Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 35 • IPAR LAKNUT - Awal kehancuran •


__ADS_3

"Kau!"


Zeo tersenyum tipis dengan sudut bibir yang terangkat sebelah. Damar yang masih terkejud melihat ke arah pak Budi meminta penjelasan. Bukankah Zeo harusnya sudah mundur dari jabatan direktur sayap kanan? Lalu kenapa pria itu masih disana? Dengan dua orang dibelakangnya.


"Duduklah, O." Titah pak Budi tanpa menghiraukan tatapan protes Damar.


Zeo pun duduk berserta dua orang yang bersamanya.


"Dam, Mereka ini adalah tim audit kita. Dan Zeo, adalah salah satu pemegang saham terbesar yang kita miliki."


"Apa?"


Damar menatap nyalang pada Zeo. "Kau..."


Lagi-lagi Zeo hanya tersenyum tipis tanpa ucapan apapun, namun matanya menyiratkan ejekan.


"Apa yang kalian temukan?" Tanya pak Budi pelan menatap pada Zeo dan dua orang audit di samping anak anak bungsunya.


"Kami perlu melakukan audit secara mendalam. Di beberapa bagian kami mengalami kesulitan di audit internal." Jawab seorang dari tim.


"Benarkah? Dibagian mana?"


Orang itu melirik Damar dengan senyum sinis. "Dari sayap kiri."


Tangan Damar terkepal kuat."Apa maksudmu? Kau mau bilang kami menghalangi gerak kalian?"


"Begitulah kenyataannya. Kami bahkan tak bisa mengakses secara legal. Jika memungkinkan dan di ijinkan kami bisa saja melakukan peretasan untuk mencapai tujuan kami. Tapi itu tidak dibenarkan. Tuan Zeo ingin kita mengikuti aturan."


"Kurang ajar? Apa maksudmu?" Damar menjadi sangat emosi, menggebrak meja."Kau!" Tunjuknya menatap Zeo nyalang."Kau pasti bermaksud menjebakku kan?"


"Damar! Tenangkan dirimu. Kenapa kamu jadi kalang kabut begini?" Potong Pak Budi tegas.


"Tapi pa, dia memang sengaja melakukan ini untuk menjatuhkan ku." Damar menatap Zeo dengan emosi yang makin meluap. "Dia sama saja dengan ibunya, licik. Hanya ingin menguasai semua yang papa punya."


"DAMAR! Jaga ucapanmu!"


"Pa! Itulah kenyataannya, sejak orang ini masuk kedalam keluarga kita apalagi perusahaan ini, selalu ada saja yang menjadi penghambat. Ini lah, itu lah, dan lihat? Karena ulah nya, beberapa proyekku harus berhenti."


Pak Budi menghela nafas panjangnya mengusap wajahnya.


"Dam, papa memang memiliki keputusan akan mengarah kemana semua ini. Tapi, itu akan berimbas ke rapat dewan pemegang saham lainnya. Yang itu jelas akan semakin mempersulit mu."


"Pa?" Damar menatap tak percaya pada Pak Budi."Apa maksud papa."


"Zeo dan timnya menemukan beberapa dana ilegal yang mengalir di perusahaan fiktif. Dari sini harusnya kau tau ini akan mengarah kemana. Dam, aku akan memberimu waktu menyelesaikan semuanya."


"Tujuh bulan. Beri mereka waktu tujuh bulan, O. Ini permintaanku sebagai papa mu, dan Damar. Setelah tujuh bulan, lakukan apa yang harus di lakukan." Ucap pak Budi tegas menatap Zeo. Ia lalu berpaling menatap Damar.

__ADS_1


"Dan kamu Damar. Sebelum ini tercium oleh para pemegang saham lainnya. Atasi secepatnya. Atau, kau akan menanggung konsekuensinya."


_______


Damar membuka kasar pintu ruangannya. Ia sudah sangat marah, semua berjalan diluar rencana dan pikirannya. Dengan kesal Damar mengusap meja kerjanya hingga seluruh benda yang ada diatasnya bertebaran dan jatuh berdentang.


"Ini semua gara-gara, Zeo! Anak laknat yang merusak hidupku. Semua baik-baik saja sebelumnya. Dia... Dia.... Ini pasti rencananya menghancurkan ku."


"Kau lihat saja nanti Zeo, tak akan ku biarkan kau lepas begitu saja. Jika aku jatuh, akan kubawa kau serta." Gumam Damar dengan dada yang turun naik dan gigi yang bergemeletuk.


________


Zeo yang kini berada di dalam mobil pribadinya, menghela nafasnya.


"Aku hanya sedikit menggerakkan jari tanganku, kau sudah seheboh itu...." Kekeh Zeo dengan sudut bibir yang terangkat keatas.


###


Malam itu Nadia masih menunggu Damar kembali kerumah. Sudah beberapa hari Damar tak pulang, ia hubungi pun tak pernah di angkat ataupun pesannya tak pernah di balas.


Sejak tau Nathan bukan darah dagingnya, sikap Damar berubah drastis. Kini Nadia hanya bisa meratap, ia menangis setiap malamnya, seperti malam ini. Nadia menyusut air matanya yang membasahi pipi.


Terdengar suara deru mobil yang terparkir di garasi rumah, gegas Nadia beranjak dari tepian ranjang. Dimana ia menunggui Nathan tidur.


"Mas...." sebut Nadia lirih menatap suaminya yang kini berdiri diambang pintu rumah.


Damar memasuki rumah, lalu melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu.


"Nggak usah Nad."


penolakan Damar membuat Nadia menunduk, rasa sakit menjalari dadanya. sesak. sesak sekali.


"Bikinkan mas Teh hangat aja." ucap Damar sambil berlalu ke kamar.


Nadia menegakkan kepalanya, ia tersenyum sekilas, sepertinya Damar tak sebenci itu dengannya. Ia bersedia di buatkan minuman oleh Nadia.


Segera Nadia berjalan ke dapur dan membuatkan secangkir teh untuk suaminya.


Nadia tersentak kaget, merasakan tangan kekar Damar menyusup diperutnya.


"Mas...."


"Diamlah.... Jangan bergerak...."


Nadia menurut. Hatinya berbunga dan jantungnya berdebar kencang dengan perlakukan dari Damar yang di luar ekspektasi nya. Sesaat merasakan Damar menghirup bahunya, lalu berpindah ke lehernya.


"Mas...." dessah Nadia menikmati kecupan kecil suaminya yang sangat ia rindui.

__ADS_1


"Mas, kamu udah nggak marah lagi?"


"Marah kenapa Nad?"


"Tentang Nathan..."


"Jangan membuat moodku hilang."


###


Malam semakin larut, kedua insan itu pun larut gairah yang lama terpendam. Damar terlelap di samping Nadia setelah menyalurkan hasratnya.


Malam itu, di ranjang kamarnya, Nadia menatap Damar lembut.


"Aku pikir kamu nggak akan kembali mas, aku sedih sekali, kenapa cintamu luntur karena tau Nathan bukan anakmu... Maaf, aku tak bermaksud menghianati mu... Hanya... Waktu itu....."


_______


Hari berlalu, tak terasa usia Samudra sudah lima tahun. Anak lelaki Rinjani yang kini tinggal di Surabaya, baru saja keluar dari TK tempat Sam belajar.


"Bunda...." Seru bocah menggemaskan yang berlarian dengan lincah melihat Rinjani yang berdiri di depan gerbang menjemputnya.


"Anak bunda," Rinjani memeluk tubuh mungil anaknya, ia juga mencium pipi putra pertamanya."Nakal nggak tadi?"


"Enggak lah bunda."


"Belajar apa? Seneng nggak, Sam?"


"Aaaa,, tadi...." Sam menggantung kalimatnya, ia melihat di belakang Rinjani lalu matanya berbinar terang,


"Daddy!!!"


Rinjani menoleh, membiarkan Sam berlarian melewatinya dan menyapa seseorang yang berdiri beberapa meter dibelakangnya...


_______


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️


__ADS_2