
Rinjani membuka matanya, ia bingung akan dimana ia terbangun sangat berbeda dengan dimana terakhir ia terlelap.
Rinjani melihat pada tangan yang lingkar di perutnya. Rinjani yang tidur miring ke sisi kanan itu menoleh ke belakang.
"Kamu sudah bangun?" Sambut Zeo dengan senyum di wajah tampannya.
"Ini dimana?"
"Kantor."
"Ini seperti kamar."
"Kamu benar."
Rinjani memasang wajah penuh tanya.
"Ini kamar di dalam ruang kerjaku dikantor." Zeo memberi penjelasan."Disini biasanya aku tidur disaat lelah dan ingin istirahat."
"Aah, kamu punya ruang seperti ini .."
"Kenapa kemari tidak memberi tahuku?" Zeo mendekap erat tubuh istrinya.
"Aku sudah menelpon mu tapi, tak ada jawaban."
"Oooh, hpku habis batre. Baru ja aku chas." Gumam Zeo."kenapa kamu kemari?"
"Aku ingin makan siang denganmu."
"Baiklah, ayo kita makan."
"Aku sudah membawa bekal."
"Aku tau, aku sengaja menyimpannya."
Siang itu mereka makan siang bersama, walau Zeo sudah kenyang karena baru kembali dari makan siang dengan kliennya, namun, ia tetap berusaha menyenangkan istrinya yang sedang hamil itu dengan ikut makan walau hanya sedikit. Zeo lebih sering menyuapi istrinya.
"Seperti biasa, masakanmu selalu enak."
"Tentu saja, ada cinta di dalamnya." Jawab Rinjani sembari membereskan box bekas makanan yang telah kosong.
Zeo menatap wajah istrinya lekat. Lalu ia mengangkat tubuh mungil Rinjani ke pangkuannya. Mengusap lembut pipi Rinjani, dan menautkan bibir mereka.
Perlahan Zeo beranjak dengan tetap menjaga Rinjani dalam gendongannya tanpa melepas pangutannya. Membawa istrinya kembali ke peraduan. Dengan lembut membuainya lalu berbagi peluh bersama.
Rinjani membuka matanya, dengan tubuh polos yang tertutup selimut. Ia mengerjap, melihat suaminya sedang merapikan pakaiannya.
Zeo mengulas senyum di wajahnya, mendekat sembari memakai dasi, lalu mengecup singkat kening Rinjani.
"Aku harus kembali bekerja."
Rinjani masih merasa lemas, ia hanya menjawab dengan senyuman.
"Kamu istirahat dulu disini. Nanti pulang bareng. Heemmm?"
"Jam berapa kamu pulang?"
Zeo berfikir sejenak.
"Mungkin skitar jam enam petang."
"Sekarang baru jam tiga. Aku pulang dulu aja deh, nanti bosan menunggu disini."
Zeo mengulas senyum lagi.
"Okey, terserah kamu saja. Aku pergi dulu ya." Pamit Zeo mengelus kepala Rinjani pelan. Sebelum melangkah keluar kamar.
Seusai membersihkan diri, Rinjani bersiap untuk kembali, ia menghubungi supirnya untuk standby di depan gedung. Rinjani berjalan keluar dari ruangan Zeo. Menuruni lift dan melangkah keluar diarea lobi, disana dia melihat suaminya Zeo.
__ADS_1
Rinjani mempercepat langkahnya, maksud hati ingin menyapa, namun terhenti seorang wanita yang bersamanya membantunya membenarkan dasi yang Zeo kenakan. Wanita itu sangat cantik bahkan lebih cantik darinya.
Rinjani hanya membeku di tempatnya berdiri, perasaan lain merayapi hatinya. Hingga kedua orang itu pergi dari pandangan.
Rinjani melangkah dengan gontai memasuki rumahnya, Bu Ros yang membukakan pintu depan terheran karena nya. Namun, Bu Ros tak bertanya. Karena ia juga tau Rinjani sedang hamil dengan emosi yang tidak bisa ditebak. Bu Ros pikir itu mungkin pengaruh hormon.
Petang menjelang, Zeo sudah kembali, ia sedikit merasa heran, karena Rinjani tak menyambut nya di depan pintu seperti biasa.
"Ada yang berbeda, apa karena kami sudah bertemu tadi siang?" Gumam Zeo memelengkan kepalanya bingung.
Saat santai pun, Rinjani sibuk menonton tivi bersama Sam. Zeo yang mendekat dan mengambil duduk di sisinya pun merasa diabaikan. Istrinya itu cekikikan menonton film larva.
"Mungkin hormon wanita hamil memang seperti ini." Pikir Zeo melintangkan tangannya memeluk pundak Rinjani.
###
Rinjani sudah berada di lobi Zeos CORP. Ia membawa lagi box makan siang. Ia melihat sekeliling. Dan menuju reception,
"Permisi..."
Wanita yang sama dengan kemarin tersenyum ramah padanya.
"Apa anda kemari untuk bertemu dengan tuan Zeo?"
"A, iya..." Ucap Rinjani sedikit ragu, pasalnya karyawan itu tidak seketus sebelumnya.
"Silahkan langsung ke lift sebelah sana saja." Ucap karyawan itu dengan senyum ramah.
"Saya tidak tau dilantai berapa Zeo bekerja." Rinjani bertanya dengan ragu sembari lihat kearah lift yang di tunjuk lalu berganti menatap sang FO Girl.
"Lantai 11 nyonya."
"Terima kasih."
Rinjani berjalan menuju lift yang di tunjuk. Lalu ia menekan tombol lantai 11. Selama di dalam lift pikirannya berkelana.
Rinjani berjalan menuju ruangan suaminya, dia melewati beberapa orang sekertaris Zeo mereka juga tersenyum pada Rinjani. Rinjani berbalik tersenyum pada mereka.
"Mereka juga cantik-cantik." Gumamnya.
Rinjani berhenti tepat di depan pintu ruangan Zeo. Ia melirik pada seorang wanita yang duduk tak jauh dari pintu. Wanita yang cantik dan seksi.
Wanita itu tersenyum pada Rinjani karena merasa di perhatikan sedari tadi.
"Apa Zeo ada di dalam?"
"Tuan Zeo sedang meting nyonya."
"Oh, begitu, apa aku boleh menunggu di dalam?" Tanya Rinjani ragu, karena merasa sedari tadi tak ada yang menegurnya.
"Tentu saja. Silahkan."
Rinjani langsung memasuki ruangan suaminya.
"Dia dikelilingi wanita cantik dan seksi. Apa dia tidak tergoda?" Gumam Rinjani.
"Dia pasti tergoda, dari lobi sampai kemari, semuanya wanita cantik dan seksi. Dan yang kemarin, itu juga cantik dan seksi. Apa kamar itu sengaja disiapkan untuk enak-enak?" Gumam Rinjani makin berfikir ngawur.
Ceklek. (Suara pintu dibuka)
Rinjani berbalik melihat suaminya masuk dengan senyum yang sangat lebar.
"Apa kamu kemari untuk mencium aroma tubuhku?"
Zeo mendekat, langsung memeluk tubuh istrinya.
"Bagaimana? Apa kamu suka dengan baunya?"
__ADS_1
"Kenapa semua karyawanmu wanita?"
Zeo melepaskan pelukannya, ia mengernyit menatap wajah istrinya.
"Wanita?"
"Iya dari lobi sampai kemari semuanya wanita. Aku tidak melihat satupun laki-laki."
"Apa kamu mau aku membawamu keliling gedung?"
"Untuk apa?"
"Untuk melihat laki-laki."
Rinjani memukul lengan suaminya, ia memajukan mulutnya beberapa senti. Zeo tergelak dan mencubit gemas hidung istrinya.
"Kamu menggemaskan sekali sih? Apa ini pengaruh bayi? Mungkinkah bayi kita perempuan?"
"Entah." Jawab Rinjani acuh menjatuhkan bobotnya di sofa.
"Kamu kemari untuk makan siang bersama lagi kah?"
"Iya, sekalian melihat bagaimana suamiku bekerja, ternyata dia dikelilingi oleh banyak wanita cantik dan seksi."
Zeo terkekeh geli. Ia membuka box yang Rinjani bawa. Lalu mencubit udang goreng tepung, mendekatkannya kemulut sang istri.
"Aaa...."
"Kamu makan aja sendiri."
Zeo terkekeh lagi, lalu ia masuk udang itu kemulutnya.
"Sayang, apa kamu mau aku mengganti semua sekertaris ku dengan laki-laki?"
Mata Rinjani berbinar, seketika menatap suaminya.
"Bisa kah?"
"Enggak."
Rinjani cemberut lagi, tentu itu membuat Zeo makin terkekeh.
"Sayang, kamu memang sedang hamil, dan ngidam, hormonmu tidak stabil. Aku nggak mungkin bersikap tidak profesional dengan mengganti pekerjaku hanya karena kamu minta. Mereka sudah bekerja sangat baik untukku." Jelas Zeo mencubit lagi udang goreng tepung dan mendekatkan nya ke mulut Rinjani.
"Jika kamu terganggu dengan cara berpakaian mereka yang sedikit terbuka, aku bisa meminta mereka untuk berpakaian lebih tertutup. Apa itu cukup?"
"Tapi mereka, tetap terlihat cantik."
Zeo terkekeh lagi, "aku tak mungkin meminta mereka berdandan jelek karena itu menyangkut citra perusahaan."
Rinjani menghela nafasnya, dan menutup wajahnya.
"Aku tau... Tapi aku tidak rela..."
Zeo terkekeh lagi, menarik tangan Rinjani yang menutupi wajahnya.
"Aku yakin yang di dalam sini pasti perempuan." Gumam Zeo menyentuh perut Rinjani.
"Kenapa?"
"Karena kamu jadi seperti ini... Mengemaskan..." Ucap Zeo lembut mengadu hidungnya dengan hidung Rinjani.
Rinjani menghela nafasnya, ia menatap intens suaminya itu,
'mengenai wanita yang membetulkan dasinya waktu itu, haruskan aku tanyakan sekarang?' batin Rinjani.
bersambung....
__ADS_1