Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 24 • IPAR LAKNUT - Semoga tidak •


__ADS_3

Sore itu, Zeo menunggui Rinjani yang terbaring di brankar rumah sakit. Dari keterangan dokter yang memeriksa Rinjani, hanya kecapekan. Untuk ukuran wanita yang sedang hamil, apa yang Rinjani lakukan terlalu berat dan tidak cukup istirahat. Ditambah lagi makan Rinjani yang tidak teratur. Karena itu, dokter menyarankan agar Rinjani beristirahat penuh.


Hingga malam tiba, Rinjani masih belum sadarkan diri. Zeo masih setia menanti, menatap wajah wanita cantik yang terlihat sendu meski terlelap itu. Kedua tangan Zeo menggenggam tangan Rinjani.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Zeo begitu Rinjani membuka matanya.


"Apa ini dirumah sakit?" Rinjani balik bertanya netranya memandang berkeliling.


"Heemm..."


"Sudah berapa lama aku pingsan?"


"Sepuluh jam."


Rinjani terduduk dan bersandar pada kepala brankar rumah sakit.


"Selama itu?"


"Kamu kelelahan." Zeo memandang Rinjani dengan penyesalan, maksud Zeo meminta Rinjani bekerja, hanya agar wanita malang itu melupakan sejenak kesedihannya. Tapi, Rinjani justru pingsan karena terlalu memforsir tubuhnya."Maaf."


"Kenapa kamu minta maaf, bos?"


"Zeo, panggil saja Zeo."


"Maaf, padahal masih ada dua hari tersisa. Aku memang tidak pantas...." Wajah sendu Rinjani makin terlihat dengan guratan sesal disana.


"Ssstttt!" Zeo menempel kan telunjuknya di bibir Rinjani."Lupakan. Gunakan sisa waktu itu untuk istirahat."


"Apa kamu sudah menemukan dimana mas Damar?"


Zeo mengangguk pelan.


"Bawa aku kesana Ze." Mohon Rinjani dengan mata berair.


"Dokter bilang kamu butuh istirahat total."


"Aku baik-baik saja. Bawa aku kesana. Biarkan aku menemui suamiku, Ze. Aku mohon. Aku harus menjelaskan padanya...."


Zeo menggeleng, "Istirahatlah selama dua hari ini."


"Zeo pliss!" Rinjani memohon dengan menangkup kan kedua tangannya didepan wajahnya sembari terus menitikkan airmatanya."Heemmm?"


"Rin-ja-ni...."


Rinjani terus memohon seraya menangis dengan tersengal-sengal.


"Rin, Rinjani." Zeo menangkup wajah Rinjani dengan menatap dalam bola mata indah yang terus memproduksi air mata.


"Dengarkan aku. Kau butuh istirahat. Jadi, kamu harus istirahat total selama dua hari. Setelah dua hari, aku berjanji akan membawamu ke tempat Damar. Saat itu, persiapkan diri. Kau butuh lebih banyak tenaga saat itu. Apa kau mengerti? Istirahatlah Rinjani!"


"Aku ingin menemui nya Zeo."


"Aku akan membawamu kesana. Itu janjiku." Zeo mengepalkan tangannya, menepuk dada beberapa kali dengan tangan terkepal. "Janji seorang pria. Aku tidak akan mengingkarinya."


Rinjani menghapus air mata yang masih mengalir dipipinya. Ia tau, Zeo tak akan memberitahu meski dia memohon sekalipun. Satu-satunya jalan hanya menurutinya, istirahat selama dua hari agar bisa menemui Damar.


Pintu kamar ruang VIP itu diketuk dari luar, saat Rinjani terlelap setelah menyelesaikan makan malamnya. Zeo menoleh, Jiechi memasuki ruangan, lalu menunduk.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Mereka akan pergi besok."


Zeo menatap wajah Rinjani yang terlelap. Zeo berdiri lalu menarik selimut lebih tinggi hingga sebatas dadanya. Zeo berbalik dan melangkah.


"Kita keluar saja."


Zeo keluar dari ruangan dimana Rinjani dirawat, sedikit agak jauh dari kamar Rinjani.


"Bicaralah lebih jelas. Damar dan keluarga itu akan pergi kemana?"


"Ke Bandung."


"Untuk apa?"


"Liburan."


Zeo tertawa dengan sedikit cemoohan.


"Istri sah nya sedang terbaring disini, bisa-bisa nya dia mau berlibur."


Dan mengenai dana yang sempat anda curigai itu...."


Zeo menajamkan matanya menatap Jiechi.


"Mengalir ke perusahaan NN. Itu adalah perusahaan baru berdiri dua tahun lalu, tapi sudah bekerja sama dengan Neo, yang juga dibawah naungan Rubian Grup. Tapi, kontrak mereka akan berakhir bulan depan. Dan tidak ada rencana untuk melanjutkan."


"Apa pemiliknya NN, Damar?"


"Bukan, tapi Nadia Saphira."


Zeo tertawa lucu.


"Dana proyek juga ada yang mengalir ke beberapa perusahaan fiktif."


"Damar..... Apa yang dia pikirkan? Bukankah dia akan mewarisi semua harta papa, buat apa dia melakukan semua ini?"


"Apakah perlu saya ingat kan kenapa Pak Damar menikahi istri sah nya yang sekarang."


"Tidak perlu. Terima kasih, kembalilah kerumah itu, dan awasi."


"Baik." Jiechi menunduk lalu berjalan menjauh. Zeo mengambil menghela nafas beratnya, tepat saat itu hp nya berdering. Ia melangkah menjauh sembari mengangkat telponnya.


"Hallo?"


Tak berapa lama, setelah urusannya selesai, Zeo kembali keruangan Rinjani dirawat dengan membawa beberapa buah segar dan kotak makanan. Begitu memasuki ruangan itu, langkahnya memelan, ia tertegun. Brankar tempat Rinjani harusnya terbaring kosong, dengan selimut yang menyibak asal. Zeo meletakkan semua bawaan di meja.


"Rin?"


Zeo berjalan mendekati kamar mandi, lalu mengetuk nya.


"Rin? Kamu di dalam?"


"Rin?"


Zeo mengetuk-ngetuk beberapa kali, namun masih tak ada sahutan dari sana. Zeo mendorong pintu kamar mandi sampai terbuka. Tak ada siapapun disana. Mata Zeo melebar. Ia lalu teringat, di lorong dekat kamar Rinjani, Zeo sempat melihat infus yang tergantung begitu saja dengan selang yang menjuntai disana. Gegas Zeo berlari, dan sampai di depan infus dengan selang yang menjuntai dan cairan infus yang menetes.


"Ini pasti milik Rinjani, apa dia dengar apa yang kami bicarakan tadi?" Gumam Zeo dengan panik dan gelisah."Jiechi!"


Zeo berlari hingga ke parkir kendaraannya, sembari menghubungi Jiechi.

__ADS_1


("Ada apa tuan?")


"Kau dimana?"


("Di depan rumah Damar.")


Mata Zeo melebar, ia yang telah masuk kedalam mobil merahnya langsung mengegas kendaraannya. Memacu agar bisa sesegera mungkin sampai kerumah Damar dengan terus berharap, semoga Rinjani tak membuntuti Jiechi.


________


Malam itu, Damar yang sudah bersiap untuk berangkat piknik ke Bandung dengan keluarga kecilnya itu. Menenteng beberapa tas dan koper. Memasukannya kedalam bagasi mobil Oren nya.


Setelah semua tertata dan tak ada yang tertinggal, Damar mengganti bajunya. Sementara Nadia masih sibuk memakaikan baju Nathan. Ia memadukan kemeja warna Dongker dan jeans berwarna senada. Selesai ia memakaikan sepatu pada anak lelakinya. Kini Nadia berganti bersolek, merias wajah dengan make up. Sedangkan Nathan bermain dengan ayahnya.


"Papa, kita mau kemana?"


"Bandung sayang."


"Disana kita mau ngapain?"


"Liburan, skalian temenin papa kerja. Nathan mau kan?"


"Mau pa. Nathan boleh ikut kerja?" Tanya bocah berusia lima tahun itu dengan bersemangat.


"Ha-ha-ha, boleh sayang."


"Horee..." Nathan bersorak gembira dengan kedua tangan yang diangkat keatas. Pasalnya, Nathan memang baru kali ini akan ikut papanya pergi kerja. Mengingat hubungan antara Nadia dan Damar yang dirahasiakan.


Nadia yang telah selesai merias itu keluar dari kamarnya, menggunakan blouse dan rok tutu sebawah lutut. Sangat cantik. Damar sampai terpana melihat nya.


"Jangan memandangku seperti itu. Aku malu." Nadia tersipu dengan senyum yang terbit diwajah cantiknya.


Damar mendekat, mengusap pipi wanitanya.


"Cantik." Pujinya seraya mengecup bibir istrinya.


"Uummpp... Sayang, ada Nathan.."


Damar terkekeh dan berjalan sambil mengandeng istrinya.


"Baiklah, ayo berangkat." Ajaknya.


"Ayo Nathan." Nadia memanggil anaknya dan menggandeng tangan mungil Nathan. Keluarga kecil yang bahagia itu berjalan keluar rumah. Tepat sebelum mereka memasuki mobil oren itu, terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Damar.


"Mas Damar!"


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2