Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 14 • IPAR LAKNUT - Tidur Bareng Lagi? •


__ADS_3

"Kau!"


Rinjani menuding wajah Zeo yang berdiri didepan pintu kamar yang pria itu tempati. Tentu saja Zeo hanya berwajah datar.


"Kau kan yang meletakkan ular-ular itu diatas ranjang ku?"


"Oh ya?"


"Oohh yaa??" Ulang Rinjani dengan wajah mencemooh kesal.


"Bukankah kau suka dengan ular?"


"Apa?"


"Kau tinggal pilih salah satunya untuk digunakan?"


Rinjani menendang kaki Zeo saking kesalnya. Pria itu mengaduh, memegangi kaki kirinya.


"Bukankah kau sudah lama tidak disentuh suamimu? Karena kau tidak suka dengan punyaku, ku kirim saja ular ke ranjang mu."


"Haahh, terima kasih sudah mengakuinya." Rinjani menarik lengan Zeo sampai pria itu keluar dari kamarnya. Rinjani bergegas masuk kedalam kamar Zeo dan menutupnya. Zeo menatap pintu kamarnya dengan terkejut dan sedikit pandangan protes.


Pintu itu terbuka sedikit, kepala Rinjani menyembul."Kau tidurlah dikamar yang penuh ular itu. Aku tidak akan kembali sebelum tempat itu steril." Ucap Rinjani dengan lidah menjulur keluar. Lalu bergegas dia menutup pintu itu dengan keras, lalu menguncinya.


Zeo tersenyum lucu. Tanpa memprotes dengan kata-kata, Zeo berjalan kekamar Rinjani. Ular dikamar itu sudah dibersihkan oleh tukang kebun dan beberapa pekerja pria dirumah utama. Itu bukan ular berbisa, hanya ular yang telah dijinakkan jadi tidak berbahaya. Hanya, yah, bikin geli saja.


Zeo memindai kamar itu berkeliling, ia mulai mencari-cari apa saja di kamar Damar dan Rinjani. Membuka laci, membolak-balik isinya, lalu berpindah ke lemari baju. Tangannya bekerja mencari sesuatu yang entah apa.


_______


Sementara itu, Rinjani dikamar Zeo.


"Baiklah, aku sudah dikamarnya, aku harus mencari petunjuk apa kelemahannya agar bisa mengusirnya dari sini." Gumam Rinjani bersungut mengelilingi kamar dengan mata dan tangan yang mencari-cari sesuatu di setiap jengkal ruangan itu.


Setelah beberapa menit Rinjani mencari, namun tak menemukan apapun. Dia meremas bantal dengan sebal.


"Dasar bule gila. Bagaimana caraku mengusir mu?" Pekik Rinjani dengan geram sembari duduk dibibir ranjang. Tangannya yang tadi meremas bantal dengan brutal, memeluk benda empuk itu. Mata Rinjani tak sengaja melihat foto yang berdiri terpanjang di atas nakas. Rinjani mengambilnya. Memandang foto berbingkai itu. Foto Zeo dengan seorang wanita yang lebih tua. Mereka terlihat mirip.


"Apa dia mamanya?"


Rinjani berfikir sambil mengigit bibir bagian dalam. Ia lalu beranjak dan keluar kamar dengan membawa foto itu. Berhubung pak Budi belum pulang, Rinjani menemui salah satu pekerja di rumah itu sejak pak budi dan Bu Ratna pertama menikah dan tinggal dirumah itu. Rinjani mengorek informasi darinya dengan menunjukkan foto yang dia ambil dari kamar Zeo. Rinjani cukup tercengang mendengar penuturan pekerja itu.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Rinjani hendak kembali kekamar. Tepat di depan tangga, pak Budi baru saja pulang, menyapanya.


"Rin?" Rinjani menoleh,


"Belum tidur?" Pak Budi berjalan mendekat.


"Belum pa."


Rinjani menunjukan foto ditangannya. Wajah pak Budi berubah, lalu menatap wajah menantunya.


"Ikut papa keruang kerja."


####


Hari berganti, Rinjani terus merasakan konflik batin. Ia tak tau harus berbuat apa tanpa harus mengorbankan perasaan orang lain. Damar berulang kali menghubunginya, meminta kejelasan usaha Rinjani. Belum lagi, telpon dari mama Ratna yang terus mendesaknya. Rinjani menatap kumpulan bintang di langit dari balkon kamarnya. Setelah menutup panggilan dari sang mama mertua.


"Tuhan... Apa yang harus kulakukan?" Lirihnya.


_______


Rinjani dengan gugup berdiri didepan pintu kamar Zeo yang tertutup rapat, berulang kali ia mengangkat tangannya hendak mengetuk tapi urung. Rinjani ragu, tapi juga dia harus lakukan, agar pria itu pergi dari rumah agar Damar serta mama Ratna kembali kerumah. Walau pun sebenarnya Rinjani merasa tak enak hati setelah mendengar penuturan pekerja dan pak Budi tentang kejadian 20tahun yang lalu. Namun desakan dari Damar dan mama Ratna membuat Rinjani melalui banyak konflik batin. Akhirnya, Rinjani memutuskan untuk memenuhi syarat yang Zeo ajukan saja.


"Aku pernah melakukannya sekali. Sekali lagi tak apa Rinjani. Asal kamu menutup rapat semuanya. Tidak akan ketahuan, lagi pula kamu lakukan ini juga demi mereka. Mas Damar pasti mengerti."


"Masuk."


Terdengar suara Zeo dari dalam. Rinjani menggenggam handel pintu, perlahan mendorongnya. Ia melangkah masuk kedalam kamar yang milik bos sekaligus adik iparnya. Rinjani mengambil nafas panjang sebelum memberanikan diri mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.


Zeo berdiri didepan sebuah meja dengan badan yang sedikit membungkuk pada laptop yang menampakan beberapa diagram di layarnya. Mata pria itu sangat fokus pada layar yang menyala cukup terang itu. Zeo menolehkan kepalanya. Melihat Rinjani berdiri dengan canggung di belakangnya. Dengan tampang dingin Zeo menegakkan punggungnya dan berbalik. Menyenderkan bokongnya dimeja, lalu melipat tangannya di dada bidangnya.


"Ada apa?"


Rinjani mengigit bibir bawahnya. Ia tiba-tiba diliputi keraguan dan kegelisahan. Berulang kali Rinjani menarik nafas dan menghembuskan nya. Demi menghilangkan kegugupan dan sesak didadanya yang tiba-tiba merayapi. Rinjani melihat wajah Zeo, pria yang sedari tadi menatapnya dengan sangat tajam dan dingin. Tubuh Rinjani bergidig.


"Aku.... Aku bersedia."


Zeo mengerutkan keningnya.


"Bersedia untuk apa?"


Wajah Rinjani merona, malu rasanya dan ingin menenggelamkan diri ke perut bumi terdalam.

__ADS_1


"Kau bilang, kau akan pergi jika aku tidur denganmu." Lirih Rinjani, sangat lirih bahkan Zeo pun butuh telinga ekstra untuk mendengarnya.


Pria bule itu tersenyum, lalu berubah jadi gelak tawa. Membuat wajah Rinjani makin merona oleh malu, tapi demi Damar dan mama Ratna, dia harus lakukan. Tak ada pilihan lain saat ini.


"Tunjukkan padaku. Buat aku tergugah."


Rinjani menutup matanya sebentar mengatur nafasnya agar himpitan didada berkurang. Rinjani membuka matanya lagi, ia melihat sekeliling. Rasanya sudah hampir hilang kewarasannya. Dulu ia lakukan hubungan laknut itu karena minum, ia pun memindai ruangan itu mencari minuman yang dapat mengeluarkannya dari kewarasan.


Disisi kanannya, Rinjani melihat ada sebotol anggur diatas meja. Rinjani melangkah kesana, mengambil botol itu dan meminumnya langsung dari mulut botolnya hingga beberapa tegukan. Zeo hanya menatap Rinjani tanpa melepas pandangannya.


Tetesan anggur yang turun dari bibir Rinjani hingga membasahi sekitar dadanya membuat Zeo menelan ludah.


"Berjanjilah padaku, kau akan pergi setelah ini."


"Aku berjanji."


"Dan hanya kita yang tau tentang masalah ini."


"Okey."


Rinjani membuka kancing teratas blouse nya, satu persatu hingga sampai di batas perutnya yang tertutup rok sepanjang di bawah lutut. Blouse Rinjani tersibak hingga ke lengan atasnya. Menampakkan sebagian tubuh dan penutup dadanya yang berwarna krem. Mata Rinjani yang terlihat sayu dan menggantung, membawa langkah kaki Zeo mendekat. Pria itu meraih pinggang Rinjani, menyatukan bibirnya dengan bibir milik Rinjani, tangannya yang satu lagi menekan kepala bagian belakang wanita itu. Guna memperdalam ciumannya.


"Balas ciumanku."


Rinjani dengan patuh menggerakkan bibir dan lidahnya. Matanya menutup, namun butiran bening berhasil lolos dengan mudahnya, meluncur deras di pipi.


________


Bersambung....


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2