
Damar menyenderkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Ia merasa lelah, setelah mengetahui bahwa Nathan bukan anak kandungnya membuat Damar merasa enggan untuk kembali kerumah. Ia teringat kembali dengan penuturan Nadia.
Flashback
"Katakan Nad, siapa ayah dari Nathan?"
Nadia yang sedari tadi menangis akhirnya buka suara.
"Salah satu teman ku. Kamu nggak kenal."
"Sejak kapan kamu berhubungan dengannya Nad? Kamu menghianatiku dan aku tidak tau...."
"Mas, itu kecelakaan. Itu hanya satu malam. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi..." Nadia bersujud dihadapan Damar memohon dengan sangat agar di maafkan.
"Kecelakaan? Kamu di perkosa?"
Nadia menangis tersedu dengan penyesalan.
"Benar? Kamu di perkosa?" Damar bertanya dengan pengharapan. Berharap Nadia dia perkosa, dengan begitu ia bisa lebih memaafkan istrinya. Damar menatap wajah Nadia yang masih bersujud dihadapannya. Damar duduk menyamakan tinggi dengan Nadia.
"Katakan Nad, kamu diperkosa?"
Tangis Nadia makin kencang,
"Kamu di perkosa kan?"
Nadia menggeleng dalam tangisnya. Damar melemas, ia seperti kehilangan gairah hidupnya. Wanita yang sangat ia cintai, wanita yang sangat ia percayai dan jaga ternyata menghianatinya lebih dalam.
"Jadi kamu melakukannya dengan suka rela? Sengaja? Atas dasar suka sama suka? Kapan? Kau sudah menikah dengan ku NADIA!" Damar sudah tak mampu lagi menahan gejolak didadanya,
"Maafkan Nadia mass....." Tangis Nadia dengan memohon.
Damar yang sudah sangat muak dengan kebohongan dan pembodohan Nadia padanya, beranjak dan berjalan menjauh. Mata Nadia mengikuti langkah Damar.
"Mas mau kemana?"
Damar tak menghiraukan,
"Mas.." Nadia berdiri dan menahan lengan Damar."Mas, jangan pergi mas... Nathan pasti akan mencari papanya jika bangun nanti."
Damar tersenyum sinis, menatap wajah Nadia yang sudah menghianatinya itu berurai air mata.
"Papa? Siapa papanya?"
"Massss.. ." Tangis Nadia dengan sangat pilu.
"Aku bukan papanya Nad. Bukan."
__ADS_1
"Mas...."
Damar melanjutkan langkahnya dengan hati yang hancur atas kebohongan wanita yang selalu ia prioritas kan. Damar berjalan tanpa memperdulikan Nadia yang teurs memanggil namanya sembari menangis.
Flashback off
Damar membuang nafasnya lagi. Dering telpon kantornya membuyarkan lamunan nya. Dengan lemas dan malas Damar meraih ganggang telpon lalu menempelkannya di telinga.
"Halo."
Mata Damar menjadi tajam menyimak suara disebrang sana.
Damar berjalan ke ruangan Presdir, karena panggilan dari papanya pak Budi. Ia membuka pintu dan memasuki ruangan yang terlihat mewah itu.
"Duduk."
Damar menjatuhkan bobotnya ke sofa tamu ruangan ayahnya.
"Ada apa, pa?"
"Apa kamu membawa berkas yang papa minta."
"Sedang dikerjakan oleh sekertaris ku. Sebentar lagi dia akan mengantarnya kemari."
"Tidak apa-apa, selagi kita masih menunggu tim audit yang di bawa oleh salah satu pemegang saham kita."
"Tentu saja, sejak adanya pergerakan dana ilegal yang mengalir entah kemana."
Wajah Damar berubah menjadi sangat tegang."Maksud papa, apa?"
Pak Budi menatap wajah anaknya, antara ketegasan dan kasihan.
"Dam, selagi masih hanya kita berdua. Katakan dengan jujur. Apa yang kamu sembunyikan?"
"Apa maksud papa?"
Tatapan mata pak Budi berubah menjadi sayang, dan juga sedih.
"Dam, kamu anakku, tidak akan mungkin aku bersikap begitu keras padamu..."
"Apa papa lupa? Ancaman papa akan mencabut hak waris ku? Apa menurut papa itu tidak keras?"
Pak Budi tersentak, perubahan wajah antara marah dan sedih tersirat di mimik mukanya.
"Apa kamu melakukan ini karena itu, Dam?"
Damar tersenyum sinis. Menatap papa yang yang juga menatap dirinya dengan sayu.
__ADS_1
Tok tok.
Pintu ruangan Pak Budi di buka dari luar.
"Pak Damar, ini laporan yang anda minta."
"Terima kasih."
Damar mengambil berkas yang dihaturkan oleh sekretaris nya. Ia lalu meletakkannya di meja yang menjadi pembatas anatar dia dan ayahnya.
"Periksa saja."
Pak Budi hanya meliriknya, ia tak mengatakan apapun mengenai berkas itu.
"Bagaimana hubungan mu dengan istrimu itu?"
"Kenapa tiba-tiba papa menanyakan nya?"
"Wajahmu terlihat berbeda."
"Papa tak perlu mengurusi itu."
"Pulanglah."
"Tidak, tanpa anak dan istriku, pa."
Suara pintu di ketuk lagi.
"Masuklah."
Pintu dibuka, beberapa orang terlihat memasuki ruangan Presdir, Damar yang duduk membelakangi pintu masuk hanya melihat beberapa orang yang baru saja datang itu mendekat dan berdiri didepan sofa tamu. Damar terkejut. Matanya membulat seketika dengan muka yang merah.
______
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️