Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 56 • IPAR LAKNAT - Pemanasan •


__ADS_3

"Mas Damar masih di sebelah?"


"Heemmm...." Zeo mengecup bahu Rinjani yang terbuka. Ia memeluk tubuh polos wanita di pangkuannya.


Malam itu, Rinjani dan Zeo berendam bersama di bathtub. Kecupan-kecupan kecil yang Zeo berikan dari bahu hingga lehernya, membuat Rinjani memejamkan matanya, menikmati perlakuan lembut pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.


Kelopak mata Rinjani semakin berat untuk terbuka. Tangan kekar Zeo terus mengurut tubuh Rinjani di barengi dengan sentuhan bibirnya di tengkuk wanita itu.


"Zeo....." Dessaah Rinjani masih dengan mata yang enggan terbuka.


"Zeo, hentikan...."


"Kamu tak suka?" Zeo menghentikan kecupannya dan beberapa gerakan tangannya yang sudah menjelajah kemana-mana."Kamu terlihat sangat menikmati."


Rinjani tersenyum malu. Tentu saja ia sangat menikmati. Rinjani membuka matanya dan melihat pada pria yang menatap wajahnya lekat.


"Aku sangat menikmatinya. Tapi, aku takut tenggelam. Kita baru saja melakukan nya, tujuan kita mandi juga untuk membersihkan diri. Bukan untuk mengulangnya lagi."


"Ha-ha-ha..... Yeaahh.. Itu kan rencana. Kadang bisa berubah."


"Sam menunggu kita makan malam."


"Aahh, iya Sam." Zeo menepuk jidatnya sendiri. "Kupikir dia akan baik-baik saja dengan Bu Ros."


"Lalu apa kamu akan melewatkan makan malam?"


"Bukan aku, tapi kita..." Zeo meraih pipi Rinjani menahanya agar tetap menoleh kesamping. Zeo mendekatkan wajahnya, dan melumaaat bibir lembut Rinjani dengan rakusnya.


"Kamu makan malam ku kali ini."


Rinjani tertawa kecil mendengar ucapan Zeo. Hingga mereka mengulang kembali, adegan panas di tempat yang berbeda.


Dua jam berlalu. Rinjani duduk didepan meja rias. Ia menatap pantulan diri di cermin dengan rambut basah yang Zeo keringkan dengan hairdryer. Rinjani melirik pria yang masih mengenakan handuk di pinggangnya melalui kaca di depan. Zeo pun ternyata juga sedang melihatnya melalui kaca. Keduanya tersenyum senang.


"Masih ada setengah jam lagi untuk makan malam. Ini sudah cukup kering. Aku akan mengambil bajuku." Pamit Zeo meletakan hairdryer di meja rias.


"Oke."


Rinjani pun berganti dengan gaun berwarna biru cerah. Lalu ia memoles wajahnya.


Tok tok tok, (suara pintu kamar diketuk.)


Zeo yang sudah selesai membuka pintu.


"Daddy! Sam sudah sangat lapar, kenapa lama?"


"Jangan tanya Daddy, tanya saja pada bunda mu itu. Dari tadi berdandan tidak selesai-selesai."

__ADS_1


Rinjani yang mendengar ocehan suaminya itu memutar matanya malas.


"Pak su, kau tidak dapat jatah malam ini ...."


Zeo tertawa kecil, lalu mengendong Sam. "Kami tunggu di bawah sayang."


"Heemm...."


"Cepat bunda!" Timpal Sam yang lalu asik berceloteh dengan Daddy nya.


Rinjani keluar dari kamarnya hendak menyusul keluarga kecilnya yang sedang menunggu di restoran lantai bawah. Tiba-tiba tangannya di cekal. Sontak Rinjani berbalik melihat siapa yang mencekal lengan nya. Netranya membulat, ada gurat kesal terpancar.


"Mas Damar? Apa lagi mau mu? Apa tak bisa kau berhenti mengganggu ku?"


"Benarkah kamu sudah menikah dengan nya?" Tanya Damar penuh harap, berharap Rinjani akan mengelaknya.


Rinjani tergelak. "Iya, dia suamiku. Zeo Ferdinand adalah suamiku, juga Daddy-nya Sam. Kau puas?"


"Tidak!" Damar menggelengkan kepalanya menolak keras "Tidak. Tidak mungkin."


Damar terus mengelak tidak percaya dengan pengakuan Rinjani.


"Sam anakku. Aku sudah melakukan test DNA. Dia anakku."


Damar terus mengelengkan kepalanya, " Tidak mungkin kamu sudah menikahinya, kamu pasti hanya berbohong.."


"Lalu bagaimana denganku?"


Rinjani tertawa sinis, berbalik dengan malas dan menatap pada mantan suaminya itu.


"Itu urusanmu, Damar." Cemooh Rinjani dengan tangan dilipat didepan."kalau aku mau beri saran, sebaiknya kamu kembali saja dengan mantan istrimu itu, aaaa,, siapa namanya? A, iya, Nadia. Wanita Yang sangat kamu ratukan."


Rinjani mengulas senyum sinis nya sembari berjalan menjauh. Kaki Damar serasa sangat lemas. Ia sangat berharap Rinjani akan dengan tegas mengatan tidak. Namun justru sebaliknya yang ia dapat.


"Apa yang telah ku lakukan?"


Tubuh Damar melorot kebawah, akibat tubuhnya yang terasa sangat lemas dan kaki yang seolah tak mampu lagi menopang lagi tubuhnya.


"Rinjani.... Samm....."


Damar melipat kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Dan tangan yang memegangi kepala frustasi.


"Aaarrrgggg......."


______


Malam semakin larut, Zeo dan Rinjani bersantai di balkon. Zeo bersandar pada pinggiran pagar balkon sedangkan Rinjani berdiri disebelah nya, menghadap arah yang berlawanan dengan Zeo.

__ADS_1


Rinjani menoleh memandang wajah suaminya. Ia fokus pada sudut bibir Zeo memar akibat pukulan dari Damar tadi.


"Apa ini sakit?" Rinjani menyentuh luka lebam itu.


"Aawwww..."


Rinjani bergegas menarik tangannya namun dengan cepat Zeo tahan.


"Kalau tangan mu tetap disana tidak sakit."


Rinjani mentoyor luka lebam Zeo sangat kesal dengan rayuan suaminya.


"Auuuu... Kamu kasar sekali sih?" Zeo mengusap lebamnya. Rinjani tergelak.


"Damar memang keterlaluan."


Zeo memunjuk luka lebamnya. Rinjani melirik padanya.


"Apa?"


Zeo hanya diam dan memasang wajah mengiba. Sambik terus menunjuk lebamnya.


"Kamu minta cium?"


Zeo mengangguk. "Obat lebam."


Rinjani mengulas senyumnya, berjinjit dan mengecup sudut bibir Zeo yang lebam, akan tetapi pria itu justru menyambut nya dengan lumattan lembut yang berujung bertautnya lidah kedua.


"Apa kamu mau membuat yang disebelah sana kepanasan?" Zeo mengunci tubuh Rinjani pada pagar pembatas balkon. Melirik kecil ke arah kamar sebelah, kamar yang Damar tempati.


"Bagaimana?"


______


bersambung..


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2