Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 11 • IPAR LAKNUT - Tidurlah Dengan Ku •


__ADS_3

Damar menutup telponnya, ia menghirup udara mengganti oksigen di paru-parunya. Damar menatap halaman belakang rumahnya, taman minimalis dengan kolam yang dialiri air yang mengucur dari bebatuan buatan. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dari pintu belakang. Ia mendapati Nadia berdiri menunggunya, Damar sadar, Nadia pasti juga mendengar apa yang dia ucapkan di telpon tadi dengan Rinjani.


"Nad, itu, Rinjani."


"Apa katanya mas?"


"Dia mau mas pulang."


Nadia membuang mukanya kesamping. Matanya melihat keatas seolah tengah menahan agar tak menangis.


"Itu nggak mungkin Nad, aku nggak akan pulang selama orang itu masih disana."


Damar berjalan mendekat, mengangkat tangannya memeluk Nadia. "Aku nggak akan kemana-mana. Sayang."


"Mas, aku ini istri pertama mu, tapi kenapa rasanya aku seperti selingkuhanmu saja."Isak Nadia dalam pelukan suaminya.


"Nadia....." Suara Damar bergetar mengucapkannya.


"Aku tau ini memang sudah jadi pilihan kita sejak awal. Tapi, makin kesini, aku makin serakah, aku juga ingin jadi istri sah mu, mas."


"Kamu masih jadi satu-satunya dihati ku Nad, masih menjadi prioritas ku."


"Tapi Rinjani yang jadi istri sahmu. Anak Rinjani yang nantinya akan mewarisi semua yang kamu miliki, sedangkan Nathan? Apa yang dia dapat? Karena setatus orang tuanya yang hanya nikah siri, Nathan kehilangan haknya."


Damar melepas pelukannya, meletakkan tangannya di kedua lengan Nadia,


"Nad, Rinjani nggak akan hamil. Nggak akan hamil anakku. Aku udah vasektomi. Hanya Nathan anakku seorang. Kamu paham? Hanya Nathan anakku seorang."


Damar menatap mata Nadia dengan sungguh-sungguh dan marah. Marah karena Nadia harus mengungkit masalah setatus Nathan. Sudah jadi tekat Damar, jika semua apa yang dia miliki akan Damar limpahkan pada Nathan, buah cintanya dengan Nadia. Damar bahkan rela vasetomi demi ini juga. Tapi Nadia seolah masih tak percaya dan terus menuntut lebih. Damar tak tau lagi harus bagaimana? Hubungannya dengan Nadia tak direstui oleh orang tuanya. Sementara dia harus menikahi Rinjani dibawah ancaman ayahnya.


_____


Rinjani menatap langit-langit yang ditaburi ribuan bintang. Ia terus menghela nafasnya berulang kali. Mengusir sesak didadanya. Damar tak kembali kerumah, kembali pun ia juga tak bisa bercinta dengan suaminya, mungkin saja Damar akan beralasan capek lagi, mengingat sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor. Hingga kini Rinjani terus meringkuk dan merindukan belaian dari suaminya itu.


"Malam ini semakin dingin saja."


"I can keep you warm."


Rinjani menoleh kesamping, Zeo tersenyum tipis dengan botol hijau ditangannya. Zeo mengenggak minuman itu langsung dari mulut Botol.


"You want to feel it? Again?"


Rinjani menatap tajam pada adik iparnya itu. Matanya marah menyala, baginya Zeo adalah pria terkurang ajar yang berulang kali mencuri bibirnya. Walau tak dipungkiri, Rinjani yang telah lama tak tersentuh oleh kecupan dan sentuhan dari Damar cukup tergoda juga. Akan tetapi, Rinjani tetap mencoba kewarasannya untuk tak membalas dan menikmati pemainan Zeo. Cukup malam itu saja dia terbuai.


Rinjani yang geram berbalik masuk ke dalam kamar. Dadanya naik turun menahan amarahnya.


"Dia... Mungkinkah aku harus mencoba membujuknya agar pergi?" Gumam Rinjani pelan. Ia terdiam dalam keheningan, mencoba berfikir waras lalu membulatkan tekatnya. "Baiklah, coba saja bujuk dia."


Rinjani berdiri didepan pintu kamar Zeo. Tangannya terangkat walau ragu, ia ketuk juga. Tak ada jawaban. Rinjani mengetuk pintu itu sekali lagi. Setelah menunggu sesaat, masih tak ada respon. Rinjani ingat Zeo sedang minum di balkon. Itu artinya dia sengaja tidak membukakan pintu untuknya. Dengan memberanikan diri Rinjani menyentuh Gangga pintu, mendorongnya perlahan. Rinjani memasuki kamar iparnya, kamar itu kosong, namun terlihat tirai putih tipis yang melambai-lambai tertiup angin dari balkon.


Rinjani menelan ludahnya, membulatkan lagi tekadnya untuk mendekat. Diambang pintu balkon, Rinjani melihat Zeo yang berdiri bersandar pada pinggiran balkon setinggi pinggangnya. Kepalanya melihat kesamping kamar, mata pria itu menatap lurus pada kamar yang Rinjani tempati, dengan pandangan sendu.

__ADS_1


Zeo meluruskan kepalanya memandang Rinjani yang kini ada dihadapannya, berdiri di ambang pintu.


"What's up?"


"Aku tau ini tidak sopan. Tapi, suami dan mertua ku tidak kembali kerumah sejak kamu tinggal disini."


Zeo menatap Rinjani dengan pandangan yang entah apa. Rinjani merasa bersalah dan canggung karena nya, ia seperti akan mengusir Zeo saja. Rinjani menghela nafas berat. Ia memberanikan diri membalas tatapan Zeo.


"Sebelumnya....."


"You want me out?"


Rinjani melebarkan matanya,


"Oke. I'm move out."


Rinjani tersenyum senang, tentu saja ia tak menyangka Zeo akan dengan mudahnya bersedia pergi tanpa ia harus bersusah-susah membujuknya. Sepertinya Rinjani harus merubah pandangan buruknya pada Zeo.


"In one condition."


"Apa.... Syaratnya?"


Zeo berjalan mendekat mengelus rambut Rinjani dan menggulung beberapa helai rambut dengan jarinya.


"Tidurlah dengan ku."


"Apa?" Mata Rinjani melebar sempurna.


Rinjani mundur selangkah, hingga rambut panjangnya yang masih tersangkut di jari Zeo tertarik.


"Tidurlah dengan ku. Setelah itu aku akan pergi dengan tanpa suara."


"Kau gila, aku ini kakakmu."


"Kakak ipar. Ingat?"


"Kau bermaksud meniduri istri kakakmu?"


"Kita pernah melakukannya sekali. Kau ingat?"


Rinjani tak bisa berkata lagi, karena itu memang benar, dan saat itu ia dalam pengaruh alkohol juga setelah berbagi cerita dengan bosnya itu. Mereka tenggelam dalam hubungan laknut yang ingin Rinjani lupakan dan kubur dalam-dalam.


Zeo menarik rambut dan pinggang Rinjani mendekat ke tubuhya. Tangan Zeo yang menggulung rambut wanita itu berpindah ke belakang kepala. Zeo menatap mata Rinjani lalu berpindah menatap bibir iparnya.


"Kau ini, lepaskan aku." Rinjani menekan lengan Zeo agar terlepas dari pelukan pria bule itu. Zeo tersenyum nakal semakin mengeratkan pelukannya.


"Memberontak lah."


"Aku akan teriak."


"Cobalah. Entah apa yang akan papa pikirkan melihat kita seperti ini."

__ADS_1


"Kaaauuu...." Rinjani masih berusaha melepaskan dirinya. "Lepas!"


"Pagi ini aku belum menciummu, setelah kudapatkan bibir ini, aku lepaskan."


Mendengar itu cepat-cepat Rinjani menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Zeo menyeringai dan mengeratkan pelukannya. Menghirup leher samping Rinjani. Dengan cepat Rinjani menyikutnya masih dengan tangan yang menutup mulutnya. Jangan sampai ia kecolongan. Rinjani menempatkan kakinya diantara kaki Zeo dan cepat-cepat mengangkatnya dengan sekuat tenaga hingga terpentok ujung paha Zeo.


Pupil mata Zeo melebar, melepas pelukannya dan mundur dengan sempoyongan. Tangannya langsung bergerak menyentuh telurnya yang Kena dengkul Rinjani. Keringat tampak keluar dari wajahnya yang menahan sakit.


Tanpa menunggu lagi, Rinjani berbalik dan meninggalkan kamar Zeo dengan setengah berlari. Walau ia tau, Zeo tak akan sanggup mengejar nya.


"Dasar bule sinting." Gumam Rinjani dengan muka merah padam berjalan dengan langkah lebar.


_______


Siang ini Rinjani menghela nafasnya lagi, pekerjaannya terus memaksanya bekerja ekstra tentu saja itu tak lepas dari tuntutan sang bos Zeo.


"Dia,pasti dendam sekali padaku sampai terus memberiku kerjaan tanpa jeda. Kekanak-kanakan!" Gerutu Rinjani dengan pipi yang menggembung kesal.


Rinjani melirik hp nya. Ia mengecek lagi pesan dan panggilan masuk. Tapi, orang yang dia harapkan tak juga menghubungi. Dadanya berdenyut nyeri setiap kali memikirkan sikap Damar yang akhir-akhir ini acuh dan tak perduli. Setiap hari, hanya Rinjani yang terus menghubungi lebih dulu, dan baru dapat balasan dari Damar setelah beberapa jam kemudian. Rinjani paham, pastilah suaminya itu sangat sibuk. Karena itu yang selalu jadi alasan bagi Damar setiap kali Rinjani pertanyakan.


"Mas, apa kamu nggak rindu?"


Rinjani yang selalu kesepian dan kedinginan setiap malamnya, ingin menuntut nafkah batin pada suaminya itu. Namun, keberadaan Damar sekarang pun Rinjani tak tau, Damar hanya bilang jika dia menginap dirumah temannya. Padahal Damar juga punya vila sendiri. Alasan Damar karena rumah temannya itu lebih dekat dengan kantor.


"Sudahlah, makan saja. Biar ada tenaga."


Dengan gontai Rinjani melangkah, tepat saat itu hp nya berdering. Gegas Rinjani menggeser tombol hijau karena itu panggilan dari Damar.


"Mas....."


("Rin dah lunch belum? Lunch bareng yuk. Mas udah di depan gerbang kantormu.")


Mata Rinjani berbinar terang mendengar ajakan suaminya.


Bersambung...


[ IIHH, OTHOR CAPEK AH TRANSLATE MULUK, ANGGAP AJA KALAU LAGI KOMUNIKASI SAMA ZEO PAKE BAHASA INGGRIS. MANA ANCUR JUGA BAHASA INGGRISNYA. 😭😭😭]


_____


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2