Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 31 • IPAR LAKNUT - 2 tahun kemudian •


__ADS_3

"Maaf."


"Aku tak butuh maafmu Rinjani."


"Ze, aku sudah katakan padamu sebelumnya, aku ingin menyendiri dulu. Menenangkan hati dan pikiranku."


"Oke, selama dua bulan? Atau kamu masih butuh beberapa bulan lagi?"Zeo menatap tajam wanita yang kini justru terlihat merasa bersalah itu.


"Zee...."


"Dua bulan... Sekalipun kamu kamu nggak pernah menghubungi ku. Apa kamu bahagia?"


"Kenapa kamu malah jadi ngambek?"


"Biarin...." Zeo membuang mukanya. Rinjani menyipitkan matanya melirik pria bule sedang pura-pura ngambek itu.


"Aaaggg..." Rinjani memegangi perutnya, mendengar wanita disampingnya itu memekik kesakitan Zeo menoleh, dan memandang Rinjani dengan cemas dan Khawatir.


"Apa? Apa yang salah? Dimana yang sakit?"


Rinjani menunjuk perutnya.


"Biar aku bawa kamu ke dokter." Zeo hendak mengangkat tubuh Rinjani masih dengan wajah khawatir nya.


"Tunggu." Tahan Rinjani pelan. "Minum."


"Oke." Gegas Zeo mengambil segelas air putih lalu menyodorkannya pada Rinjani. Wanita hamil itu meneguknya sedikit.


"Apa yang kamu rasain? Ayo ke dokter." Zeo masih dengan wajah cemasnya.


Rinjani memandang wajah Zeo yang tampak begitu khawatir dan cemas. Ia jadi tak tega untuk membohonginya dengan sakit perut lebih lama.


"Sepertinya, dia ingin di elus." Ucap Rinjani akhirnya, sambil menunjuk perutnya.


"Apa?"


Dengan hati-hati Zeo mengangkat tangannya. Menyentuh perut Rinjani. Lalu mengusap-usap perutnya. Keduanya terdiam, dalam keheningan. Hanya tangan Zeo yang bergerak diatas perut Rinjani.


"Su-sudah." Ucap Rinjani yang menjadi canggung dengan Zeo. Namun tangan pria itu masih tertahan di perutnya.


"MMM.. aku mau mandi dulu." Ucap Rinjani pelan, sembari berdiri dan menyingkirkan tangan Zeo."aku mau ke resto jam 10. Kamu mau ikut? Aku membuka resto disini."


Zeo tersenyum tipis. Lalu mengangguk.


Beberapa jam kemudian, Rinjani dan Zeo memasuki sebuah resto yang baru di buka oleh karyawan Rinjani.


"Hmmm.... Jadi ini milikmu?"


"Sebenarnya, temanmu Jiechi yang menawarkan untuk berinvestasi padaku. Saat itu aku sedang kekurangan uang. Dia tetangga yang ramah, yang menawarkan untuk berinvestasi." Tutur Rinjani dengan sedikit senyum mengenang, Zeo hanya manggut-manggut.

__ADS_1


"Lucunya dia ternyata temanmu..."


Rinjani terdiam sesaat, lalu menatap Zeo dengan mata curiga.


"Kau...." tunjuk Rinjani pada pria bule disampingnya.


"Apa?"


"Ini tak ada hubungannya denganmu? Atau memang sejak awal kamu....."


______


Dua tahun kemudian


Setelah perceraian dengan Rinjani. Damar membawa Nadia dan Nathan ke rumah utama atas desakan Nadia. Walau awalnya Damar menolak lantaran papa Budi masih belum memberi restu dan masih ingin Damar dan Rinjani kembali.


Pak Budi juga sudah meminta Damar untuk test DNA bagi anaknya yang Rinjani lahirkan. Ia ingin memastikan lagi, jika anak Rinjani adalah cucunya. Anak dari Damar. Namun, baik Damar maupun Rinjani tak ada yang setuju. Apalagi, Rinjani sudah menjauh dan tak menampakkan diri lagi setelah kepergiannya. Tak ada yang tau dimana keberadaan Rinjani. Kecuali Zeo.


"Apa ini?" Sentak pak Budi melihat Damar membawa Nadia dan Nathan kerumah utama. Ia mendelik pada Damar dan Nadia secara bergantian.


"Nadia istriku pa."


"Apa?" Pak Budi menggebrak meja saking kesal nya dengan pengakuan Damar.


Mama Ratna juga terkejut, ia menarik tangan suaminya dan mengusapnya agar tenang dan duduk kembali. Pak Budi pun menjatuhkan bobotnya di atas sofa kembali. Namun wajahnya masih tampak merah karena marah.


Damar yang masih berdiri disamping Nadia dan Nathan yang bersembunyi dibalik tubuh ibunya karena takut. Damar memeluk bahu Nadia dan mengusap lengannya agar tenang dan jangan khawatir.


"DAMAR!" sentak pak Budi lagi dengan emosi yang makin meluap. "Kau bilang apa?" Nada bicaranya naik menjadi satu oktaf. Matanya semakin membulat dan membesar sepertinya akan keluar dari tempatnya.


"Dia Nadia istriku dan ini Nathan anakku pa." Damar mengambil Nathan dan menggendongnya. Lalu sebelah tangan nya menggenggam jemari Nadia.


"Apa maksudmu dam? Jika dia anakmu, apa kalian sudah berhubungan lama?" Mama Ratna akhirnya ikut bersuara, ia pun ikut terkejut dengan pengakuan Damar. Ratna dengan masih mencoba memeluk dan mengusap lengan suaminya agar tenang.


"Mama kan sudah tau kalau kami sudah berhubungan sejak SMA."


"Dam....." Lirih mama Ratna yang merasakan lengan suaminya semakin keras, tangan Pak Budi pun sudah terlihat mengepal kuat. Urat-urat di wajahnya makin terlihat menonjol keluar akibat emosi yang meluap-luap.


"Aku dan Nadia sudah menikah siri dua tahun sebelum pernikahanku dengan Rinjani." Jelas Damar mencoba tenang walau ia sudah yakin akan kemarahan dari papanya.


BRAAKK!!


"Beraninya kamu, Dam!" Sentak pak Budi menunjuk wajah Damar dengan penuh amarah. Matanya semakin menonjol keluar. Dadanya naik turun oleh amarah.


"Pa, restui kami! Biarkan Nadia menjadi bagian dari keluarga Rubiandini. Dan ini Nathan, dia adalah cucumu pa."


Mama Ratna mengusap lengan suaminya. Ia memaksakan senyuman dan memandang wajah Nadia.


"Bu Ijah!" Seru mama Ratna memanggil asisten rumah tangga. Bi Ijah pun datang dengan tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Iya nyah."


"Tolong bawa wanita dan anak kecil di samping Damar itu kekamar atas milik Damar."


Pak Budi seketika menoleh dengan mata yang masih melotot. Sementara mama Ratna tak bergeming. Baginya, anak sekecil Nathan tak seharusnya menyaksikan pertengkaran orang dewasa. Mama Ratna memandang Nadia, dengan mengulas senyum terpaksa.


"Nad, bawa Nathan kekamar atas. Kalian istirahatlah. Ini sudah terlalu malam untuk melakukan perjalanan untuk anaka seusia Nathan." Ucap mama Ratna dengan nada yang cukup lembut. Walau ada terselip tidak suka.


"Mari Non." Bi Ijah mempersilahkan dengan tangannya.


Nadia pun mengikuti setelah melihat kode dari Damar yang mengangguk pelan.


"Dam, sekarang jelaskan pada mama dan papa. Apakah benar kalian sudah menikah dan memiliki anak, lalu kau menikah dengan Rinjani?" Tanya mama Ratna lembut setelah memastikan Nadia dan Nathan tak terlihat lagi.


"Benar. Aku sangat mencintai Nadia ma." Ucap Damar dengan mimik muka memohon."Tolong retui kami. Biarkan Nadia juga merasakan memiliki mertua dan menjadi menantu. Juga, Nathan merasakan memiliki kakek dan nenek."


"Lalu, apa kamu vasektomi juga demi Nadia?" Tanya mama Ratna dengan hati-hati.


Damar menunduk, ia tak berani menatap wajah pak Budi yang sudah sangat marah itu.


"Iya."


BRAAK!


"Pergi! Pergi dari rumahku sekarang!" Teriak pa Budi penuh amarah.


"Sabar pa." Mama Ratna mengusap lengan pak Budi agar menenang."ini sudah malam,lagian diluar hujan juga cukup lebat. Biarkan mereka menginap disini sementara." Bujuk mama Ratna.


"Beraninya kamu membohongi papa dan Rinjani demi wanita itu!" Pak Budi masih menatap nyalang para Damar."Kau sudah membodohi kami!"


"Pa, apa salah Nadia sampai papa begitu membencinya dan tak merestui kami?"


Pak Budi tersenyum sinis."Kau tanyakan saja pada istrimu itu."


_____


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️ ...


__ADS_2