Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 27 • IPAR LAKNUT - Healing 2 •


__ADS_3

Damar membawa Nadia kedalam dekapannya. Malam itu, setelah Nathan tidur, Damar dan Nadia menghabiskan malam bersama dalam cinta kasih yang membara diatas ranjang kamar hotel.


Malam ini adalah malam ke tiga mereka di Bandung.


"Mas.."


"Ada apa Nad?"


"Aku penasaran sama kehamilan Rinjani."


Damar hanya menyentak nafasnya. Ia pun merasa kesal Rinjani berhubungan dengan pria lain. Lalu berpura-pura hamil anaknya. Sangat licik. Begitu pikiran Damar.


"Dengan siapa dia berhubungan ya mas."


"Nggak tau Nad, mas nggak perduli." Ungkap Damar mengeratkan pelukannya dan tetap memejamkan mata."Nggak penting buat mas. Itu bukan anak mas."


"Tapi Nadia nggak nyangka Rinjani akan berbuat begitu. Nadia pikir dia setia padamu mas."


"Sudahlah Nad. Nggak usah bicarain dia lagi. Ini malam milik kita. Jangan ada nama Rinjani disebut lagi."


"Baiklah mas." Ucap Nadia menyetujui, ia tersenyum melihat wajah suaminya. Ia senang Damar memang gak perduli lagi dengan Rinjani, Nadia sempat berfikir jika Damar menyimpan sedikit rasa pada Rinjani, karena waktu mengetahui Rinjani hamil saat Damar vasektomi, Damar terlihat sangat kesal.


Damar mengeratkan pelukannya. Mengecup ringan punca kepala Nadia. Ia menghela nafasnya. Walau bagaimanapun Damar tetap terganggu. Rinjani yang sangat ia kenal tidak mungkin melakukan hubungan dengan pria lain, nyatanya kini tengah hamil disaat dirinya sudah vasektomi. Tak ada jawaban lain kecuali dia berselingkuh.


'Tapi, dengan siapa dia berselingkuh?' pikir Damar. 'Kenapa aku jadi tak rela dia hamil dan bukan anakku? Ah, sial kenapa aku jadi kesal begini mengingat Rinjani hamil anak pria lain?'


###


Zeo menyenderkan punggungnya pada pintu kamar Rinjani. Ia menutup matanya, membiarkan tubuhnya melorot kebawah hingga ia duduk dengan kaki dilipat didepan tubuhnya.


"Rin....."


Suara tangisan Rinjani terdengar tepat di belakang pintu. Ia tau wanita itu kini sudah berpindah di balik pintu begitu mendengar Zeo akan mendobraknya.


"Kenapa terus menangisi laki-laki yang tak pantas kau tangis Rin."


"Aku nggak menangis untuknya?" Ucap Rinjani dari balik pintu.


Zeo tertawa kecut.


"Kau sedang menangis sekarang, suaranya sampai terdengar disini."


"Aku hanya berfikir. Kenapa dia menolaknya, menolak anak yang bahkan belum lahir ini." Tangis Rinjani."Apa salahnya sampai ia tak mau mengakui?"


Hening sesaat, hanya suara lirih tangisan Rinjani yang terdengar.


"Zeo, apa bila vasektomi sudah tak mungkin untuk bisa hamil lagi?"


"Entahlah. Ada kemungkinan terjadi kebocoran, tapi itu hanya sebagian kecil."


"Lalu anak siapa ini? Jika bukan anaknya? Apa ini milikmu?" Tangisan Rinjani makin terdengar santer dan pilu saat mempertanyakan itu milik Zeo atau bukan.

__ADS_1


"Maaf...."


Bahu Rinjani makin hebat berguncang. Pipinya makin basah oleh kucuran butiran bening dari matanya.


"Kejadian itu, sudah berlalu lebih dari dua bulan yang lalu. Selama itu, apa kamu melewati siklus haid mu?"


Bahu Rinjani masih berguncang hebat, air matanya terus berproduksi.


"Iya. Aku juga sudah mengeceknya, dan itu negatif."


Zeo tau, ia pun sudah menggunakan pengaman saat melakukannya. Harusnya memang bukan miliknya. Dan di malam setelah ia tinggal di rumah utama saat memindahkan Rinjani ke kamar, ia hanya menciumnya. Tidak lebih. Zeo kembali melontarkan pertanyaan pada Rinjani, mesti tau itu akan menyakiti wanita di balik pintu itu. Namun ia lakukan agar mata Rinjani terbuka dan yakin jika itu memang anak Damar.


"Apa kau pernah melakukan hal itu dengan pria lain?"


Suara tangisan Rinjani makin santer terdengar, hanya suara tangisan yang terdengar cukup lama dari dalam.


"Apa kamu juga meragukanku Ze? Aku bukan wanita seperti itu." tangis Rinjani makin kencang.


"Tidak. Sama sekali. Aku percaya padamu."


Tangisan Rinjani terdengar lagi, " Kenapa mas Damar tidak?"


"Rin, dengarkan kataku sekarang. Buka pintunya, akan kukatakan semua yang aku tau. Kenapa Damar tidak mengakui anak itu apalagi mempercayaimu."


Rinjani beranjak dari duduknya, ia membuka kunci pintu dan menatap wajah Zeo yang sudah berdiri didepannya.


Zeo memandang wajah Rinjani yang basah oleh air matanya. Wajah sembab itu menusuk dadanya. Tepat mengenai hatinya. Bagaimana tidak, wanita yang ia cintai tanpa sengaja justru menangis berulang kali untuk pria yang menghianati nya sejak pertama mengucapkan janji dan sumpahnya.


"Aku jadi tak berselera untuk bercerita. Ayo basuk wajahmu dulu." Zeo menuntun Rinjani memasuki kamar dan langsung menuju kamar mandi. Ia membantu Rinjani membasuh wajah cantiknya yang sembab. Dengan sabar Zeo membantu Rinjani mengeringkan wajahnya yang basah. Membantunya memakai sedikit riasan wajah, agar tak terlalu pucat. Mengikat rambut wanita yang tergerai berantakan itu.


"Nah, sekarang sudah lebih baik."


Zeo memandang wajah Rinjani yang masih terlihat sembab dan sesenggukan.


"Sekarang tidurlah."


"Bohong! Kau bilang mau cerita."


"Iya, aku akan bicara, kalau kamu sudah tidak menangis lagi."


"Aku udah nggak nangis."


"Tapi masih sesenggukan."


"Jadi tidurlah, besok pagi aku katakan setelah kamu selesai sarapan. Heemm?" Zeo menatap Rinjani dengan sayang. Mengusap kepala wanita yang masih bersedih itu.


"Kalau kamu patuh, aku akan ceritakan semuanya. Sampai air matamu kering dan habis. Sekarang tidurlah, demi bayi yang ada disini. Ibu hamil nggak boleh bersedih dan menangis."


###


Keesokan pagi nya, seusai sarapan Zeo dan Rinjani mengelilingi kota malang dengan mobilnya. Sesekali Zeo masih harus menghentikan laju mobilnya karena Rinjani ingin makan ini dan itu. Dari pagi hingga menjelang sore, Rinjani hanya mengunyah makanan dan lebih banyak tertawa. Ia sangat ceria dan terlihat sehat.

__ADS_1


Namun, di malam hari, hatinya sangat sedih. Ia juga beberapa kali memuntahkan isi perutnya. Dengan sabar dan telaten Zeo merawat Rinjani. Mengikuti semua kemauan wanita yang sedang ngidam dan mabuk itu. Mabuk hamil maksudnya.


"Ze, katakan padaku tentang mas Damar."


Pertanyaan yang tak bisa lagi Zeo hindari.


"Baiklah, tapi berjanjilah padaku. Jika kamu menangis, ini adalah tangisan terakhirmu untuknya."


Rinjani mengangguk pelan.


"Sebenarnya, Damar sudah berhubungan dengan Nadia, UMM, kamu tau siapa Nadia?"


Rinjani mengangguk. "Istri mas Damar juga."


"Benar. Damar dan Nadia sudah lama berpacaran, karena tak mendapat restu dari orang tua mereka nikah siri. Lalu, memiliki anak bernama Nathan."


"Aku sudah bertemu dengan mereka."


"Lalu kalian menikah. Damar dengan terpaksa menikah denganmu karena papa Budi akan mencabut hak warisnya. Dia vasektomi demi Nathan. Agar hanya dia satu-satunya anak yang Damar punya. Dan lahir dari rahim Nadia."


Bahu Rinjani berguncang, ia menangis sampai tersengal. Zeo memeluk tubuh Rinjani, membawa wanita itu kedalam dadanya. Dengan lembut menggosok lengan atas Rinjani.


"Karena cinta itu hanya milik Nadia dan Nathan."


Rinjani makin sesenggukan mendengar ucapan Zeo. Pria itu mengeratkan pelukannya dan mengucup lembut kepala Rinjani.


"Kau mau aku teruskan?"


Rinjani yang masih sesenggukan mengangguk pelan dalam pelukan Zeo.


"Rinjani, lepaskanlah Damar. Tidak masalah walau dia menceraikan mu. Kamu tetap harus bahagia. Anakmu juga. Jika kamu terus menangis, yang disini...." Zeo menyentuh lembut perut Rinjani yang masih rata itu."... Dia juga bersedih. Kamu harus kuat demi dia."


"Lepaskan Damar, sudah cukup sampai disini saja kamu menangis. Kamu berhak bahagia."


"Tidak dengan Damar, kamu masih bisa berbahagia dengan yang lain. Dia misalnya...."


Zeo menyentuh lagi perut Rinjani. Rinjani pun memeluk perutnya sendiri. Ia sadar, ia tau, apa yang Zeo katakan benar, untuk apa dia terus menangis saat anak nya masih sangat kecil di kandungan. Ia harus kuat dan menepis semua rasa sakitnya. Demi anaknya. Demi janin yang kini berada di dalam perutnya. Rinjani harus bahagia.


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2