Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 12 • IPAR LAKNUT - Bujuk Rayu Damar •


__ADS_3

Rinjani berjalan memasuki mobil suaminya yang terparkir di depan kantor cabang ZEOZ.


"Mas udah lama?" Tanya Rinjani begitu duduk kursi penumpang samping suaminya.


"Enggak Rin, baru aja kok." Damar melajukan kendaraannya dengan menatap lurus kedepan."kamu mau makan apa?"


"Geprek aja mas."


"Kalau geprek enaknya yang di puja Sera, Rin."


"Mas nggak papa makan disana?"


Damar tersenyum kecil.


"Puja Sera jauh loh dari kantor mas Damar."


"Nggak papa, kalau urusan rasa sekalian cari yang enak."


Rinjani tersenyum kecil, ia sudah sangat bahagia walau hanya begini saja. Bisa bertemu dengan suaminya dan makan siang berdua suatu hal yang langka.


Mobil Oren itu berbelok ke parkiran puja Sera. Setelah keduanya keluar dari kendaraan besi itu, Damar langsung menuju konter penjual ayam geprek sekalian pesan minuman kesukaan Rinjani, es teh jeruk dan teh hangat untuknya sendiri. Sedangkan Rinjani memilih tempat duduk yang sedikit menyendiri, ia ingin momen makan siangnya bersama Damar tak terganggu oleh suara obrolan orang-orang yang juga sedang makan disana.


Damar mengambil duduk di seberang istrinya.


"Gimana kerjaan hari ini?"


"Sedikit capek mas, bos agak resek." Rinjani melirik manja pada suaminya. " Mas nggak resek kan jadi bos?"


Damar tersenyum geli mendengar pertanyaan istrinya yang sedikit mengerucutkan bibirnya kedepan, "Mas, kalau aku pindah kerja ke kantor mas, gimana?"


Mata Damar melebar, ia tersentak mendengar penuturan Rinjani. Tentu saja Rinjani tak boleh bekerja disana, bisa-bisa semua terbongkar. Dan dia akan kesulitan mencari alasan untuk lebih sering mengunjungi Nadia. Sekarang saja, Damar mesti berhati-hati mengingat papanya juga msih menjabat sebagai Presdir disana. Masih sering datang berkunjung, meski pak Budi tidak mengecek kemana saja Damar pergi ataupun terlalu membatasi gerak Damar. Tapi tetap saja Damar harus mempertimbangkan.


"Nggak bisa Rin. Nggak ada bagian yang kosong sekarang. Apalagi kami sedang melakukan pengurangan beberapa karyawan, lucu dong kalau kamu malah masuk. Apa kata karyawan yang lain nanti."


Rinjani mengerucutkan bibirnya, sedikit kecewa dengan penolakan Damar untuk bekerja di perusahaan yang sama. Padahal jika Ia dan Damar bisa bekerja dalam satu kantor yang sama, mereka bisa lebih sering bertemu dan memupuk lagi kasih yang sempat gersang ini. Rinjani kecewa, karenanya. Wajahnya berubah sendu.


Damar yang melihat itu, tak tega juga, walau bagaimanapun Rinjani juga istrinya meski ia tak cinta. Ia tak ingin terlalu jauh menyakiti Rinjani. Apalagi ia juga memiliki tujuan mengajak Rinjani makan siang ini. Damar harus mengambil beberapa barang yang ia sembunyikan yang harus ia sendiri yang mengambilnya. Karena itu barang milik dia dan Nadia. Hingga mau tak mau dia harus pulang, tapi karena ada Zeo disana dia tak bisa. Satu-satunya jalan hanya meminta Rinjani untuk mengusir Zeo apapun caranya.

__ADS_1


Damar menggenggam tangan Rinjani,menatap istrinya dengan intens.


"Rin, gimana perkembangannya di rumah?"


"Maksud mas?"


"Orang itu. Apa dia masih disana?"


Rinjani mengangguk pelan. Damar menghela nafasnya menunjukan rasa kecewa.


"Rin, mas bisa minta tolong nggak?"


Rinjani memajukan badannya hingga menyentuh meja menatap balik suami dan ikut menggenggam tangan suaminya, sebagai respon dia tertarik dan setuju.


"Rin, mas ingin pulang."


Mata Rinjani berbinar terang.


"Mas ingin pulang kerumah Rin, tapi orang itu...."


Damar mengangguk pelan.


"Rinjani dah bujuk papa mas, tapi papa bilang, kalau mas Damar dan mama mau pulang ya pulang ajaa, karena papa memang nggak ngusir kalian."


Rahang Damar sedikit mengeras.


"Bukan itu intinya Rin."


"Mas.... Coba turunkan ego mas, papa nggak akan merubah keputusannya. Itu juga rumah mas Damar dan mama. Kembalilah mas. Rinjani rindu sama mas. Papa juga pasti rindu sama kalian, hanya hati kalian sama-sama keras. Kali ini melunak lah mas." Harap Rinjani dengan pandangan memohon.


"Nggak bisa ya nggak bisa Rin. Karena itu mas minta tolong, lakukan sesuatu agar orang itu pergi."


Rinjani merasa sangat putus asa, ia tak tau bagaimana membujuk suami dan mertua nya agar salah satu dari mereka melunak. Untuk membujuk Zeo, Rinjani pun tak mau. Apa lagi syarat yang Zeo ajukan sangat berperikeranjangan. Pria mesum yang Rinjani ingin hindari setiap harinya, untuk keluar dari rumah itu pun Damar tak mengijinkan. Sementara hidup satu atap dengan ipar Laknut itu, ia tersiksa.


"Rin..." Damar menatap wajah Rinjani dengan tampang memelas dan memohon.


"Rinjani harus apa mas? Apa yang harus Rinjani lakuin agar dia pergi?"

__ADS_1


"Terserah, apapun. Hanya kamu satu-satunya yang bisa mas dan mama andalin Rin. Pliiss.."


Seusai makan siang dengan Damar, Rinjani yang kini telah pulang dan terus merasa galau tiduran di kamarnya. Ia ingin berkumpul lagi dengan suaminya, tidur di ranjang yang sama, menikmati sentuhan pria yang halal baginya sentuh, namun begitu jauh saat ini.


Rinjani menghela nafasnya dalam. "Haruskah aku memenuhi syarat dari Zeo?"


Rinjani bangun terduduk diatas ranjang, menggeleng dengan kuat. "Tidak! Dia pikir dia siapa? Akan kubuat dia keluar dengan cara lain."


Rinjani berjalan mondar-mandir di sisi ranjang berukuran kingsize itu, "Pikir, pikir, pikir Rinjani. Pikirkan cara agar dia melangkahkan kaki dengan suka rela."


Rinjani masih mondar-mandir bagai setrika.


"AHA!" Rinjani yang mendapatkan ide mengangkat telunjuknya ke atas dengan mulut terbuka dan wajah berbinar. Ia kemudian tersenyum yakin, dengan kedua telapak tangan yang dia gosok-gosokkan, dan sedikit menyeringai jahat.


_____


Malam itu Zeo merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tiba-tiba ia merasa sangat dingin, bulu-bulu halusnya meremang, ia menoleh kearah balkon yang pintunya ia biarkan terbuka. Hingga, gorden tipis melambai-lambai tertiup angin dari luar. Zeo bangkit dan berjalan hendak menutup pintu balkon. Ia terkejut, didepan pintu balkon ia melihat bayangan putih. Zeo berjalan mengendap dengan menyaut lampu duduk dan mengangkatnya. Ia bersiap memukul apapun benda putih yang berada dibalik dinding balkon.


Dengan wajah yakin dan mata yang menyipit Zeo mengangkat tinggi-tinggi lampu duduknya, bersiap untuk memukul. Namun matanya melebar dan gerakannya terhenti.


_____


Bersambung....


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2