
"Daddy!!"
Sam merentangkan tangannya sembari menubruk Zeo. Pria bule itu langsung mengangkat tubuh Sam dan berputar-putar. Bocah Lima tahunan itu pun girang.
"Daddy, mana oleh-oleh nya?"
"Ada di mobil."
"Asyiikk..."
Rinjani berjalan mendekat, dan berhenti dibelakang Sam yang kegirangan.
"Kapan datang?"
"Baru aja." Jawab Zeo masih sibuk dengan Sam yang bergelayut manja padanya."Langsung kemari, karena ingat dengan anak Daddy yang satu ini pasti sudah pulang sekolah."sambungnya sambil mengacak rambut Sam.
"Daddy, ayo ambil oleh-olehnya." Sam menarik tangan Zeo, hingga Zeo tersenyum lebar dibuatnya.
"Sam, Samm...!"
Samudra menoleh menatap bundanya yang menyebut namanya dengan nada larangan. Bibirnya sudah cemberut saja.
"No! Uncle Z baru saja datang, dia pasti lelah. Ayo pulang sama bunda."
"No!" Bantah Sam merajuk."Enggak Kan Dad?"
Zeo tersenyum kecil menatap wajah Sam yang memandangnya dengan wajah menggemaskan.
"Enggak, capeknya Daddy langsung hilang begitu liat Sam yang bersemangat."
"Zeee...."
"Ayolah, tidak setiap hari seperti ini. Atau, kalau kamu sangat khawatir padaku, jadilah supirku." Zeo melempar kunci mobilnya dan langsung ditangkap oleh Rinjani.
"Kalau aku jadi supirmu, bagaimana dengan punyaku?" Balas Rinjani sembari menunjuk mobilnya di belakang dengan jempolnya.
"Jiechi...."
Jiechi muncul dan menunduk pelan. Rinjani mengeleng pelan menatap Zeo yang tersenyum jail.
"Kau curang."
"Ayo, ambil oleh-olehnya di mobil Sam." Seru Zeo menggandeng tangan Sam yang sudah melompat kegirangan.
"Yeeeyyy....."
Jiechi mendekat, Rinjani menyerahkan kunci mobil miliknya, dan tersenyum sekilas.
__ADS_1
"Maaf ya, sepertinya Zeo sedang..... Kau tau?"
Jiechi mengulas senyum diwajahnya. "saya lebih mengenalnya, Rinjani."
"Ha-ha-ha... Baiklah."
###
Hari itu, Rinjani menjadi sopir Zeo dan Sam yang duduk di belakang. Memilih oleh-oleh dari Zeo, mana yang akan di buka lebih dulu.
Rinjani hanya melirik sesekali melalui spion lalu tersenyum melihat dua lelaki yang duduk di kursi belakang.
"Jangan lirik-lirik, ntar nabrak."
"Apaan sih?"
"Nanti setelah dirumah, kamu boleh melihatku sampai puas."
"Pede banget." Cibir Rinjani meleos menatap kedepan.
Sesampainya dirumah, Sam terus bermanja-manja pada Zeo. Baginya, Zeo adalah Daddy yang sangat menyayangi nya dan menjadi pahlawannya karena hingga kini bocah itu tak tau siapa ayahnya dan berada di mana. Sementara Rinjani langsung berjalan ke dapur. Ia berniat membuatkan Zeo minuman. Di dapur Rinjani mengambil teko, lalu memasukkan serbuk teh tubruk dan batang jahe, mengisinya dengan air lalu meletakan nya diatas kompor. Setelah menyalakan api. Rinjani mengambil gelas menempatkan nya di atas nampan. Saat itu Bu Ros yang baru kembali dari tukang sayur masuk melalui pintu belakang.
"Loh, mbak Rinjani dah pulang?" Tanya Bu Ros sembari meletakkan belanjaannya ke meja.
"Iya buk." Sahut Rinjani dengan senyum di wajahnya, masih dengan aktifitas nya.
Mau bikin teh mba?"
"Oh, mister Zeo kemari? Udah pulang?"
"Iya, tadi baru sampai, tuh lagi di ruang tengah sama Sam."
"Eeh, mau minta oleh-oleh lah." Kekeh Bu Ros sembari berjalan ke luar dapur."
Selepas Bu Ros pergi, Teh yang Rinjani didihkan siap di tuang ke gelas. Tentu saja setelah memberi gula lebih dulu. Rinjani mengaduk tehnya, saat sepasang tangan kekar menelusup di perutnya. Wajah Zeo tenggelam di pundak Rinjani yang sedikit terbuka karena wanita itu memakai baju Model Sabrina.
"Zeee...."
"Maaf, aku hanya rindu."
Zeo langsung melepaskan pelukannya. Lalu sedikit mundur dan bersandar pada punggung kursi kayu yang ada disana.
"Jangan lakukan ini lagi." Rinjani berbalik dengan nada protes menatap tajam pada Zeo.
"Maaf."
Rinjani mengambil teh milik Zeo lalu menyerahkan padanya. "Ini..."
__ADS_1
"Terima kasih." Zeo menyeruput tehnya."Kenapa wajahmu begitu? Ada masalah? Atau sangat tidak suka dengan yang baru saja aku lakukan?"
Rinjani tersenyum kecut."Tidak ada. Hanya..... Sudahlah."
"Apa resto mu sedang bermasalah?"
"Tidak juga." Rinjani menggeleng, "Sebenarnya, Resto Samudra di Paramex sedang ada gangguan. Aku bingung harus bagaimana?"
"Gangguan apa?"
"Yah, mungkin pesaing bisnis. Aku ragu untuk menutupnya dan pindah."
"Kau sudah bicara dengan Jiechi? Dia bisa membantumu."
"Tidak, justru itu yang aku hindari. Jiechi terlalu kasar. Aku tidak mau jika dia membalas dan berimbas pada karyawan mereka."
"Kau tidak memikirkan karyawanmu?"
"Tentu saja aku memikirkannya. Aku berencana memindahkan mereka cabang yang lain. Dan menutup yang disana. Tapi aku tak tau bagaimana karyawanku nanti, apakah mereka akan kesulitan atau tidak? Apakah bisa menyesuaikan diri atau tidak? Bagaimana transportasinya?"
"Kamu sampai memikirkan sejauh itu."
Rinjani mengetuk-ngetuk mug yang ada di genggaman nya. Ia tersenyum penuh arti.
"Mereka sudah seperti keluargaku Zee.... Tentu saja aku tak mau mereka mengalami kesulitan. Ada orang yang mereka hidupi, ada alasan mereka bertahan. Ada yang menanti gajian setiap bulannya, mungkin saja mereka punya tanggungan cicilan atau apa. Aku tidak ingin memutus itu Ze."
Zeo menatap wajah Rinjani, entah kenapa rasa cintanya pada wanita di hadapan nya kini semakin besar. Sangat menginginkan wanita yang telah keras hatinya, hingga lima tahun berlalu, masih tak mau membuka hatinya untuk pria manapun. Bahkan dirinya.
Zeo memangkas jarak mengambil mug berisi teh hangat dari tangan Rinjani. Lalu ia letakkan di meja belakang Rinjani berdiri. Tangannya mengunci disana, sementara tangannya yang lain menyentuh lembut pipi Rinjani. Wajahnya mendekat,semakin dekat,semakin dekat membuat wajah Rinjani menghangat.
Nafas Rinjani semakin cepat, bibirnya merenggang. Wajah Zeo semakin dekat hingga hanya menyisakan ruang yang sangat tipis diantara mereka. Nafas Rinjani semakin cepat, dan hembusan hangat nafas Zeo menyentuh kulit wajahnya.
'Entah apa yang membuatku seberani ini, Rinjani. plis, jangan tolak aku... jangan tolak aku...'
________
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️