Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 59 • IPAR LAKNUT -


__ADS_3

Rinjani menggigit bibirnya, perasaan gelisah menggelayuti hati dan pikirannya. Selama beberapa bulan pernikahannya dengan Zeo, Rinjani masih belum merasakan tanda-tanda kehamilan. Ia takut jika pria itu nanti nya akan seperti Damar. Berpaling pada wanita lain, karena ia tak kunjung hamil.


Rinjani memandang testpack dalam genggaman. Dan itu masih negatif. Ia merasa sangat tertekan, apakah dia sudah tidak subur lagi? Sudah sesering itu melakukannya dengan Zeo, tapi masih belum berhasil mendapatkan seorang anak, ia takut, sangat takut akan dihianati lagi.


Saat ia sibuk melamun, tangan kekar Zeo menelusup diperutnya. Lalu ia rasakan bibir Zeo yang menelusuri tengkuk dan bahunya.


"Ze....."


"Heeemmm...."


"Aku negatif....."


"Heeemmm?" Zeo mengangkat kepalanya memandang wajah istrinya yang masih terdiam seolah ragu mengatakan. Zeo masih menunggu, Hingga sedetik dua detik berlalu,


"Apa yang negatif?"


Rinjani mengangkat tespack ditangannya. Zeo hanya meliriknya sekilas.


"Kenapa memangnya?"


"Kok responmu begitu sih?"


"Emangnya aku harus bereaksi seperti apa sayang?"


"Kamu nggak pingin punya anak?"


"Kita kan udah punya Sam."


Rinjani melepas tangan Zeo yang melingkar di perutnya. Ia menatap Zeo dengan curiga.


"Kamu nggak vasektomi kan?" Tanyanya sembari berbalik tanpa melepaskan pandangan penuh curiga.


Zeo menatap wajah istrinya yang di liputi kegelisahan dan curiga itu. Ia justru tertawa geli. Lalu melingkarkan lagi tangannya di pinggang Rinjani. Menariknya lebih dekat.


"Ngapain aku vasektomi?" Tanyanya dengan pandangan mata yang bertumpu di wajah cantik Rinjani.


"Aku nanya kamu, kenapa kamu malah nanya balik?" Rinjani memukul dada bidang suaminya itu memprotes.


Zeo tertawa lagi. Lalu ia diam sesaat dan membuka mulutnya,


"Aku mencintaimu, tidak seperti Damar. Aku juga tidak vasektomi. Untuk apa coba? Aku juga ingin memiliki keturunan, ingin memberi Sam adik. Tapi, aku nggak mau kamu tertekan dan sedih. Karena itu, aku tak pernah mengungkitnya. Masalah anak itu adalah rejeki. Jika Tuhan belum memberi, kita masih punya Sam. Biar dia merasakan limpahan kasih sayang kita sampai dia muak dan eneg. Heemmm?"


Mata Rinjani berembun haru, ia tak tau Zeo akan sejauh itu memikirkan perasaannya. Rinjani berjinjit dan menempelkan bibirnya pada benda kenyal milik Zeo, menghisapnya pelan.

__ADS_1


Tangan Zeo yang melingkar di tubuh Rinjani bergerak mengeratkan pelukannya. Membalas sesapan dari istrinya. Mempertemukan lidah keduanya, dan bertukar ludah.


"Mmmmm.. jangan dulu sayang, aku masih rindu bibirmu." Gumam Zeo melummat lagi bibir Rinjani yang mulai merenggang. Rinjani menautkan kembali bibir mereka. Memeluk tubuh Zeo lebih erat. Begitu pun Zeo yang terus tak tenang bergerayang di punggung Rinjani.


Rinjani melepas pangutannya, sedikit menundukkan kepalanya. Zeo tersenyum kecil.


"Baiklah, ayo kita buat adiknya Sam." Ujarnya sembari mengangkat tubuh Rinjani ala bridal.


"Aaaaa....... " Pekik Rinjani dengan diselingi tawa bahagia.


"Daddy! Bunda?" Suara Sam mengagetkan keduanya yang sedang terbawa perasaan.


Sam sedang berdiri dengan mainan robot dan remotnya. Menatap kedua orang tuanya yang baru saja berbalik itu dan bergelayut an.


"Daddy sama bunda sedang main apa?"


"Tidak sayang, Daddy sedang berdiri."


"Berdiri?"


Rinjani menepuk dada Suaminya. "Turunkan aku, memangnya apa yang berdiri? Kakimu atau tongkatmu?" Bisik Rinjani dengan mata sedikit melebar protes.


"Dua-duanya. Sam tidak akan mengerti." Balas Zeo berbisik.


"Sam kenapa dengan Robot nya?"


"Tidak bisa bergerak, Dad..."


Kedua pria Rinjani itu berlalu entah kemana dengan suara percakapan mereka yang semakin jauh terdengar.


.


.


Nadia berjalan ke memasuki terminal B. Ia harus bergegas untuk melakukan penerbangan pagi ini. Walau hatinya serasa sakit, tetap ia lakukan demi Nathan, agar anaknya itu bisa hidup lebih baik bersama ayah kandungnya.


"Mama!"


Nadia terhenti, ia menoleh kebelakang, melihat Nathan yang di tahan oleh petugas bandara.


"Mama.... Kenapa mama tinggalin Nathan? Kenapa mama pergi tanpa pamit?" Seru Nathan dengan tangisan yang meraung, mengetahui mamanya justru memilih meninggalkannya.


"Nathan, mama hanya pergi sebentar nak, jangan nakal sama Om baik ya, nurut. Mama harus pergi."

__ADS_1


"Mama... Nathan ikut ma, jangan tinggalin Nathan." Rengek Nathan mencoba melepaskan diri dari petugas yang menahannya.


"Nggak bisa Nat, kamu tetap di sini. Kamu harus bahagia."


"Nggak mau, papa dah ninggalin Nathan, sekarang, mama juga ninggalin Nathan. Apa salah Nathan ma? Maafkan Nathan. Nathan nggak akan nakal lagi. Maafkan Nathan."


Nadia menyusut airmatanya. Ia sudah tak tahan lagi, bergegas ia berjalan masuk dan cek in. Sangat berat meninggalkan Nathan, untuk bersama Nathan pun ia tak memiliki cukup materi yang bisa menjamin kebahagiaan anaknya juga dirinya, dengan ia pergi semua kehidupan terjamin, walau imbalannya ia harus berpisah dengan sang buah hati. Hingga Nadia dengan terpaksa menyetujui persyaratan Haris.


"Mama...."


"Mama... Jangan tinggalkan Nathan ma!"


"Mama! Kembali! Biarkan Nathan ikut ma!"


"Mama!"


Suara tangis Nathan dalam kepiluan membuat bahu Nadia makin berguncang hebat, tangisannya makin kencang setelah ia berjalan semakin jauh.


Demi agar hidup nya dan hidup Nathan terjamin, ia harus rela pergi jauh keluar negri. Dan tidak pernah menemui Nathan lagi. Itulah, perjanjiannya dengan Haris.


"Aku harus melupakan semua yang ada di sini. Dan memulai hidup baru...."


Sementara Nathan yang sangat kecewa mamanya juga meninggalkan dirinya terduduk di lantai terminal keberangkatan. Ia merasa sangat lemas. Merasa di buang oleh orang tuanya, hatinya sangat sedih. Haris berjalan mendekat lalu mengusap kepala Nathan dengan sayang.


"Jangan menangis, kamu masih punya om. Om akan menjagamu, merawatmu selagi mama mu pergi."


______


Bersambung...


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2