Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 13 • IPAR LAKNUT - Usaha Mengusir Zeo •


__ADS_3

Mata Zeo melebar, ia urung menggunakan lampu duduk untuk memukul. Ia turunkan benda itu pelan-pelan.


"Apa yang kau lakukan disini? Dengan penampilan begitu?"


Rinjani yang sudah berdandan ala kuntilanak pun tercengang, karena Zeo bahkan tak merasa takut. Bahkan langsung mengenalinya.


"Kau tidak takut?"


Zeo menautkan alisnya.


"Sama sekali? Lihatlah, ini kuntilanak. Kau sama sekali tidak takut?"


"Kenapa aku harus takut dengan wanita lemah berpenampilan berantakan sepertimu."


"Apa?"


"Apa ini maskara? Kenapa kau gunakan begitu banyak dimatamu?" Zeo menunjuk sekitar mata Rinjani yang hitam legam. Membuat wanita bersuami itu melongo.


"Aahh, maskermu cukup bagus." Ucap Zeo acuh sambil berlalu masuk kekamar.


'Apa? Masker? Apa dia pikir aku memakai perawatan wajah?' batin Rinjani dengan mulut yang makin melongo.


"Bagaimana kamu bisa sampai disana?"


"Yah, balkon kita kan berseberangan." Rinjani menggosok tengkuknya yang tidak gatal.


"Bagus! Kalau begitu, lewat sanalah lagi." Zeo menutup pintu balkonnya dengan tetap membiarkan Rinjani diluar.


Rinjani yang kesal mengangkat tangannya dengan gaya hendak memukul. Tentu saja tidak ada yang dipukul karena didepannya adalah pintu kaca balkon yang telah tertutup rapat.


"Sekarang bagaimana? Dia lama tinggal diluar, jelas saja ia tak punya kepercayaan pada hantu. Apap lagi tau tentang kuntilanak. Aku harus cari cara lain." Gumam Rinjani berbalik dengan tangan yang dilipat didada dan wajah cemberut, kembali ke balkon kamarnya.


Hari berlalu Rinjani sudah melakukan berbagai macam cara agar Zoe pergi, termasuk memberinya makanan dengan dicampur obat pencahar, hingga pria bule itu berulang kali bolak balik kamar mandi. Rinjani juga dengan sengaja menaburi ranjang kamar Zeo dengan bubuk gatal. Namun sepertinya itu semua tidak berhasil membuat iparnya itu angkat kaki dari rumah utama.


Rinjani dengan lemasnya merebahkan diri ranjang kamar nya dengan tangan terlentang. Rinjani menghela nafasnya dengan berat.


"Susah sekali mengusirnya." Gumam Rinjani, ia merasai ada yang bergerak-gerak di bawah selimut yang ia tiduri. Ia segera bangkit berdiri disisi ranjang, gegas ia menyibak selimut. Matanya melebar sempurna, melihat ada banyak ular disana.


"KYAAAAAA....."


Suara pekikan penuh kengerian Rinjani membawa seutas senyuman di bibir Zeo.


"Kau pikir, hanya kau yang bisa main-main?" Gumamnya pelan.


_______


Di hari yang sama di waktu yang berbeda.


("Dam! Jemput mama di Mal S.")


"Iya ma. Bentar, Damar otewe."


Setelah menutup sambungan telpon seluler nya, Damar melajukan mobil Oren itu ke arah Mal S yang di sebutkan sang mama. Selama hampir lebih dari seminggu ini, Mama Ratna hanya berbelanja untuk menghilangkan jenuh dan kekesalannya pada sang suami. Entah sudah berapa juta uang yang keluar hanya untuk memuaskan Ratna.


Tepat di depan mal S , Damar menghentikan mobilnya. Mama Ratna bergegas masuk setelah Damar membantu sang mama memasukkan semua kantong-kantong belanjaan mama Ratna yang bejibun itu. Setelah nya, Damar mengendarai lagi kendaraan besi itu meluncur membelah jalanan.


"Mama mau balik ke vila lagi?"


"Iya lah dam. Mau kemana lagi? Rumah besar, ogah banget. Ada anak laknut itu. Nggak Sudi mama menginjakkam kaki disana."


Damar tak menanggapi, ia masih fokus mengemudi.


"Dam, apa yang dilakuin Rinjani? Apa dia nggak mbujuk papa buat ngluarin anak itu?"

__ADS_1


"Udah ma."


"Terus? Kenapa sampai sekarang masih adem ayem?"


"Papa bilang dia nggak ngusir kita, kalau mau balik ya balik aja."


Mama Ratna mencibir, ia tau Suaminya itu pasti akan bersikap seperti itu. Sama seperti 20tahun yang lalu. Kalau dia tak mengambil tindakan sudah tentu, Ratnalah yang keluar dari rumah itu dan tak kembali. Mama Ratna meremas ujung bajunya, kesal dengan sikap suaminya.


"Dam, kita harus bertindak."


"Bertindak bagaimana ma?"


"Ya usir bocah itu."


"Nggak mungkin ma. Papa pasti bakal kalap banget sama kita kalau lakukan."


"Ya usir pake cara yang benarlah."


Damar menghela nafas beratnya.


"Damar dah minta Rinjani ma."


"Apa dia bisa diandalkan? Sampai sekarang aja dia nggak bisa bikin kita kembali ke rumah itu dan mengusir anak laknut itu."


"Sabar ma. Rinjani juga lagi mengusahakan. Percayakan saja sama Rinjani, saat ini kita nggak bisa bergerak sembarangan. Waktu itu, karena perhitungan yang kurang, papa sampai musuhin kita beberapa Minggu. Walau akhirnya papa luluh juga sama kita."


"Dam, nggak usah mengungkit masalah itu lagi."


"Sekarang pikirin gimana ngusir bocah itu. Itu aja."


Mama Ratna yang sudah kesal dan pusing memijit pelipisnya sambil bersandar dan memejamkan matanya.


"Kalau dah sampai vila, bangunin mama."


_____


"Kamu mau kemana dam?" Tanya mama Ratna yang duduk di sofa ruang utama dengan bersandar dan memijit pelipisnya yang masih terasa pusing.


"Balik ma."


"Balik kemana? Rumah temanmu itu?"


Tanpa menjawab, Damar hanya mengangguk pelan.


"Tinggal disini aja kenapa sih Dam, temenin mama."


"Disini jauh ma dari kantor."


"Terus mau sampai kapan kamu tinggal dirumah temanmu itu? Nggak enaklah sama keluarganya kalau kamu numpang tinggal disana."


"Nggak papa ma, Damar dah kasih tips kok. Buat sewa kamar."


Damar mendekat dan mencium tangan mamanya. "Damar pergi dulu ya ma."


"Heemm.... Ingat dam, terus desak Rinjani buat usir iblis itu."


"Iya...."


Damar memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia mengambil earpone dan memasangnya di telinga. Damar lalu melakukan panggilan telpon.


"Nathan, sayangnya papa."


("Papa, kapan kembali? Nathan dah kangen pingin main sama papa.")

__ADS_1


"Bentar lagi sayang. Ini papa udah dijalan. Kamu mau dibeli apa?"


("Papa, aku mau coklat sama Boba.")


"Noo.... Nggak boleh coklat. Yang lain, sayang."


("Nathan mau coklat.")


"Ya udah papa nggak jadi pulang."


("Yaahh, jangan pa. Boba sama kebab, boleh?")


Damar mengulas senyum di wajahnya.


"Boleh. Tunggu ya."


("Horee!!")


"Nat, mama mana?"


("Ada... Mama.....") Setelah menjawab ada, suara Nathan memanggil mama terdengar sangat jauh disertai suara langkah Nathan yang berlari.


Damar menunggu sesaat, hanya terdengar agak jauh suara Nathan dan Nadia yang sepertinya sedang berbincang.


("Ada apa mas?") Suara Nadia sedikit terengah sepertinya sedang berjalan cukup jauh. Namun itu tak jadi soal untuk Damar pertanyakan.


"Mas lagi otewe pulang, kamu mau nitip apa?"


("Nadia nggak masak mas.")


"Jadi mau dibeliin makan malam?"


Hening sesaat, Nadia seperti sedang berpikir.


("Kita makan diluar aja mas? Gimana?")


"Boleh."


Setelah mengakhiri sambungan telpon, Damar mampir ke stand gerobak Boba dan kebab Turki. Menunggu sesaat hingga pesanan siap, Damar bergegas kembali kerumah Nadia. Begitu sampai dihalaman rumah, Nadia dan Nathan sudah menunggu di teras. Nathan tampak sangat tampan dengan setelan kemeja biru dan celana Naruto dengan warna yang sama. Sedangkan Nadia hanya mengenakan blouse motif floral dan celana yang cukup ketat karena blouse yang Nadia kenakan menjuntai sampai ke lututnya.


Damar menerbitkan senyum diwajah tampannya, menggandeng Nadia dan menggendong Nathan masuk kedalam mobil untuk makan malam.


CEKREK!


CEKREK!


Suara kamera yang menangkap gambar keluarga bahagia itu terdengar di kejauhan.


Bersambung ...


______


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2