Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 47 • IPAR LAKNAT - Masa Lalu Zeo •


__ADS_3

Zeo kecil menangis di sudut dapur, memeluk lututnya lalu ia menutup telinga dengan tangan yang bergetar dan netranya memejam rapat. Suara teriakan yang melengking dan suara sang mama yang kesakitan. Tak lama semuanya menjadi hening.


Zeo kecil memberanikan diri membuka matanya. Salah seorang pelayan pria yang merasa iba, meraih tubuh mungil itu. Lalu berbisik:


"Tuan muda, ikutlah dengan ku. Jangan takut, jangan bersuara. Ikutlah denganku."


Zeo kecil meraih tangan yang merengkuhnya. Mereka berjalan mengendap-endap menuju sebuah mobil hitam yang agak jauh di halaman belakang. Zeo kecil terkejut, melihat mamanya tergeletak di jog belakang dengan lemah.


"Mama..."


"Sssttttt... Tenanglah tuan muda. Kita akan meninggalkan tempat ini demi keamanan mu." Bisik pelayan muda itu. Menuntun Zeo kecil memasuki moobil disamping sang mama yang lemas terkulai.


"Mama....." Tangis Zeo kecil. Memeluk kepala Rihana.


Mobil hitam itu bergerak dengan perlahan. Zeo menatap mamanya lalu ia berganti memandang rumah megah yang sempat ia tinggal selama beberapa Minggu itu bersama mamanya.


****


Zeo membuka matanya. Ia menyapu pandangannya, jantung nya berdetak kencang, seolah ia baru saja lari maraton. Zeo mengusap wajahnya.


"Mimpi itu lagi..." Gumamnya.


Zeo berjalan keluar dari kamarnya, ia memasuki sebuah ruang khusus. Menatap foto seorang wanita berambut coklat yang terbingkai besar diatas perapian.


"Mama.... Sebentar lagi, akan kubuat mereka menjadi gembel."


****


Pagi itu, Zeo berolah raga lari pagi keliling komplek, di tengah jalan pulang, ia bertemu dengan Bu Rosmala. Wanita setengah abad itu menyapanya.


"Mister Zeo, bagaimana pagi ini?"


Zeo mengulas senyum di wajah tampannya."Tidurku tidak begitu nyenyak."


Wajah Bu Ros sedikit beriak. Ia lalu mendekat dan berbisik.


"Apa tuan muda mimpi buruk lagi?"

__ADS_1


"Iya, Bu Ros." Sahut Zeo dengan senyum tipis.


"Tuan muda, sudah lama tuan muda tidak mimpi buruk itu. Ada apa?"


"Bu Ros, jangan memanggilku tuan muda lagi."


"Iya, maaf saya lupa, mister. Ho-ho-ho." lontar Bu Ros Sembari mengangkat telapak tangannya hingga di depan mulutnya.


"Apa Rinjani sudah bangun?"


"Sudah mister. Apa mau mengunjunginya?" Bu Ros mengendikkan alisnya dengan senyum tersungging di wajahnya.


"Bolehkah?"


"Tentu saja tidak. Kan sedang dipingit. Ho-ho-ho."Bu Ros terlihat senang sekali sedang menggoda Zeo.


Mereka bisa sedekat itu, tentu tak lepas dari masa lalu mereka. Bu Ros adalah istri dari pelayan pria yang membawanya dan mama Rihana keluar dari rumah Rubiandini. Merekalah yang menyelamatkan Zeo dan Rihana dari kekejaman Ratna yang kalap karena pak Budi lebih sayang pada Madunya dan anak madunya itu ketimbang dirinya dan Damar.


Dan kali ini, Zeo juga meminta Bu Ros untuk kembali membantunya menjaga Rinjani dan Sam selama di Surabaya tanpa sepengetahuan Rinjani. Tentu saja Bu Ros dengan senang hati menyanggupinya. Apalagi mengetahui kepahitan Rinjani semasa menjadi istri Damar dan Zeo yang mencintai Rinjani sangat dalam.


Satu hari lagi, Zeo dan Rinjani akan melangsungkan pernikahan. Meski Zeo sudah menawarkan sebuah pesta yang megah, namun Rinjani menolak. Ia tak menginginkannya. Terlebih sebuah pesta pernikahan membuat nya mengingat akan Damar.


###


Pagi itu, Nadia terus merasa gundah, ia menunggu seorang detektif yang telah dia sewa untuk memata-matai Damar memberikan laporannya.


Seorang pria datang dan duduk di seberang Nadia duduk. Ia melepas kacamata yang bertengger di wajahnya lalu meletakkannya di meja.


"Ibu Nadia...."


"Benar. Bagaimana hasilnya?"


Pria detektif itu tersenyum.


Ia mengeluarkan map coklat lalu menyerahkan pada Nadia. Dengan cepat Nadia membuka amplop coklat itu dengan tak sabar.


Ia melihat beberapa foto dan sebuah flashdisk. Tangan Nadia bergetar meremas foto itu.

__ADS_1


"Wanita ini.... Dan... Anak ini...." Nadia menatap sang detektif dengan mata merah menahan air mata dan amarahnya bersamaan.


"Namanya Rinjani."


"Aku tau." Potong Nadia cepat."Dia mantan istri suami ku."


"Dan anak ini?"


"Itu anak wanita bernama Rinjani."


"Apa?" Nadia tersentak kaget. Tampak kilatan marah di matanya. Wajahnya sudah sangat memerah menahan gejolak didadanya.


"Apa kau mau bilang mas Damar menemui mereka di belakangku?"


Detektif itu mengangguk. Pria itu memilih foto-foto yang berserakan dimeja. Lalu ia menarik satu dan menggesernya kedepan Nadia. Mata Nadia membelalak melihat sosok di foto itu.


"Pria ini....."


____


Bersambung..


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2