
Hampir tengah malam, Zeo baru memasuki rumah utama keluarga Rubiandini. Ia sengaja pergi menjauh karena tak sanggup melihat kemungkinan Rinjani yang bahagia bersama dengan Damar. Melihat mereka mungkin bermesraan setelah mengetahui kehamilan Rinjani. Zeo memilih menjauh dan fokus pada rencana awal, tentu tanpa melibatkan Rinjani. Melihat wanita kesepian itu mengingatkan nya pada Rihana sang mama yang telah meninggal beberapa tahun silam.
Zeo keluar dari kamar melalui balkon menatap langit malam dan menghirup udara malam itu. Zeo yang terdiam ditengah keheningan malam itu, ia justru mendengar suara tangisan. Zeo menoleh kearah suara itu berasal. Kamar Rinjani. Ia berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya ke samping kamar. Memastikan itu memang suara tangisan Rinjani.
Setelah Zeo yakin, ia melompati pagar pembatas antara balkon mereka. Ia berjalan mengendap dan berdiri tepat di depan pintu kaca yang sedikit terbuka. Melihat tubuh Rinjani meringkuk dilantai depan pintu dan sebuah box di samping perutnya. Mata Zeo melebar, bergegas ia menyelinap masuk melewati pintu yang sedikit terbuka itu.
"Rinjani."
Rinjani yang terkulai meringkuk di lantai dengan air mata yang masih berderai menoleh kearah suara. Melihat Zeo berdiri tak jauh dari pintu. Ia bangun, air matanya makin jatuh berderai, bibirnya semakin melengkung kebawah. Dan tangis nya pecah, Zeo berjongkok dan memeluk tubuh Rinjani yang menangis tersengal-sengal dalam pelukannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa menangis? Mana Damar?"
Tangis Rinjani menjadi, dan terdengar sangat pilu. Zeo mengeratkan Pelukannya dan mengusap rambut Rinjani dengan sayang. Hanya agar wanita dalam pelukannya itu menjadi tenang dan aman.
Sesaat lamanya tangis Rinjani berangsur reda.
"Kenapa dihari yang membahagiakan ini kamu justru menangis, heemm??"
"Mas Damar menolaknya, Ze. Dia tidak mengakuinya." Tangis Rinjani menatap mata Zeo yang tangannya menghapus pipi wanita dihadapannya. Mesti berulang kali mengusapnya, pipi itu tetap basah.
"Dia bilang ini bukan benihnya, dia bilang aku sudah berhianat."
"Kenapa?"
"Dia bilang dia vasektomi, Ze. Dia vasektomi, dia menolaknya... Ini bukan anaknya...." Rinjani kembali menangis tersengal." Selama lima tahun ini aku terus merasa buruk, menjadi wanita yang tak utuh dan tak sempurna, aku selalu menangis setiap kali melihat testpack ku satu garis. Hati hancur setiap bulannya aku mengalami siklus ku."
Rinjani makin tersengal menunjuk box dimana tumpukan testpack yang dia simpan rapi, yang kini ada disampingnya.
"Sebanyak ini hatiku hancur berkali-kali Ze. Dan hari ini, saat kurasakan secuil kebahagian dari apa yang aku nantikan, mas Damar menolaknya. Dengan entengnya dia bilang vasektomi."
Rinjani mukul-mukul dadanya,"sakit Ze, disini sangat sakit."
"Tega nya mas Damar padaku."
Rinjani meraung, menangis memandang box berisi testpack nya. "Dia sudah menghancurkan hati berkali-kali dan aku tidak menyadarinya, aku terus menyalahkan diri sendiri."
Rinjani memukul lagi dadanya. "Sakit Ze, disini sakit."
Malam itu Rinjani hanya menangis sampai ia tertidur. Zeo membaringkannya diatas ranjang dan menyelimuti tubuh Rinjani hingga sebatas dada. Wajah itu masih tetap terlihat sendu walau sedang tertidur.
Zeo berjalan lagi, mengambil box berisi puluhan testpack didalamnya. Ia membuang nafasnya. Terbayang lagi wajah Rinjani yang menangis dan berulang kali memukul dadanya. Membuat mata zeo berembun.
"Jika memang tak ada cinta, mau sehancur apapun hatinya tetap akan sampai untuk menyakiti."
###
Pagi itu Zeo menemui pak Budi,
"Apa yang terjadi semalam?"
Pak Budi menghela nafasnya.
"Rinjani hamil, saat Damar vasektomi."
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku juga tak tau dengan siapa dia....."
"Maksud papa, Rinjani benar-benar berhubungan dengan pria lain? Begitu?" Zeo menekannya ucapannya dengan pandangan menyangkal.
"Masalahnya, Damar vasektomi. Zeo..."
"Dan papa percaya?"
Pak Budi terdiam, menatap wajah anaknya yang satu ini, membuatnya mengingat Rihana. Wanita yang sudah ia sakiti dengan tidak adil. Dan kini, mungkin ia telah melakukan lagi pada Rinjani.
"Anggaplah apa yang di katakan Damar benar. Dia vasetomi, lalu apa itu menutup kemungkinan adanya kebocoran?"
"Zeo...."
"Rinjani nggak mungkin melakukan itu dengan pria manapun pa." Zeo kini malah tak percaya, orang yang sangat menyayangi Rinjani seperti ayahnya justru kini ikut meragukan janin di dalam perut Rinjani.
'Walau ia pernah melakukannya tanpa sadar dengan ku dulu. Tapi itu sudah berlalu, dan aku yang menjebaknya. Itu sudah berlalu beberapa bulan yang lalu.' batin Zeo merasa bersalah. Sangat merasa bersalah.'Tidak mungkin juga itu milikku.'
"Tetap saja...." suara pak Budi,
Rinjani berdiri didepan pintu ruang kerja pak Budi, terdiam dengan tangan yang menyentuh handel pintu. Perlahan tangan itu bergerak turun dengan lemas, wajah Rinjani menjadi semakin sedih. Setelah mendengar percakapan antara Zeo dan pak Budi dari balik pintu itu.
Rinjani berjalan dengan gontai. Menyusuri komplek perumahan pandangan matanya kosong, tanpa menyadari sebuah mobil merah mengikutinya cukup lama. Hingga pemiliknya sangat tak sabar dan berhenti tepat di samping Rinjani. Akan tetapi, wanita itu masih berjalan dengan lamunan dan tatapan yang kosong. Hingga memaksa Zeo keluar dari dalam mobil dan memotong langkah Rinjani.
Rinjani mendongak menatap sosok yang menghalangi jalannya.
"Ini jam kerja, kenapa malah jalan-jalan disini?"
"Zeo....."
"Boz!"
Zeo bernafas berat. Lalu menarik lengan Rinjani memasuki mobil. Zeo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyetir, namun sesekali ekor matanya melirik wanita berwajah sendu disampingnya.
"Apa kau mau membolos?"
"Bolehkah?"
"Tidak."
"Kita masih ada meeting dengan beberapa vendor dan klien. Aku tau kamu sedang dalam masa sulit. Tapi, bisakah kau bersikap profesional dalam bekerja?"
"Baiklah. Sepertinya aku akan mengundurkan diri hari ini."
"RINJANI!"
"Aku harus bagaimana bos? Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku tak bisa berfikir, aku tak bisa bekerja, aku tak bisa melakukan apapun saat ini. Aku ingin mencari mas Damar, tapi aku tidak tau dimana dia. Aku ingin menjelaskan padanya, ini sungguh anaknya, ini benihnya, ini miliknya. Kenapa dia tidak mau mengakuinya, Ze?" Rinjani menangis tersedu-sedu memegangi kepalanya dengan kedua tangan dengan frustasi.
Zeo hanya terdiam dan tak mengatakan apapun. Ia tau sehancur apa perasaan Rinjani. Sesakit apa hatinya kini. Zeo mengusap wajahnya kasar.
"Aku akan membantumu mencarinya."
"Benarkah?" seketika Rinjani menoleh menatap wajah Zeo dengan pengharapan.
"Tentu Saja. Aku berjanji. Tapi ada syaratnya."
__ADS_1
"Katakan!"
"Dalam lima hari ini, bekerjalah sesuai schedule mu. Dan lakukan pekerjaanmu dengan baik. Fokuslah! Aku akan mengurus cuti mu untuk beberapa hari kedepan. Selanjutnya, kita temukan dimana suamimu. Bagaimana?"tawar Zeo masih fokus didepan.
Rinjani menatap Zeo dengan mata berair, namun ia tak meragukan Zeo sedikitpun.
"Baiklah."
"Bagus! Dimulai dari meeting dengan vendor jam 10. Lalu lanjutkan schedule-mu."
Sesuai kesepakatan, Rinjani benar-benar berusaha keras bekerja dan melupakan sesaat masalahnya, ia juga melupakan tentang kehamilannya. Selama tiga hari itu Rinjani memforsir tenaga dan tubuhnya. Hingga ia jatuh pingsan di dalam sebuah lift saat mengantar beberapa klien meninjau perkembangan product yang mereka buat.
"Apa? Rinjani pingsan di lift?"
Mata Zeo melebar saat ia melintas bersama beberapa orang yang tanpa sengaja mendengar salah satu scurity berbicara melalui HT nya.
"Dimana?"
Scurity itu tersentak kaget tiba-tiba Zeo menarik lengan nya dan bertanya.
"sorry?"
"Dimana Rinjani?"
"Di lift nomor 3 lantai 6."
Tanpa kata lagi, Zeo langsung berlari ketempat yang dimaksud. Dan tak memperhatikan pandangan dan panggilan orang-orang yang bersamanya tadi.
Sesampainya di lift yang dikerubungi beberapa orang, Zeo menyibak kerumunan itu. Seorang wanita memangku kepala Rinjani dan memberinya minyak angin. Wanita itu mendongak menatap Zeo yang mendekat.
"Hei! Apa tandunya masih belum datang?" Tanya salah satu orang yang berdiri didepan kerumunan.
"Belum. Tapi aku sudah menghubungi pihak terkait."
"Terus gimana? Apa mau dibiarin gini aja?"
Beberapa dari mereka heran melihat bos Zeo ada disana. Dan mereka dibuat semakin terperangah melihat Zeo langsung menerobos dan mengangkat tubuh Rinjani. Membawanya tanpa kata.
"Pak Zeo...."
"Biar aku yang mengurusnya. Tolong, lanjutkan apa yang sudah dia kerjakan." Ucap Zeo sambil melangkah lebar menjauh dari kerumunan yang terdengar berbisik-bisik dengan opini masing-masing.
______
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️