
Zeo mengangkat tubuh Rinjani kepangkuannya. Tersenyum dan melummatt bibir ranum istri. Rinjani mengalungkan kedua tangannya di leher Zeo.
Tok tok
Ceklek ( suara pintu di buka.)
Gegas Rinjani melepas pangutan Zeo. Wajahnya merona, melirik malu pada seorang sekertaris Zeo yang baru saja masuk.
"Ada apa?"
"Nona Aira menunggu di depan tuan. Ada beberapa hal yang ingin di diskusikan nya dengan anda."
Zeo menghela nafasnya, beberapa waktu yang lalu, wanita itu mengajaknya untuk melanjutkan diskusi sekalian makan siang. Namun Zeo menolak, begitu ia membaca pesan Rinjani bahwa ia datang.
"Katakan padanya aku sedang makan siang."
"MMM... Baik." Ucap sekertaris itu ragu. Lalu melangkah membuka pintu.
"OOO... Nona Aira...."
Seorang wanita menerobos masuk. Dan berhenti tak jauh dari sofa. Rinjani jadi merasa tak nyaman, ia bergegas pindah dari pangkuan suaminya lalu menjatuhkan bobotnya di samping Zeo duduk.
"Apa masalahmu? Kenapa sampai menerobos masuk?" Zeo acuh mencubit udang goreng tepung dan memakannya.
"Kita harus bicara."
"Masalah apa? Jika tentang pekerjaan aku dengarkan."
Aira menatap Rinjani, tatapan tidak suka yang terkesan mengusir. Rinjani pun merasa tidak nyaman, jika ini memang masalah pekerjaan yang tak boleh bocor mungkin sebagai orang luar dia harus pergi. Tapi melihat reaksi suaminya yang datar dan melanjutkan makannya, bahkan tersenyum manis sembari menyuapinya membuat Rinjani ragu.
"Apa, aku harus pergi?" Tanya Rinjani ragu,
"Iya, akan lebih baik jika orang luar tidak mengetahui ini." Lontar Aira cepat dengan nada ketus.
Rinjani menatap suaminya yang masih bersikap datar dan menjejalkan beberapa ekor udang kemulutnya.
"Aku... Pulang dulu."
"Jangan, tetap disini." Larang Zeo menatap lembut istrinya.
"Zeo!" Sebut Aira tidak setuju.
"Apa yang mau kamu bicarakan? Aku sedang makan siang dengan nya."
Aira menatap Rinjani dengan pandangan mengintimidasi.
"Bisakah kamu memberi kami privasi?"
Rinjani berganti menatap wajah suami. "Aku keluar dulu."
"Jangan, kamu ke kamar saja istirahat, nanti aku menyusul."
Rinjani tersenyum kecil."Baiklah."
Zeo menarik lengan Rinjani semakin mendekat. Memberinya kecupan kecil di bibir manis nya.
Rinjani lalu melangkah ke dalam kamar pribadi diruangan Zeo. Dengan membawa perasaan yang entah apa. Dari dalam kamar dia tak mendengar suara apapun. Hanya keheningan.
"Siapa wanita itu? Apa dia kliennya? Kenapa sikapnya seperti itu? Dia cantik sekali, wanita yang sama dengan yang membantu Zeo membenarkan dasinya."
Rinjani menghela nafasnya duduk dipinggiran ranjang. Tak lama pintu kamar di buka, Zeo tersenyum padanya.
"Maaf, lama ya?"
"Nggak... Baru saja duduk. Kamu sudah masuk."
__ADS_1
"Oh ya? Kenapa rasanya lama sekali?"
"Apa urusan kalian sudah selesai?"
"Sudah."
"Siapa dia?"
"Aira."
Rinjani menatap wajah Zeo dengan tatapan menyelidik. Zeo terkekeh kecil.
"Dia salah satu klienku. Kami bekerja sama untuk salah satu pengembangan projek."
"Oohh..."
###
Rinjani memandang bangunan Zeos CORP. Wajahnya merona, ia menyentuh pipi nya yang menghangat.
"Uuugggghhhh, rasanya setiap kali aku kemari seperti mengantarkan makanan dan tubuhku untuk dia santap." Gumam Rinjani malu, karena setiap kali ia mengantarkan makan siang selalu berakhir di ranjang.
"Mungkin sebaiknya besok aku libur dulu kemari.." lemas Rinjani melanjutkan langkahnya untuk pulang.
"Hei!"
Aira menghadang langkahnya, Rinjani sedikit tertegun. Untuk apa klien suaminya itu mencegatnya.
.
.
Di kafe, duduklah Rinjani yang di seberangnya ada Aira duduk berbatas meja bundar yang terdapat dua gelas minuman dengan dua warna yang berbeda.
"Hampir satu tahun." Jawab Rinjani sedikit ragu, bagaimana bisa orang yang disebut klien oleh Zeo menanyakan hal yang pribadi seperti ini.
"Aah, belum ada setahun ternyata..." Gumam Aira.
"Ada maksud apa kamu menanyakannya?"
"Biar aku jelaskan padamu, karena pada dasarnya kamu belum satu tahun menikah dengan nya. Itu artinya, aku yang lebih lama mengenal dan bersamanya."
Alis Rinjani saling bertaut, Aira pun melanjutkan ucapannya.
"Aku dan Zeo sudah lama menjalin hubungan. Dan kami sangat baik-baik saja. Kami saling mencintai, tapi aku tidak tau sejak kapan semua berubah. Dan beberapa hari yang lalu aku baru menyadari, ternyata semua karena kamu."
Rinjani tersenyum kecut.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Tinggalkan Zeo."
Rinjani tertawa kecil, rasanya lucu sekali wanita yang ada dihadapannya ini.
"Kenapa aku harus meninggalkannya?"
"Dengar nyonya Rinjani, sejak awal Zeo adalah milikku. Aku pasti akan mendapatkannya kembali." Aira bangkit dan berjalan melewati Rinjani.
"Itu jika dia mau kembali padamu..."gumam Rinjani yang membuat Aira berhenti dan menoleh.
"Tentu saja, aku cinta pertamanya,, kau akan tau seberapa besar kekuatan cinta pertama.."
Rinjani tersenyum tipis ia ikut berdiri dan berjalan mendekati Aira, berdiri tepat dihadapan wanita itu, menyilangkan tangan di dadanya.
"Ooohh, jadi kamu mantan yang tak bisa move on? Kasihan sekali, tapi, seberapa besar cinta pertama bisa menyingkirkan cinta terakhir?"
__ADS_1
Aira tersenyum licik, "lihat saja. Dia pasti meninggalkanmu untukku..."
###
"Ze..." Ucap Rinjani di atas peraduan dengan sang suami yang memeluk nya dari belakang, seusai pertempuran mereka malam ini. Tangan Zeo mengusap perut Rinjani yang mulai membuncit.
"Heemm?"
"Siapa cinta pertamamu?"
"Kenapa membicarakan hal semacam itu, itu tidak penting sekarang."
"Anakmu ini ingin tau..." Gumam Rinjani ikut mengelus perutnya sendiri.
Zeo tertawa kecil,
"Dia atau kamu yang penasaran?" Ia mengeratkan pelukannya, mencium gemas pundak dan leher istrinya.
"Jawab aja kenapa sih?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Aku nanya kok malah balik nanya?"
"Ya karena itu nggak penting sayang. Membicarakan hal yang udah berlalu dan nggak ada hubungannya dengan kita. Buat apa?"
Rinjani terdiam sesaat,'benar juga.' batinnya.
"Bagaimana jika cinta pertama mu tiba-tiba datang?"
Zeo terdiam sejenak, mengeratkan lagi pelukannya.
"Itu masa lalu yang tidak penting. Saat ini aku sangat mencintai kalian." Ucap Zeo mengusap lembut perut Rinjani.
'Meski begitu, dia tidak menyebut Aira sama sekali. Apa perasaannya benar-benar sudah pudar? Tapi, jika mereka sering bertemu untuk masalah pekerjaan, apa tidak mungkin perasaan mereka akan tumbuh kembali?' pikir Rinjani mengingat kembali bagaimana Aira merapikan dasi Zeo.
'Kenapa aku jadi khawatir sekali, bagaimana jika aku dihianati lagi? Waktu itu mas Damar juga terlihat sangat menyayangi ku, tapi ternyata dia sudah memiliki istri lain, bahkan sudah memiliki anak.' pikir Rinjani lagi, 'Aku tak akan sanggup jika ini terjadi lagi padaku.'
###
Hari berikutnya, di gedung Zeos CORP.
"Zeo tunggu!"
Zeo masih melanjutkan langkahnya, sementara Aira berlarian menyusul.
"Zeo, kenapa kamu pergi begitu saja?" Aira menahan lengan Zeo hingga berhenti dan menatap iris matanya.
"Ku pikir bagianku sudah selesai."
"Kita masih harus melanjutkan makan siang bersama yang lainnya. Dan masih banyak yang bisa kita bahas."
"Aku sudah serahkan semua pada asisten ku. Bicarakan saja itu pada Raka."
"O, kamu nggak bisa menghindari aku terus seperti ini. Bersikaplah profesional."
Zeo tertawa kecil,
"Siapa yang tidak bersikap profesional? Coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri."ungkap Zeo yang memang sudah merasakan gelagat Aira yang ingin kembali padanya."Aku sudah cukup terbuka padamu selama ini, tapi semakin kesini, kamu justru menuntut lebih. Mengusik hal pribadiku di luar kerja sama kita. Selanjutnya, hubungi asistenku saja."
"Zeo, plis, beri aku kesempatan..."
Zeo berbalik mengayunkan langkahnya. Aira pun tak tinggal diam, ia menarik tangan Zeo dan melingkarkannya di pinggang ramping miliknya, tangan Aira langsung mengalung, memeluk tengkuk pria bule itu. Wajahnya mendekat siap menautkan bibirnya...
Bersambung...
__ADS_1