
Di dalam ruangan rapat berkapasitas sedang, Damar duduk diam dengan Zeo yang berada di seberangnya. Damarr menatap tajam pada pria bule itu.
"Mau apa kau menemuiku? Kurasa kita tak punya urusan?"
Zeo tersenyum tipis, ia mengeluarkan sebuah lembaran putih dari amplop map coklat. Lalu menyodorkan nya kearah Damar. Damar menarik kertas yang Zeo sodorkan di meja. Ia membacanya, lalu menatap tajam pada Zeo.
"Apa ini?"
"Bukankah kau seorang direktur utama? Kenapa masih menanyakan, jika kau membacanya dengan cermat, kau pasti tau." Ledek Zeo dengan senyum mengejek.
"Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Sinis Damar masih menatap tajam adik nya.
"Ini memang sedikit pribadi. Dan aku ingin kamu menandatangani kertas itu."
Damar tergelak.
"Ha-ha-ha.... Itu bukan milikku O."
"Jika kau yakin bukan, berarti tidak masalah kau menandatangani nya bukan?"
"Ya memang... Tapi kau menawarkan posisi direktur di Rubian grup. Luar biasa. Apa jangan-jangan ini anak mu?" Ejek Damar dengan senyum penuh cemooh an sembari menandatangani berkas yang Zeo berikan.
"Seandainya memang begitu, aku tidak akan melangkah sejauh ini."
"Ha-ha-ha...." Damar tertawa penuh ejekan. Ia mengambil lembaran bagian miliknya. Ia sudah cukup senang dengan Zeo yang mundur dari jabatan Direktur sayap kanan. Yang artinya kini Damar yang akan mengendalikan semuanya. Ia akan lebih leluasa dalam mengatur Rubian grup.
"Aku tidak menyangka kau sangat menyukai bekas istriku....." Ejek Damar lagi."Yah walau sekarang dia masih istriku, kau tenang saja, aku tetap akan menceraikannya. Ambilah Rinjani. Permainannya sangat mengagumkan. aku akan sangat merindukannya nanti." Sambung Damar seraya berdiri dan melangkah menjauh.
Zeo menatap nyalang pada punggung Damar dengan tangan yang terkepal kuat, ingin rasanya menonjok Damar, namun ia tetap menahan emosinya.
"Tentu saja. Jangan menyesal nantinya. Karena aku akan mempertaruhkan segala, agar kau tak bisa mengambilnya kembali."
"Ha-ha-ha...." Tawa Damar semakin lebar mendengar penuturan Zeo. Ia melangkah meninggalkan ruangan itu.
Zeo melihat lagi kertas perjanjian yang baru saja Damar tandatangani itu.
"Aku melepaskan dendamku selama bertahun-tahun demi seorang wanita. Apa itu sebanding?" Gumamnya.
_______
Waktu berlalu dengan cepat, sudah hampir dua bulan lamanya, Rinjani tak menghubungi Zeo setelah kepergiaannya. Zeo yang sangat berharap menjadi orang pertama yang Rinjani hubungi pun terpaksa melakukan perjalanan ke Surabaya. Kota yang akhirnya Rinjani pilih sebagai tempatnya menenangkan diri.
Zeo menghubungi Jiechi, asistennya yang dia tugaskan menjaga Rinjani diam-diam.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya."
("Baik-baik saja tuan.") Suara Jiechi yang menerima panggilan telpon dari Zeo. Ia mengintip dari balik kaca mobil yang terparkir di depan restoran milik Rinjani.
"Malam ini aku terbang kesana."
("Baiklah. Akan saya siapkan semuanya.") Ucap Jiechi patuh.
("Apa anda juga akan tinggal didepan rumah Nona Rinjani?") Tanya Jiechi memastikan terlebih dahulu.
"Iya."
_______
Pagi yang cerah, Rinjani menghirup udara kota Surabaya. Ia tinggal disebuah perumahan yang mana warganya sangat individual dan tidak terlalu perduli dengan sekitar. Hanya penghuni depan rumahnya, yang seorang pria muda yang ramah padanya. Pria muda itu bernama Jiechi. Iya, dialah asisten Zeo yang memang ditugaskan untuk menjaga Rinjani.
Dan seorang wanita berusia sekitar 35 tahunan yang tinggal di sebelah rumahnya, yang masih sering menyapa Rinjani.
Pagi itu, Rinjani berjalan-jalan disekitar rumahnya bersama seorang asisten rumahnya. Bu Rosmala. Wanita berusia sekitar 50tahunan itu lah yang sering menemani Rinjani selama di kota Surabaya. Rinjani juga sudah menganggap Bu Ros sebagai ibunya. Karena sifat Bu Ros yang ramah dan keibuan. Sangat mengerti dengan Rinjani yang serang hamil muda tanpa suami disisinya.
Bu Ros yang membawa sekantong belanjaan yang tadi mereka beli di warung kompleks.
"Wah, sepertinya, Mas Jiechi kedatangan teman."
Rinjani yang yang sempat melamun menoleh pada Bu Ros. Wanita yang menunjuk kearah depan rumah Jiechi. Di jalan depan rumah pria itu berdiri Jiechi dan seorang pria dengan jaket jamper abu-abu dan celana pendek se lutut, sedang melakukan perenggangan. Pria itu berdiri membelakangi arah jalan dimana Rinjani dan Bu Ros berjalan. Sehabis kembali dari warung.
Rinjani yang terkejut melihat wajah Zeo membulatkan mulutnya.
"Zeo....."
Rinjani terlalu senang melihat Zeo ada dihadapannya kini. Hingga ia berlari dan melompat ke tubuh Zeo. Zeo menangkapnya, mengangkat tubuh Rinjani dengan senyum yang lebar. Berputar tanpa melepas pandangannya dari wajah cantik Rinjani. Ia tak menyangka akan mendapat sambutan dari Rinjani yang seriang ini.
"Kyaaaa..... Zeo! Turun aku, aku pusing...."
Zeo menurunkan Rinjani, ia masih sangat senang karena bertemu wanita yang sangat dirinduinya. Tangannya berpindah membingkai wajah Rinjani dan mencium bibirnya dengan antusias.
"Ummmpp.. lepaskan. Apa yang kau lakukan?" Protes Rinjani memukul lengan Zeo.
"Aku senang, terlalu senang. Apa kau tidak suka?" Zeo tersenyum dengan sangat lebar."kalau kamu tidak suka, aku ambil kembali."
Pria itu menyesap lagi bibir Rinjani dengan cepat lalu melepaskan. Rinjani memukul pelan pipi Zeo.
"Nakal, ini di komplek bisa di tegur sama warga sini."
__ADS_1
Zeo tertawa lebar."Sorry!"
"Bagaimana kamu bisa tau aku ada disini?"
"Aku punya Indra ke enam."
Rinjani memicingkan sebelah matanya sangsi. Ia melirik Jiechi yang berdiri dibelakang Zeo. Pria itu menunduk padanya.
"Selamat pagi." Sapanya dengan ramah.
"Temanmu?" Rinjani menunjuk Zeo dengan jarinya. Jiechi hanya tersenyum tipis tanpa sepatah katapun. Rinjani lalu memandang Zeo dengan mata tanya.
"Kami memang berteman." Zeo merangkul pundak Jiechi."Dan aku akan tinggal dirumahnya jika kamu tak mengijinkan ku tinggal dirumahmu."
Rinjani tertawa kecil, Zeo pun begitu.
_________
"Katakan padaku, kenapa tidak menghubungiku sama sekali?" Tanya Zeo saat mereka sudah berada di dapur rumah Rinjani.
Rinjani yang sedang memotong sosis untuk masak sup pagi tu menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia lalu menoleh pada bu Ros, ART nya yang kini sedang menggoreng tempe.
"Saya sapu-sapu dulu di depan ya mbak Rinjani." Pamit bu Ros setelah mengangkat tempe dan mematikan kompor. Masih ada beberapa potong lagi tempe yang belum sempat di goreng. Namun, bu Ros ingin memberi privasi bagi majikannya itu.
"Iya buk " balas Rinjani pelan. Ia lalu melanjutkan memotong sosis.
Zeo mengambil tempe goreng dari piring yang baru dua kali angkat itu. Lalu mengunyahnya pelan. Ia menarik kursi disebelah Rinjani, menjatuhkan bobotnya disana. Ia menatap lekat pada wanita yang sudah dua bulan ini tak ditemuinya.
"Kenapa tak menghubungiku? Apa yang kamu lakukan selama dua bulan ini?"
_______
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️ ...