
"Mas Damar kenapa? Sepertinya dari tadi terlihat sangat senang?" Tanya Nadia sembari mengambilkan Damar makan malam.
"Iya nih Papa? Ada yang bikin papa senang ya?"
Damar melirik Nathan lalu berganti memandang Nadia.
"Nggak Nad, kerjaan papa lagi bagus hari ini." Ucap Damar bohong, padahal dia senang karena tadi bertemu dengan Sam, anak Rinjani yang memiliki wajah mirip dengannya itu.
"Oh ya?" Tanya Nadia bersemangat dengan wajah berbinar.
"Iya, Kalau ini lancar papa akan dapat banyak bonus." Sambung Damar lagi.
"Pa, besok kamis ada hari ayah, papa bisa datang nggak ketempat Nathan?" Lontar Nathan sembari.menjejalkan nasi beserta lauknya ke mulut.
"Biar papa usahakan ya. Kamis kan?"
"Makasih ya pa."
______
Rinjani menghela nafasnya, menghirup udara malam itu sembari menatap langit yang ditaburi bintang. Terdengar suara langkah kaki kecil di ikuti suara Sam yang sedang berbicara dengan Zeo melalu sambungan telpon.
"Bunda, Daddy mau bicara." Seru Sam sembil mengulurkan ponsel ditangannya.
Rinjani menoleh dan tersenyum kecil melihat anaknya mendekat. Lalu mengambil hp ditangannya. Sam tidak lantas pergi. Dia masih menunggu di sisi Rinjani.
"Ada apa?"
Wajah penuh Zeo dilayar berbentuk pipih itu tersenyum sangat lebar.
("Kangen nggak?")
"Apa sih Ze?"
"Kangen Dad!" Seru Sam menimpali sembari menarik tangan bundanya agar ia juga bisa terlihat dikamera.
("Iya Sam, nanti Daddy kembali. Terus tidur sama Sam.")
"Sama bunda juga nggak?" Kini wajah Sam lebih mendominasi kamera, sementara sang bunda hanya dibelakang bocah itu.
("Kalau bunda mau.")
"Jangan ngelantur Ze. Ku tutup nih." Ancam Rinjani menatap tajam.
("Ha-ha-ha....")
"Malah ketawa lagi." Sewot Rinjani dengan muka cemberut.
"Kenapa bunda?" Sam menoleh menatap bundanya dengan pandangan penuh tanya. "Teman-teman Sam tidur bareng mama sama papanya juga. Sam juga mau."
"Karena teman Sam kan mama sama papa."
Jelas Rinjani asal. Zeo hanya tersenyum geli mendengarnya. Sementara Samudera masih terus menatap Rinjani bingung.
"Aaaa..." Rinjani jadi bingung dengan jawaban asal yang tadi dia lontarkan, apalagi tatapan Sam yang sangat polos itu seolah terus menuntut.
"Mmmmm... Teman Sam kan mama sama papa? Kalau bunda sama ayah. Kalau Daddy sama mommy. Jadi, bunda nggak bisa tidur sama Sam dan sama Daddy."
"Aaah, nanti mommy marah ya?"
"Benar." Rinjani tersenyum,
__ADS_1
"Kalau ayah?"
Rinjani terdiam, ia merasa hatinya yang berdenyut kuat mendengar Sam menanyakan Ayah lagi. Yah, mau bagaimana lagi, Rinjani sudah salah menyebut ayah tadi.
("Ayah di sini Sam.") Sela Zeo cepat karena tak ingin Rinjani makin tenggelam dalam kesedihannya.
"Daddy Z ayah?"
("Uumm... Daddy Z akan jadi ayah nya Sam.")
"Benar?" Samudra berbinar dan bersemangat mendengarnya."Kapan kita akan tidur bersama Dad?"
("Nanti ya kalau... Kemari, biar Daddy bisiki.")
Sam mendekatkan wajahnya ke layar pipih itu. Memasang telinganya dengan seksama.
"Apa Dad?"bisik Sam penasaran.
("Besok kalau Daddy sudah pulang.") Balas Zeo berbisik. Tapi, tentu saja Rinjani mendengarkan juga menggulum senyum.
"Yaaaahhhh......" Suara Sam terdengar kecewa.
("Biar Daddy bicara dulu sama Bunda")
Dengan wajah cemberutnya Sam menyerahkan hp pada Rinjani.
"Nanti kalau sudah selesai berikan pada Sam ya bunda." Ucap Samudra seraya berlarian masuk kedalam rumah dari balkon.
"Iya.." lirih Rinjani menatap punggung Sam yang berlalu. Rinjani berganti menatap wajah Zeo yang kini sedang melihat kearahnya melalui layar datar itu.
("Kenapa wajahmu jadi jelek begitu?")
"Apa yang mau kamu katakan Ze?"
"Lalu?"
("Aku mau tau penyebabnya.")
Rinjani hanya terdiam, ia merasa enggan menyampaikannya pada Zeo. Namun, ia juga merasa berat menanggungnya sendiri. Zeolah yang paling tau bagaimana hancurnya dia dan perjuangannya melupakan Damar. Hingga saat ini. Malah, pria tak tau diri itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
("Apa kamu bertemu dengan Damar?")
Rinjani menggerakan kelopak matanya, menatap pada layar didepannya.
"Bagaimana kamu bisa tau?"
("Apa lagi yang membuatmu begitu sedih selain itu?")
"Apa yang harus kulakukan Ze? Dia menemui Sam lagi. Akuu....."
("Biar aku yang mengurusnya. Dan kita bicarakan lagi besok saat aku pulang dan bertemu.")
"Baiklah."
("Sekarang tersenyumlah, biar aku lihat semanis apa bundanya Sam.")
Rinjani mengulas senyum kecil mendengar rayuan Zeo.
("Nah, lumayan. Jika sedikit lebar akan lebih cantik.")
_______
__ADS_1
Hari berganti, Damar mengunjungi sekolah Sam lagi. Tentu saja tanpa sepengetahuan Rinjani. Damar sangat bahagia, saat ditangannya menggenggam berkas laporan hasil test DNA yang menyatakan Samudra adalah anaknya.
Ia baru saja keluar dari mobilnya yang ia parkir seberang TK. Ia berjalan dengan hati yang berbunga. Namun langkahnya tertahan oleh beberapa orang berbadan tegap.
"Ikutlah dengan kami."
"Siapa kalian?"
"Ikut saja. Anda akan baik-baik saja jika mau bekerja sama."
Akhirnya Damar mengikuti langkah para pria itu.
"Kemana mereka akan membawaku?" Batin Damar dengan pandangan was-was.
Para pria berbadan Tegap itu membawa Damar ke sebuah resto yang tak jauh dari TK Sam belajar. Ia tertegun melihat Zeo ada disana.
"Duduklah."
"Jadi, kau?"
"Aku tidak akan berbasa-basi. Selama beberapa hari ini kau terus mengunjungi Sam tanpa sepengetahuan bundanya. Bahkan dengan berani melakukan tes DNA. Jadi, aku ingin mengingatkanmu akan hal ini."
Zeo menyodorkan surat perjanjian yang dulu pernah Damar tanda tangani. Ia juga memutar Vidio berikut dengan suara Damar yang sangat jelas di sebuah tablet kala itu.
Damar mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dan ia menatap Zeo tajam.
"Kau menjebakku."
"Hahahaha, kau melakukannya dengan sadar. Nada penuh penghinaan itu meluncur dari mulutmu. Aku ingin tau bagaimana reaksi Sam dan Rinjani jika melihat ini."
"Kauuuu..." Geram Damar semakin emosi.
"Ingat janji mu Damar!" Nada bicara Zeo berubah menjadi ancaman dengan geraman keras "Ingat bagaimana dulu Rinjani memohon padamu dan kau abaikan! Ingat bagaimana kau dulu mencemooh Rinjani dan menolak anak yang bahkan belum lahir itu. Ingat janjimu itu Damar. Jadilah laki-laki yang menepati janjinya."
"Jangan temui Sam lagi."
Zeo bangkit dan berjalan menjauh. Meninggalkan Damar yang geram pada dirinya sendiri. Memukul meja dihadapannya.
Damar terus meruntuk, menyesali semua yang sudah dia lakukan.
"Rinjani, Sam... Maafkan aku... Maafkan papa Sam." Airmata Damar mengalir di pipinya. Hanya sesal yang tertinggal menyesakkan dadanya. Damar menyembunyikan wajahnya di atas meja. Memukul-mukul meja dengan tangannya yang terkepal.
"Aaaarrrgg!"
Damar berdiri sambil menggeser jatuh meja didepannya. Hinga menimbulkan kegaduhan, beberapa karyawan kafe itu datang dan beberapa pengunjung tampak melihat kearahnya.
______
Bersambung....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️