
Hari belum begitu malam, baru saja menginjak petang, Damar dan Nadia sudah berpeluh oleh permainan ranjang mereka. Dalam dekapan suami sirinya, Nadia masih membuka matanya. Melirik kecil wajah Damar yang terlihat menutup matanya dari bawah,
"Mas."
"Heeemm?"
"Mas belum tidur?"
"Aku nggak boleh tidur Nad, ntar kebablasan. Mas harus pulang."
"Ini juga rumah mas."
"Kamu kan tau rumah yang mas maksud."
Nadia terdiam, ia juga ingin disebut sebagai rumah. Rumah yang sebenarnya, ingin disayangi oleh mertua dan tinggal di rumah besar itu. Walau ia tak kurang limpahan kasih sayang dan materi dari Damar. Tapi, ia masih merasa kurang. Setiap kepergian Damar ke rumah Rinjani, Nadia tak pernah merasa rela, ia pasti menangis setelahnya. Apa lagi bila membayangkan Damar dan Rinjani tidur di ranjang yang sama. Rasanya, sudah tak berbentuk lagi hati Nadia.
Bulir bening meluncur dari pelupuk matanya. Rasa sesak itu menyeruak lagi dan terus menghimpit dadanya. Sakit. Sakit sekali. Rasa sakit ini yang membuat Nadia semakin serakah, ingin memiliki Damar seutuhnya. Dan menyingkirkan Rinjani. Tapi bagaimana?
###
Di lokasi yang berbeda beberapa jam setelahnya.
Rinjani membuka matanya, saat kandung kemihnya terasa penuh. Ia bergegas menuju kamar mandi. Selepas dari sana ia kembali keranjang. Ia tersenyum melihat Damar sudah terlelap disana.
"Apa mas Damar yang membawaku kemari?" Gumam Rinjani sembari tersenyum dengan sangat manis. Ia ingat saat itu ia tertidur di sofa tamu karena menunggu suaminya pulang.
Rinjani menaiki ranjang dan berbaring di sisi suaminya. Memandang wajah tenang Damar yang tengah terlelap. Rinjani memeluk tubuh pria dihadapannya. Damar pun berbalik memeluknya dengan erat walau matanya masih terpejam.
Keesokan paginya, Rinjani membuka matanya, meraba sisi tempatnya terbaring, akan tetapi hanya ada ruang hampa. Rinjani mengernyit, ia yakin Damar semalam tidur disana. Tak mungkin itu semua hanya mimpi. Sayup Rinjani mendengar suara dari arah balkon. Perlahan Rinjani mendekat.
Damar berdiri dengan menghadap ke luar, lirih suaranya agar tak terdengar bila ia sedang menerima panggilan dari Nadia.
"Nad...."
("Mas, Nathan sakit.") Suara parau Nadia di ujung sana seketika membuat Damar melebarkan pupil matanya.
("Nathan panas mas, tadi sempat kejang. Aku harus bagaimana?") Lagi-lagi Nadia bersuara dengan parau di selingi isakan.
"Tenang. Kamu jangan nangis ya. Mas kesana."
("Iya mas, Nadia tunggu ya. Cepet mas.") Isak Nadia di sebrang sana.
Gegas Damar masuk ke kamar melalui pintu balkon dengan panik dan gusar, ia tertegun melihat Rinjani berdiri dengan piyama ditubuhnya, memandang wajah Damar dengan mata penuh tanya. Hati Damar diliputi kegelisahan, gelisah akan Nathan yang sakit dan kepanikan Nadia seorang diri jauh darinya, menangis menanti kedatangannya disisinya. Dengan wanita yang kini ada dihadapannya, mungkinkah ia mendengar apa yang ia ucapkan tadi? Apakah ia ketahuan jika kini Nadia menghubunginya.
"Rinjani..."
__ADS_1
"Siapa mas telpon pagi-pagi begini?"
Ada sedikit perasaan lega, Rinjani ternyata tak tau dan tak curiga. Damar memutar otaknya untuk bisa pergi menemui Nadia.
"MMM... Itu Rin, ada masalah di proyek."
"Apa?"
"Aku harus pergi sekarang."
"Apa masalah lapangan juga harus mas yang turun tangan sendiri?" tanya Rinjani sedikit heran.
"Ini mendesak Rin. Mas benar-benar harus kesana." Damar memajukan langkahnya semakin dekat pada Rinjani.
"Tapi ini masih terlalu pagi loh mas, masih jam lima subuh. Hari Minggu lagi."
"Ini mendesak Rin. Kan udah mas bilang. Mendesak."
Wajah Damar terlihat sangat memohon. Juga khawatir yang berlebihan, membuat Rinjani dengan terpaksa memaklumi dan berusaha berprasangka baik.
"Terserah mas aja."
Rinjani mencoba mengerti, ini adalah hari Minggu pertama Damar ada dirumah. Ia pikir mungkin bisa menghabiskan waktu bersama. Nyatanya tidak begitu. Pekerjaan lebih penting bagi Damar. Begitu yang ada dalam pikiran Rinjani.
Damar yang merasa mendapat lampu hijau langsung berlari keluar kamar setelah menyaut kunci mobil dan dompetnya. Melajukan kendaraannya dengan kencang.
______
Dalam perjalanan kerumah sakit, Nadia terus menangis memeluk Nathan dan menciumi wajah bocah berusia lima tahun itu. Damar pun mengemudi dengan wajah khawatir dan cemas. Ia tak tega melihat Nadia yang terus menangis sejak ia datang tadi. Tangan Damar terulur mengelus kepala Nadia. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Damar hanya ingin sampai di rumah sakit agar Nathan bisa segera ditangani.
Beberapa jam berlalu, Nathan sudah mendapat perawatan dan bisa kembali pulang, memang tidak rawat inap hanya ditangani di IGD saja. Setelah melalui proses pengobatan dan mengambil obat, Damar membawa Nadia beserta Nathan kembali ke rumah. Damar membaringkan Nathan dengan hati-hati di ranjang kamar berbentuk mobil lightning McQueen.
Damar mengelus dengan sayang rambut anak satu-satunya. Ia lalu mengecup kening Nathan. Nadia duduk dibibir ranjang, wajahnya masih terlihat begitu sendu. Ia memandang suaminya dengan harap.
"Mas."
Damar menoleh,
"Apa mas akan kembali ke rumah itu?" Tanya Nadia dengan suara parau.
"Nad."
"Aku takut mas, kalau Nathan...." Nadia tak sanggup Lagi meneruskan kalimatnya, ia sudah terisak dengan bahu yang berguncang pelan.
"Nadia...." Sebut Damar lembut menyentuh lengan atas istrinya. Damar membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mengusap kepalanya dengan sayang. Mata Damar berembun, ia mendongak agar air matanya urung tergelincur dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Mas nggak akan pergi Nad. Disini tempat mas seharusnya." Ujar Damar mencoba menenangkan istrinya."Bersama kalian, kamu, dan Nathan."
Nadia mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami dari bawah dagunya.
"Mas Damar nggak akan kembali kesana?"
"Hari ini nggak Nad."
"Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?"
"Nadia...." Dessah Damar dengan sabar."Mas....."
Nadia lekas melepaskan pelukan Damar, menjauh dari pria itu dan memalingkan wajahnya.
"Aku tau ini egois mas, tapi, kami butuh kamu mas. Butuh kehadiranmu, butuh kepastian mu, mau sampai kapan aku dan Nathan terus menunggu. Terus berada dalam bayang-bayang wanita itu?"
"Nad, mas hanya sayang sama kamu. Sama kalian."
"Tunjukkan mas."
"Mas udah nurutin semua yang kamu mau. Apa ini masih belum cukup?"
"Belum semua mas, belum."
"Nadia..." Lirih Damar mencoba bersabar dan menatap istrinya dengan permohonan.
"Tinggalin Rinjani mas. Atau tinggalin kami."
Tentu saja kalimat yang keluar dari mulut Nadia membuat Damar terkejut. Sebuah pilihan yang sulit, di satu sisi keluarga kecil yang sangat ia cintai, dan di sisi lain untuk kelangsungan karir dan hidupnya.
______
Bersambung...
Menurut kalian, apa yang bakal Damar pilih atau lakuin?
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️