Rinjani sudah sangat basah, genangan di matanya meluncur bebas kini. Menyentuh tubuh Zeo dengan kedua tangannya.
"Bagaimana bisa aku kecewa pada pria hangat seperti ini, yang mencintai kami tanpa syarat. Zeo..."tangis Rinjani memeluk leher Zeo.
Kali ini, Zeo membalas pelukan istrinya.
"Maafkan aku..."
Rinjani menggeleng pelan,
"Terlepas seperti apa tujuanmu, aku mencintaimu. Kamulah kekuatan dan dunia kami, Ze."
_______
Beberapa hari kemudian.
Zeo dan rinjani berjalan di sebuah pemakaman, dengan jemari yang saling bertautan. Dibelakangnya Sam berlarian dengan riang, Bu Ros dan Jiechi menyusul dengan dua keranjang bunga di masing-masing tangannya.
Mereka mengunjungi makan Rihana, mama Zeo yang telah meninggal. Setelah membersihkan puasara ibunya, mereka menabur bunga.
"Terima kasih, karena sudah melahirkan dan mbesarkan suamiku, ibu." Lirih Rinjani mengusap batu nisan bertuliskan Rihanna. Sebelah tangannya menautkan jemari pada tangan Zeo. Kedua nya saling tatap dan melempar senyum.
Sementara Sam menyelinap dan mengambil duduk diantara Daddy dan bundanya. Membuat Rinjani dan Zeo berjarak dengan tersentak lalu tersenyum geli bersamaan.
"Syukurlah, nyonya Rihanna, anda sudah bisa tenang sekarang. Anak anda sudah bahagia dengan keluarga kecil nya."
Bu Ros merogoh saku bajunya, ia mengeluarkan sebuah testpack bergaris dua. Lalu mengulas senyuman.
"Sepertinya, rumah itu akan semakin ramai."
____
Timit
__ADS_1