
Malam itu, Rinjani memutuskan untuk menginap sementara di hotel. Dan keesokan paginya, ia mengendarai mobil nya kerumah Damar.
Saat itu, Damar sudah berangkat kerja, hanya ada Nadia yang akan berangkat mengantar Nathan untuk bersekolah. Rinjani masih menunggu di dalam mobil dan membuntuti Nadia sampai hanya tinggal Nadia seorang di depan TK.
"Nad."
Nadia yang hendak membuka pintu mobil berwarna coklat itu, menoleh. Ia terkejut melihat Rinjani kini ada dihadapannya.
'Apa yang dia inginkan? Apa dia sedang melabrakku? Atau...'
Didalam sebuah kafe tak jauh dari TK, Nadia dan Rinjani duduk berseberangan dengan berbatas meja persegi. Dua jenis minuman terhidang di meja.
"Jika kau mau tau hubungan ku dengan mas Damar. Kami adalah sepasang kekasih sejak kami masih SMA. Lalu kami menikah tujuh tahun yang lalu, dan Nathan adalah anak kami.
Yang artinya, kamu pelakor dalam rumah tanggaku. Kamu datang setelah Nathan lahir. Jahitan ku belum kering dan mas Damar meminta ijin padaku untuk menikahimu. Kau pikir bagaimana perasaanku waktu itu?" Tutur Nadia dengan suara bergetar dan penuh luapan emosi.
Rinjani bergeming, tak mengucapkan sepatah katapun. Tapi air matanya juga menetes.
"Karena cinta kami tak direstui, kami menikah diam-diam secara siri. Selama lima tahun, aku terus tersiksa membayangkan suamiku berbagi peluh dengan wanita lain.
Aku terus merasa khawatir jika nantinya mas Damar memiliki anak darimu, lebih menyayangi anakmu. Karena itulah mas Damar vasektomi sebelum menikah denganmu. Agar kalian tak memilik anak. Mas Damar sangat menyayangi Nathan. Kami adalah keluarga bahagia jika tak ada kamu." Lanjut Nadia masih dengan emosi yang menggebu, namun tampak matanya yang sedikit berair.
"Sekarang katakan apa maumu?"
Rinjani mengusap pipinya yang basah, menghapus butiran bening yang baru saja menyusul jatuh dari pelupuk matanya.
###
Damar membuka pintu ruangannya setelah selesai meeting dengan dewan direksi. Ia cukup kesal karena Zeo beberapa kali menyerang dan mempertanyakan masalah Dana proyek yang sudah dia keluarkan dan setujui. Hingga papa Budi meminta peninjauan ulang pada proyek yang di tangani oleh perusahaan Neo, yang masih berada di bawah naungan RUBIAN grup.
Dalam hal ini, Damar memang di percaya mengendalikan tiga cabang perusahan milik Rubian grup. Dan tiga lain nya di bawah kuasa Zeo, anak yang lain nya pak Budi, sengaja membagi sama rata.
"Sialan! Berani-beraninya dia menyerang ku di rapat dewan direksi. Sengaja dia mau menjatuhkan ku? Awas saja. Akan kubalas kau Zeo." Gumam Damar meruntuk kesal sambil membuka pintu ruangannya.
Damar tertegun, ia Manatap Rinjani yang kini berdiri di depan sofa tamu ruangannya dengan secangkir expreso di atas meja. Damar mengalihkan pandangannya. Rasanya semakin muak saja dengan istri sahnya ini. Sejak tau Rinjani hamil.
"Mau apa kemari?" Tukasnya berjalan melewati Rinjani dan duduk di kursi kebesarannya. Dengan kasar Damar menghenyakkan tubuhnya di kursi itu.
"Tak ada yang masih bisa kita bicarakan. Sudah cukup jelas janin itu bukan milikku."
Rinjani menunduk, ia menahan airmatanya agar tak jatuh lagi. Lalu menatap suaminya yang acuh duduk diatas kursi dengan bersandar dan memijit pelipisnya.
"Tadi, aku menemui Nadia."
"Apa?" Damar bangkit dan menatap Rinjani dengan mata melebar karena marah.
"Apa-apaan sih kamu? Ngapain kamu nemuin Nadia? Kamu nggak ngapa-ngapain Nadia kan?" Berondong Damar berjalan mendekat pada Rinjani dengan emosi yang mulai meluap.
Ia sudah cukup kesal dengan Zeo yang terus menyerang nya tanpa dia bisa melawan di rapat barusan. Ini masih ditambah Rinjani malah menemui Nadia, Damar sangat khawatir jika Nadia di apa-apain sama Rinjani.
"Kamu nggak macam-macam sama Nadia kan?" Sentak Damar mencengkram lengan Rinjani.
Rinjani meringis kesakitan merasakan cengkraman Damar yang begitu kuat di lengannya.
__ADS_1
"Mas...."
"Kamu apain Nadia ha?" Sentak Damar dengan mata mendelik.
"Mas Sakit mas...."
Damar tak bergeming,
"Sakit mas Damar..."
Damar melepaskan cengkramannya dengan sedikit mendorong lengan Rinjani.
"Awas aja kalau kamu nyakitin Nadia."
Bulir bening meluncur bebas di pipi Rinjani, 'sebegitu khawatir nya Mas Damar pada Nadia, sampai meperlakukan aku seperti ini.' batin Rinjani.
"Mas, aku datang kemari karena aku ingin menyakinkan mas, jika ini anak mas."
Damar tertawa mencemooh.
"Jangan meracau Rinjani. Aku sudah vasektomi sejak sebelum menikah dengan mu. Tak mungkin itu anakku. Jangan memaksakan diri." Tukas Damar dengan Nyalang menatap wajah Rinjani.
"Aku tak perduli dengan siapa kamu berhubungan. Aku sudah menalakmu. Jangan temui aku apapun alasannya. Tunggu saja panggilan dari pengadilan agama nanti. Setelah anak itu lahir."
"Mas sungguh tidak mau mengakuinya?" Tanya Rinjani dengan lelehan di pipi.
"Tidak. Itu bukan anakku. Jangan menipuku lagi." Damar berbalik membelakangi Rinjani.
"Karena itu bukan anakku Rinjani."
"Lalu kenapa kamu menerima Nathan mas? Apa karena dia lahir dari rahim Nadia?"
Damar menoleh menatap Rinjani dengan pandangan jijik dan mencemooh.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Nathan jelas anakku. Aku belum vasektomi saat aku berhubungan dengan Nadia. Berbeda denganmu. Aku vasektomi selama hampir lima tahun. Lima tahun Rinjani, tak mungkin itu adalah anakku. Sudah pasti kamu berhubungan dengan pria lain!"
"Jadi mas Damar sungguh menolaknya? Tidak mau mengakui anak ini?"
"Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas jawabannya."
"Katakan mas."
"Aku tidak mengakuinya. Itu bukan anakku!"
Bulir bening mengalir di pipinya, dengan segera, Rinjani menyeka dengan tangannya.
"Baiklah. Jika mas Damar tak mau mengakuinya." Ucap Rinjani pelan."Kelak jangan mencari kami. Jangan datang menemui anak ini." Lanjut Rinjani sembari menyentuh perutnya yang bahkan belum membuncit.
Damar tertawa mengejek.
"Jika hanya itu tujuanmu kemari. Cepatlah pergi. Aku sangat sibuk."
"Berjanjilah! Kau tidak akan menemuinya."
__ADS_1
Damar menyentak nafasnya kesal."Aku tidak akan menemuinya. Tidak akan pernah."
Rinjani tersenyum tipis, "Aku tidak akan membiarkanmu menemui lagi, meskipun kau memohon dan bersujud kepadaku."
Tanpa ragu lagi, Rinjani berjalan keluar dari ruangan Damar. Ia tertegun melihat Zeo ada didepan pintu. Dengan pandangan mata yang sangat sedih melihat Rinjani.
'Apa yang dia lakukan disini? Apa dia mendengar percakapan kami?'
###
Rinjani mengaduk-aduk jus Mangga yang ia pesan. Di depannya Zeo menatap sayu Rinjani lalu ia mengangkat tangannya mengambil cangkir kopi dan menyeruput nya.
"Apa kamu dengar apa yang kami bicarakan?" Rinjani memberanikan diri untuk bersuara.
"Hmmmm... Pintu itu tidak tertutup dengan benar."jelas Zeo sembari meletakkan cangkir kopinya di meja."Aku hanya kebetulan melintas. Kenapa kamu masih disini Rinjani? Katanya mau ke Pacitan?"
Rinjani mengulas senyum dengan terpaksa di wajah nya yang masih terasa sembab.
"Aku ingin lebih meyakinkan diri, sebelum aku meninggalkan tempat ini. Bahwa..." Rinjani menjeda ucapannya, melempar pandangan keluar jendela kaca kafe itu.
"Mas Damar tidak pantas aku tunggu dan tangisi."sambungnya dengan mata berkaca.
"Juga, melarangnya untuk bertemu dengan anak ini nantinya, karena dia sudah menolaknya, bahkan sebelum anak ini lahir." Rinjani menyentuh perutnya yang masih rata.
"Kapan kamu akan berangkat ke Pacitan?"
"Mungkin besok."
"Baiklah, aku tak bisa mengantarmu kesana. Sedang ada masalah di kantor. Jika nanti sudah sampai disana kabari aku. Aku akan menyusul."
"Tidak usah."
"Kenapa? Kamu juga mau menjauhiku?"
"Bukan begitu Ze, aku hanya ingin menyendiri sementara waktu. Menata hati dan pikiranku. Bila aku sudah tenang, aku akan menghubungimu."
______
Bersambung....
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️ ...
__ADS_1