Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 37 • IPAR LAKNUT -


__ADS_3

Zeo memangkas jarak mengambil mug berisi teh hangat dari tangan Rinjani. Lalu ia letakkan di meja belakang Rinjani berdiri. Tangannya mengunci disana, sementara tangannya yang lain menyentuh lembut pipi Rinjani. Wajahnya mendekat,semakin dekat,semakin dekat membuat wajah Rinjani menghangat.


Nafas Rinjani semakin cepat, bibirnya merenggang. Wajah Zeo semakin dekat hingga hanya menyisakan ruang yang sangat tipis diantara mereka. Nafas Rinjani semakin cepat, dan hembusan hangat nafas Zeo menyentuh kulit wajahnya.


'Entah apa yang membuatku berani, Rinjani. Kumohon, jangan tolak aku... Jangan tolak aku...'


Zeo menelan ludahnya, terlihat dari jakunnya yang turun naik. Sebelum bibirnya menyentuh bibir milik Rinjani. Perlahan bergerak, dengan lembut menyatukan ujung lidah. Rinjani pun seakan hanyut dalam lembutnya sentuhan bibir Zeo. Ia ikut menggerakkan bibirnya. Tangannya bergerak menyentuh lengan dan satu yang lainnya menyentuh pinggang pria bule itu.


Ada kelegaan yang Zeo rasakan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Rinjani mau membuka diri.


"Sam jangan ke sana." Suara lirih Bu Ros terdengar di lorong menuju dapur.


Gegas Rinjani melepas pangutan Zeo mendorong lembut tubuhnya. Sebelum sosok Sam melihat penyatuan bibir mereka. Wajah Rinjani merona. Nafas hangat Zeo yang memburu menimpa wajah Rinjani.


"Daddy? Bunda?"


Wajah lugu Samudra menatap kedua orang dewasa yang salah tingkah. Disusul Bu Ros di belakang Sam. Juga terlihat sangat kikuk.


"Iya sayang,,," Rinjani berjalan mendekati anaknya. Lalu berjongkok menyamakan tinggi.


"Tadi simbah mau ambilkan Sam minum, karena haus. Tapi malah balik lagi." Adu Sam dengan muka cemberut yang menggemaskan.


Rinjani mengangkat wajahnya menatap Bu Ros yang nyengir kikuk. Rinjani tersenyum kecil, merasa sedikit malu. Sudah pasti Bu Ros melihat mereka berciuman tadi hingga mengurungkan niat mengambil minum didapur.


"Kamu haus? Biar bunda ambilkan minum ya." Ucap lembut Rinjani. Ia berdiri dan mengambil gelas sembari melirik Zeo yang sedang menerima panggilan telpon.


"Lain kali, Sam ambil sendiri ya, Sam kan udah besar. Nggak boleh nyuruh-nyuruh Simbah." Rinjani menasehati anaknya sembari mengangsurkan gelas berisi air putih.


"Uummm.... Yes bunda." Sahutnya sambil berlarian kecil kembali keruang tengah.


Rinjani memandang Bu Ros."Maaf ya buk."


"Eehh, enggak mbak Rinjani. Saya nyusul Sam dulu ya. Kasihan kalau sendiri. Nanti nyariin." Pamit bu Ros lalu berbalik dan berjalan menyusul Samudra.


Rinjani mengangguk. Ia berbalik, dan langsung ditangkap oleh pelukan Zeo. Membuat Rinjani terkejut, menatap Zeo dengan pandangan protes.


"Aku mau pamit."


"Oke."


"Begitu saja?"


"Kamu mau apa?" Tukas Rinjani berusaha melepaskan diri dari kuncian lengan Zeo.


Zeo tersenyum nakal. "Aku akan pergi agak lama."


"Kamu sungguh-sungguh?"


"Kamu pikir aku bercanda?"


"Kamu baru sampai, baru saja datang, dan sudah mau pergi lagi?"


Zeo menyentil hidung Rinjani, merasa gemas. "Tidak rela?"


"Kemana? Berapa lama?" Rinjani masih berusaha keras mendorong tubuh Zeo yang masih menguncinya dengan mendorong lengan Zeo.


"Ke Jakarta. Mungkin satu bulan."

__ADS_1


Rinjani terdiam, ia menarik tangannya dari lengan Zeo. Wajahnya sedikit tersirat sendu. Zeo tersenyum lagi, melihat wajah kecewa Rinjani yang berusaha ditutupi.


Tangan Zeo mengurut punggung Rinjani keatas dan membawanya semakin dekat. Tangan itu berhenti di tengkuk Wanita yang semakin dekat wajahnya. Zeo tersenyum tipis, melihat Rinjani yang pasrah tanpa penolakan, membuatnya semakin bersemangat untuk mendekat lebih dekat lagi. Lalu menyatukan bibir Rinjani yang kenyal dengan bibirnya sendiri. Bergulum bersama, tangan Rinjani memeluk leher Zeo.


Sentuhan bibir mereka merenggang. Nafas cepat keduanya bersahutan.


"Aku akan segera kembali. Selama itu, jangan dekat dengan pria mana pun. Kalau tidak, aku akan melamarmu malam ini."


Rinjani tersenyum lebar mendengar larangan Zeo.


"Aku akan dekat-dekat dengan Jiechi."


"Kamu sangat ingin kulamar ya?" Kekeh Zeo, matanya terpantik pada bibir Rinjani. Rasanya ingin sekali melummat lagi bibir itu. Namun dia harus mengurungkan niat. merasakan gejolak didalam dirinya semakin panas.


Zeo melepaskan pelukannya. "Aku harus segera pergi."


______


Di teras rumah bercat kuning Zeo berdiri hendak berangkat ke kota. Disana Sam, Bu Ros dan Rinjani mengantar sampai teras rumah.


"Daddy sudah mau pergi lagi?" Sam menatap Zeo dengan cemberut dan sedikit manja minta digendong.


Zeo mengangkat tubuh Samudra, "Iya Sam. Kamu jangan nakal ya, jaga bunda."


"Uummm....."


"Kamu mau Daddy bawakan sesuatu?"


"Ummm.." angguk Samudra dengan bersemangat."Aku mau..."


"Yes bunda." Dengan lesu Samudra melirik bundanya dan menunduk. Ia tau ibunya tak mengijinkan dia untuk meminta pada Zeo.


Zeo membisiki Samudra. Lalu bocah itu tersenyum sumringah, kembali ceria.


"Okey." Serunya bersemangat sembari mengangkat jempolnya.


"Daddy Z pergi dulu ya Sam. Jangan nakal, dan jagain bunda." Pesan Zeo menurunkan tubuh mungil Sam."Hubungi Daddy Z jika bunda didekati pria dewasa."


"Yes Daddy."


"Zeooo... Apa-apaan kamu ini?" Rinjani mencubit manja lengan Zeo, yang dicubit malah nyengir.


"Aku pergi dulu ya." Pamitnya mengusap pipi Rinjani dengan sayang. Lalu menyalami Bu Rosmala.


"Titip Rinjani sama Sam ya buk."


"Siap mister."


"Cubit aja kalau Rinjani nakal, ingetin ya kalau calon suaminya lagi cari uang buat mahar."


"Siap mister, nanti biar ibuk kurung di rumah, biar nggak ada yang godain."


"Sam juga, bakal jagain bunda."


"Pinter."


Zeo lalu melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman rumah ber warna cerah itu. Lalu melambaikan tangannya. Mengendarai mobil berwarna merah itu menjauh dan menghilang dibelokan gang.

__ADS_1


"Sam, ayo masuk."


.


.


Hari berlalu, Rinjani duduk termenung malam itu. menatap bulan yang hanya menampakan diri separuh, bersembunyi di balik awan.


"Belum tidur mbak Rinjani?"


Rinjani menoleh, ia tersenyum pada Bu Ros yang menghampiri dengan segelas teh hangat dan pisang aroma. Bu Ros meletakan semua itu di meja kayu yang tepi balkon.


"Duduk sini mbak. Makan yang hangat-hangat buat malam yang dingin ini." ajak Bu Ros.


Rinjani berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang berada disisi meja.


"Apa yang mbak Rinjani lamunkan?" tanya Bu Ros, memang mereka walau pekerja dan majikan tapi sudah seperti ibu dan anak saja. mengingat Rinjani yang sudah tak memiliki orang tua, dan Bu Ros yang keibuan, sangat menyayangi Rinjani dan Sam. Selalu menyertai mereka hingga. Membuat Bu Ros tak canggung menanyakan hal yang bersifat pribadi.


"Tidak ada."


"Yang benar? Bukan mister Zeo kan?"


Rinjani tersenyum, melirik Bu Ros yang sedang memasukan pisang Aroma ke dalam mulutnya.


"Mister Zoe itu baik loh mbak Rinjani. Sayang juga sama Mbak Rinjani dan Sam."


Rinjani menunduk, ia juga tau.


"Kenapa nggak nikah saja sama mister Zeo? Ibuk lihat mbak Rinjani juga suka sama mister Zeo kan?"


Rinjani tak menjawab hanya mengulas senyum penuh arti.


"Mbak, mbak Rinjani mungkin punya kenangan buruk di masa lalu, tapi, mbak Rinjani dan Sam kan punya masa depan. Kenapa nggak hidup saja buat masa depan mbak Rinjani dan Samudra?"


"Iya buk, tapi, Rinjani takut...." akhirnya Rinjani bersuara, menatap Bu Ros dengan mata yang dalam.


"Apa yang mbak Rinjani takutkan?" tanya Bu Ros penasaran. walau ia juga tau mungkin trauma akan kegagalan di masa lalu masih menghantuinya.


"Takut di hianati Bu, takut disakiti lagi. Apa lagi Sam. Aku tak mau jika Sam juga ikut terluka."


______


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2