
Beberapa hari kemudian.
"Aaarrrgggg.... Bagaimana bisa papa begitu kejam padaku?"
"Bisa-bisanya papa memindah tugaskan aku ke kantor cabang kecil di Surabaya. Ini semua gara-gara baji**** itu."
"Aaarrrgggg.....!!"
Damar terus mengumpat di toilet. Tak lama suara hpnya berdering, setelah mengatur nafas dan emosinya, Damar merogoh saku celananya. Ia mengambil hp miliknya, tertera nama Mama Ratna disana.
"Mau apa mama telp?" Gumamnya. Lalu menempelkan hpnya di telinga setelah mengusapnya keatas.
("Damar! Apa benar kamu dimutasi ke Surabaya?" )Suara mama Ratna menginterupsi.
"Iya ma."
("Apa? Bagaimana bisa kami sampai di turunkan jabatan dari direktur sayap kiri ke cabang Rubian di Surabaya?")
"Mama tanyakan saja pada suami mama itu." Karena kesal, Damar pun memutus sambungan telponnya. Dia sudah cukup kesal, masih harus mendengar ocehan mamanya yang menginterupsi nya.
Dada Damar naik turun karena emosi. Sudah hampir mereda, tapi kini bertambah lagi. Damar mengusap kepalanya frustasi.
###
Damar berjalan ke ruangannya, yang sebentar lagi berubah jadi milik orang lain. Rasa geram dan marah masih ada didalam dirinya. Ia masih terngiang dengan ucapan papanya.
["Bersyukurlah papa masih menjaga mu setelah apa yang kamu lakukan. Seharusnya kamu masuk penjara, tapi papa tetap mempertahankanmu. Berubah lah menjadi pria yang sejati, yang bisa ku banggakan. Seperti Zeo. Dia tak pernah mengecewakanku seperti dirimu."]
"Aaarrggg.... Sialan! Zeo lagi!"
["Jangan menyalahkan siapapun Dam, introspeksi dirilah. Karena ini sepenuhnya salahmu."]
__ADS_1
Damar membuka kasar pintu ruangannya, disana ia tertegun melihat Nadia duduk di sofa tamu ruang kerjanya.
"Ada apa Nad?"
"Mas, aku mau antar ini." Nadia menyerah kan tas berisi tablet milik Damar yang tertinggal.
"Ya ampun Nad, kamu nggak harus membawakan itu sendiri kemari. Aku tadi nyuruh orang buat ambil kesana."
Damar mengambil tablet dan mulai mengoperasikan benda itu. Ia memang membutuhkan benda itu untuk meting nanti sore.
"Aku ingat, semalam mas bilang itu penting untuk meting hari ini. Jadi, aku mengantarnya kemari."
"Terima kasih sayang."
Damar menjatuhkan bobotnya di samping Nadia.
"Aku capek sekali." Keluh Damar.
Damar memposisikan dirinya, lalu Nadia memijitnya dengan telaten. Hubungan keduanya memang tak seromantis dulu. Setelah mengetahui Nathan bukan darah dagingnya, respek Damar pada Nadia berkurang, juga rasa sayang nya. Karena itulah, kini Nadia getol memberikan perhatian ektra agar Damar kembali mencintainya seperti dulu.
Setelah sesaat bercengkrama, Nadia pamit pulang untuk menjemput Nathan.Ia memasuki lift, lalu turun hingga ke lobi. Nadia berjalan dengan anggun, namun seketika langkahnya terhenti. Jantungnya serasa mau copot. Ekor matanya terus tertuju pada sosok pria yang berjalan santai kearah nya, bersama dengan beberapa pria bersamanya.
"Apa? Kenapa dia bisa ada disini?" Keringat Nadia bercucuran. Berharap tak terlihat orang yang membuatnya membeku seketika itu.
_______
Zeo berjalan memasuki gedung Rubian grup setelah pak Budi memanggilnya lagi. Ia datang bersama dua tim auditnya, untuk menyerahkan laporan hasil audit terakhir.
Sudut bibir Zeo terangkat sedikit. Ia melihat seorang wanita yang cukup dia kenal. Siapa lagi jika bukan Nadia. Wanita yang pernah ia temui di klub malam beberapa tahun silam. Ia terus berjalan dan berhenti di depan wanita yang terlihat kikuk dan takut.
"Lama tidak bertemu, Nanda." Sapa Zeo dengan senyum sinis diwajahnya."Aaa.... Aku lupa, namamu sebenarnya, Nadia. Lama tidak bertemu, Nadia. Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
Wajah Nadia berubah menjadi sangat tegang dan pucat. Tangannya pun sudah menjadi dingin.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dengan suara bergetar.
"Apa?" Zeo terkekeh kecil. "Aku anak dari pemilik RUBIAN GRUP."
"Apa?" Nadia tersentak kaget menatap Zeo.
"Benar, aku adik dari suamimu Damar."
"Tidak mungkin ....." Lutut Nadia serasa sangat lemas. Bagaimana bisa dunia ini begitu sempit. Pria yang sangat ingin dia hindari ternyata adalah adik Damar.
"Tidak perlu sampai berwajah begitu." Ucap Zeo dengan senyum smirk. "Aku hanya lewat. Seperti dulu."
Zeo berjalan dengan santai melewati Nadia. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Sementara Nadia merasa sangat lemas dan kehilangan tenaga. Kepalanya serasa berdenyut sakit. Hingga wajahnya terlihat sangat pucat.
________
Bersambung...
$$$$
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
__ADS_1
☺️