Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 26 • IPAR LAKNUT - HEALING •


__ADS_3

Di dalam perjalanan, Damar hanya bungkam. Sementara Nadia dengan sabar menjawab semua pertanyaan Nathan. Hingga Nathan tertidur dengan sendirinya karena lelah. Dalam keheningan setelah melalui semua itu, sesungguhnya Nadia sangat ingin membicarakan kelanjutan dan kejelasan hubungan mereka yang masih berstatus siri. Wanita mana yang tidak ingin pernikahannya diakui negara dan mertua.


"Mas...."


"Iya Nad." Jawab Damar tanpa menoleh kearah Nadia yang memangku Nathan yang terlelap.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?"


Damar hanya menghela nafasnya.


"Aku katakan yang sebenarnya, aku juga sudah tak ingin menutupi semua ini Nad."


"Lalu bagaimana jika papa tau dan mengusirmu mas."


"Jangan khawatir, mas dah ada cadangan rencana. Walau papa mencabut hak waris mas. Itu nggak masalah buat kita."


"Benarkah?"


"Iya. Kamu tenang aja ya?" Ucap Damar menoleh dengan senyum kecil diwajah tampannya.


_____


Rinjani nyenderkan kepalanya menatap keluar melalui kaca mobil di sampingnya. Bulir bening masih senantiasa membasahi pipinya. Zeo menyodorkan sebungkus tisu padanya, Rinjani hanya diam tanpa menggerakkan anggota tubuhnya sedikitpun. Ia hanya terus menangis.


Zeo meletakkan lagi tisu itu ke dasbor. Lalu ia menepikan mobilnya dan berhenti. Zeo memandang Rinjani yang masih berada di dunianya. Menangis tanpa suara, tetap membiarkan pipi nya basah.


Tangan Zeo tergerak mengambil tisu, lalu mencondongkan tubuhnya menghapus air mata Rinjani. Hingga tisu itu basah dan memaksa Zeo untuk menarik tisu yang baru. Ia memencet hidung Rinjani hingga keluar ingusnya, lalu membuangnya pada lembaran tisu yang ia bawa.


Rinjani menoleh, menatap Zeo dengan pandangan mata protes.


"Kau ini apa-apaan? Itu menjijikkan. Kenapa membuang ingus ku."


"Itu karena aku risih mendengarmu terus menyedot ingus. Apa tak bisa kau buang dulu? Dalam pikiranku kau menelan ingus dihidungmu."


Rinjani menyentak nafasnya sambil masih menangis.


"Kau benar-benar....." Protesnya ditengah tangisan. Rinjani menarik tisu di dasbor lalu membuang ingusnya berulang kali. Sampai habis.


"Buang disini. Jangan kotori mobilku." Zeo menyodori kantong pada Rinjani.


"Sial nya aku punya bos sepertimu."


"Ini sudah malam. Aku bukan lagi bos mu."


"Adik ipar." Sengal Rinjani sembari menghapus air matanya.


"Damar sudah mentalakmu. Kau bukan lagi Kaka iparku."


"Brengsek kau Zeo!" Umpat Rinjani menatap sinis pada Pria di sampingnya.


Zeo membuang nafasnya, membetulkan posisi duduknya.


"Ayo kembali kerumah sakit."


"Enggak mau. Aku lapar. Ayo cari makan saja."


"Setelah menangis selama itu kau merasakan lapar juga ternyata ya...." Ledek Zeo dengan senyum miring.


Rinjani meninju lengan Zeo, "Tentu saja. Kau pikir baper nggak butuh tenaga?"


Zeo tersenyum geli.


"Baiklah. Ayo kita makan yang banyak. Dan lupakan kesedihan. Lupakan rasa sakit dan bangkit. Lalu berbahagia. Heeemmm?"

__ADS_1


Mobil itu bergerak lagi. Lalu berhenti disebuah resto dengan banyak lampu di halamannya. Dan kursi kayu yang ditata rapi. Zeo dan Rinjani memilih salah satu kursi yang agak menjorok kearah taman dimana disana ada kolam ikan berwarna warni yang berenang dengan lincah. Memesan makanan dan camilan cukup banyak, Zeo melebarkan pupil matanya. Karena Rinjani memesan makan sebanyak itu.


"Kau yakin bisa menghabiskannya?"


"Apa kau meremehkan aku?"


"Yah, tubuh mu kecil untuk menampung makanan sebanyak itu." Ucap Zeo memindai tubuh Rinjani yang duduk didepan nya dan berganti melihat meja yang penuh makanan.


"Jangan remehkan wanita yang sedang patah hati. Gunung juga bakal habis dimakan." Ucap Rinjani dengan senyum yang tak sampai di matanya."Lagi pula aku sedang hamil. Anakku harus mendapatkan makanan yang cukup."


Zeo tergelak, ia cukup lega Rinjani tidak terpuruk terlalu lama, tenggelam dalam kesedihannya.


"Bagus."


"Aku mau mengambil cuti selama lima hari, sesuai rencana."ungkap Rinjani mencubit nasi dan ayam geprek lalu memasukan kedalam mulutnya.


"Baiklah."


"Aku ingin menyendiri dan menenangkan hati serta pikiran."


"Okey."


Zeo menyeruput minumannya.


"Kau mau kemana?"


Rinjani menatap Zeo lekat. "Sebaiknya dimana?"


"Terserah, asal jangan ke Bandung."


Rinjani tersenyum kecil. "Apa kau pikir aku akan menyusul mas Damar?"


Ia menatap Zeo dengan senyum pahit.


"Bagus, setelah dari sana, kembalilah dengan Rinjani yang baru, yang tegar dan kuat."


"Setelahnya, kita balas mereka."


Rinjani tertawa sinis mendengar kalimat pria didepannya. "Kenapa jadi kita?"


"Kau keberatan?"


Rinjani tak menjawab dan memilih diam tak merespon. Ia kembali menyantap ayam geprek ya sampai habis.


###


Hari berlalu, tibalah Rinjani yang melakukan perjalanan ke Malang. Ia tidak jadi pergi ke Singapure dikarenakan kandungan Rinjani yang masih masuk Minggu awal yang rentan.


Selama di malang, Rinjani hanya jalan-jalan menikmati beberapa kuliner. Tentu saja Zeo menyertai. Walau Rinjani sudah menolak, namun pria itu tetap memaksa.


Di alun-alun kota malang, dimalam hari sangat ramai, ada banyak penjaja makanan, baik yang ringan ataupun yang berat.


Rinjani berkeliling memanjakan lidah dan perutnya.


"Heemm... Ini enak banget. Pedesnya pas." Ucapnya mengigit bakso bakar yang baru saja dia beli. Tangannya memegang ujung tusukan bakso yang berwarna kemerahan karena sambal yang ikut di bakar bersama bumbu yang lainnya.


"Jangan banyak-banyak makannya. Ntar dedek nya kepanasan." Zeo merebut tusuk bakso dari tangan Rinjani yang baru berkurang dua butir. Lalu ia menggigit lepas satu bakso dan mengunyahnya perlahan karena masih panas.


"Panas!"


Rinjani terkekeh melihat Zeo yang kepanasan sekaligus kepedasan itu. Ia gegas mengambil sebotol air minum yang tadi ia bawa. lalu menyodorkannya pada Zeo.


"Makanya, jangan ngrebut punya ibu hamil." Rinjani mengambil kembali bakso bakar dari tangan Zeo. Lalu menggigitnya seraya tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Rin, ini tu pedes banget loh..." Ucap Zeo setelah menghabiskan sebotol air mineral."Kamu nggak kasian sama deb....."


Zeo tak menyelesaikan ucapannya, kala ia melihat pipi Rinjani yang basah. "Rin...."


"Panas.... Bibirku sampai melepuh..." Tangisnya sambil mengusap pipi dengan punggung tangannya. "Jangan menatapku seperti itu Zeo. Jangan mengasihani ku. Aku nggak menangisi mas Damar. Ini karena baksonya terlalu panas dan melukai bibirku..." Lanjutnya sembari sesenggukan.


"Siapa yang bilang kamu menangisi Damar haaahh?" Zeo jadi kesal dan merebut bakso bakar dari tangan Rinjani. Ia meraih bahu wanita yang menangis disampingnya, lalu membawa kedalam dadanya.


"Kalau panas jangan dimakan. Biar aku saja yang makan." Gumam Zeo dengan kesal menggigit bakso dan mengunyahnya dengan kasar. Ia tau,pasti Rinjani mengingat lagi suaminya yang kini sedang berada di Bandung dengan keluarga kecilnya.


Malam itu selepas berwisata kuliner, Rinjani dan Zeo kembali kehotel. Kamar mereka bersebelahan. Rinjani langsung merebahkan diri di ranjang kamarnya. Ia teringat lagi pada Damar. Bagaimana pria itu mengecup kening Nadia. Juga tentang kata-kata Damar jika dia vasektomi demi istri pertamanya. Air mata Rinjani meleleh, ia mengingat bagaimana betapa hancurnya dia setiap kali setelah berhubungan, testpack nya selalu negatif.


Suara tangisan Rinjani terdengar hingga ditelinga Zeo yang memang sedang duduk merokok di depan kamar Rinjani. Ia bergegas mengetuk pintu.


"Rin!"


"Buka Rin!"


"Rinjani!"


Zeo terus mengetuk dengan tidak sabar.


"Buka Rin."


Hanya suara tangisan Rinjani yang lirih terdengar.


"Buka Rin."


Zeo terus mengetuk pintu kamar Rinjani, ia tak mungkin mendobraknya. Ia hanya bisa terus mengetuk dan memanggil nama wanita yang kini tengah bersedih didalam sana.


"Rin, plis, buka pintunya."


Suara tangisan Rinjani melemah, Zeo tak lagi mendengarnya, semakin membuat Zeo khawatir dan cemas.


"Rinjani, buka pintunya sekarang. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh! Tetap waras Rin!" Serunya sedikit panik. Karena ia sama sekali tak mendengar suara dari dalam. Pikiran Zeo berkelana dan terus membayangkan yang tidak-tidak.


"Rinjani, kalau nggak buka juga. Aku dobrak. Aku hitung sampai tiga."


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


Zeo memundurkan tubuhnya siap mendobrak...


________


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2