
Setelah kembali dari Malang, Rinjani mengemasi barang-barang nya di rumah utama. Suasana di rumah itu tak lagi sama. Apa lagi, mereka tau, Damar vasektomi, sudah tentu pak Budi dan mama Ratna pun meragukan bayi milik siapa di dalam kandungan Rinjani. Walau tak mengatakan apapun, tapi sikap pak Budi yang sedikit mengacuhkan Rinjani, walau tak sepenuhnya. Tetap membuat Rinjani tak nyaman.
Setelah berkemas. Rinjani membawa barang-barang nya keluar dari kamar. Box berisi testpack miliknya itu sengaja ia tinggal didalam lemari. Berikut barang-barang pemberian Damar.
Rinjani berdiri didepan ruang kerja pak Budi. Ia berdiam disana cukup lama. Walau sikap pak Budi sedikit berubah, namun pria tua itu tetaplah pernah sangat menyayangi nya dan ia hormati.
Tok tok tok.
Akhirnya, Rinjani memberanikan diri mengetuk pintu. Tak lama pintu itu terbuka, dan Zeo yang membukanya. Pria itu berdiri tepat di hadapan Rinjani.
"Siapa O?"
"Rinjani." Balas Zeo menatap lekat pada kakak iparnya yang sedikit mengalihkan pandangan matanya ketika kedua netra mereka bertemu."Masuklah."
"Ada apa Rin?" Tanya pak Budi begitu melihat Rinjani memasuki ruang kerjanya dirumah.
"Aku... Mau pamit pa."
"Pamit?" Pak Budi menautkan alisnya menatap Rinjani.
"Malam ini aku mau pindah ke Pacitan."
"Pindah? Kenapa?"pak Budi mendekat dan menuntun Rinjani untuk duduk di sofa.
Rinjani tak menjawab, ia memilih segera menyampaikan maksudnya saja, dari pada sibuk berbasa-basi.
"Aku kemari untuk pamit pa, lain kali Rinjani katakan jika keadaan sudah tenang. Saat ini Rinjani ingin menyendiri dulu untuk sementara."
"Ini.. Bukan karena Damar kan? Dia tak pulang hal yang biasa, biarkan saja."
Rinjani menggeleng dan menyalami tangan pak Budi. Lalu mencium punggung tangan papa mertuanya.
"Rinjani akan mengunjungi papa jika menghadiri sidang perceraian nanti pa."
"Rin...."
Rinjani pamit ya."
Seusai berpamitan dengan pak Budi, ia pun berpamitan dengan mama Ratna. Wanita tua itu pun hanya biasa saja saat Rinjani pamit. Mau bagaimana lagi, baginya Rinjani sudah menghianati Damar dengan hamil disaat suaminya sedang vasektomi. Walau Ratna sendiri pun sangat kecewa dengan Damar. Karena sudah membohongi keluarga nya yang sangat mengharapkan seorang cucu.
###
__ADS_1
Sepeninggalan Rinjani dari ruangan kerja pak Budi. Zeo memandang papanya yang masih terduduk di sofa dengan tangan yang memijit ruang diantara kedua mata.
"Apa papa masih berfikir itu bukan anak Damar?"
Pak Budi mendongak menatap anak bungsu yang kini berdiri di hadapannya.
"Zeo, hari itu papa sudah menemui Damar. Dan ia benar-benar sudah vasektomi."terang pak Budi lemas. "Aku tau bagaimana Rinjani, tapi aku juga hapal bagaimana sifat Damar. Aku tak bisa menyalahkan Damar. Ia memang vasektomi, dan sekarang Rinjani hamil. Wajar jika Damar sampai semarah itu."
"Jadi karena itu papa tak mencegahnya pergi?"
"Apa yang kamu harapkan O?" Pak Budi beranjak dari duduknya."Aku juga sangat kecewa pada Damar. Dia sudah membohongi kami, yang terus mengharapkan cucu."
Pak Budi menghirup udara dan mengganti oksigen di paru-parunya.
"Selama ini aku tak pernah berfikir bagaimana hubungan percintaanmu. Siapa wanita yang kau kencani."
Pak Budi berdiri didepan laptop nya,ia mengotak-atik dan membuka beberapa file disana. Lalu menekan sebuah Vidio.
"Apa kau punya hubungan dengan kehamilan Rinjani?" Tanyanya sembari menggeser dan menunjukkan Vidio di laptopnya.
Vidio CCTV yang terpasang di lorong depan kamar Zeo dan Damar. Zeo tertawa getir,
"Sayangnya, dia lebih memilih setia pada Damar dan menolakku. Cobalah papa sekali-kali lihat isi kamarnya. Lihat apa yang ada di dalam lemari bajunya. Lihat seberapa banyak luka yang sudah Damar torehkan... Dan ingat kembali bagaimana ia sangat bahagia mengetahui ia hamil. Pantaskan dia mendapatkan perlakuan seperti ini? Jika sudah tau jawabannya, hubungi aku." Zeo melangkah pergi meninggalkan ruangan pak Budi.
Sementara pak Budi memijit pelipisnya yang mendadak serasa pusing. Ia menyesal karena sudah menikahkan Rinjani pada Damar. Hingga keadaan menjadi serumit ini.
"Andai saja kamu datang lebih cepat Zeo, akan aku nikahkan kamu dengan Rinjani." sesal pak Budi bergumam.
###
Rinjani menatap rumah besar yang sudah ia tinggali selama lima tahun itu. Matanya berkaca-kaca mengingat semua kenangan selama ia tinggal disana. Dan dengan berat hati ia harus melangkah keluar dari sana dengan kesan yang tak begitu baik. Rinjani menggeret kopernya menuju mobil yang ia parkir dihalaman rumah besar itu.
"Kau mau kemana?" Zeo menahan tangan Rinjani, wanita yang sedang hamil muda itu menoleh. Ia tersenyum kecut.
'apa yang ku harapkan? Papa dan mama akan mencegahku? Siapa aku? Hanya orang asing yang tiba-tiba masuk di keluarga ini, apa kamu mengharapkan papa dan mama ada disini sekarang? Kenapa justru pria ini?' pikir Rinjani.
"Kau mau kemana? Apa kau lupa dengan pekerjaanmu?"
"Aku sudah mengundurkan diri."
"Apa? Kenapa kau mengundurkan diri tanpa memberi tahu ku? Aku ini bos mu. Seharusnya kau bicara dulu padaku."
__ADS_1
"Kamu sedang sibuk di Rubian grup Ze."
"Itu bukan alasan." Potong Zeo dengan wajah kesal. "Kau akan kemana? Biar ku antar."
Rinjani tersenyum kecil, ia menarik tangannya dari genggaman Zeo.
"Aku baik-baik saja. Nggak akan nangis lagi. Aku hanya butuh ruang untuk menyendiri Zeo. Terima kasih sudah sangat mengkhawatirkan ku. Dan menjagaku selama ini." Tutur Rinjani dengan senyum yang tak sampai ke matanya."Ze, biarkan aku pergi sendiri. Aku akan menghubungimu jika sudah merasa lebih baik."
Zeo masih menatap wajah Rinjani dengan cemas dan Khawatir.
"Aku baik-baik saja. Sungguh. Biarkan aku pergi sendiri kali ini. Aku janji akan segera menghubungimu. Heemm?"
Karena melihat Rinjani yang begitu bersikeras, Zeo akhirnya menyerah. Ia tak akan membujuk lagi.
"Baiklah. Tepati janjimu."
Rinjani mengangguk lalu memasuki mobilnya setelah Zeo membantunya meletakkan koper di jog belakang. Ia melambaikan tangan nya. Sebelum mobilnya hilang dari pandangan Zeo. Pria bule itu masih berdiri disana, ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan hp nya.
"Jiechi!"
("Saya mengerti tuan.")
"Kemanapun kau pergi, aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri Rinjani." Gumam Zeo menutup sambungan telponnya.
_______
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️ ...
__ADS_1