
"Kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa laki-laki itu bisa menjadi adik mas Damar?"gumam Nadia dengan gugup dan gemetar.
"Mereka sangat berbeda, sangat berbeda, bagaimana bisa?"
Nadia terus memeluk tubuhnya sendiri yang terasa menggigil. Belum selesai masalah Damar yang tak sehangat dulu, sudah muncul orang yang tak seharusnya dalam hidup Nadia.
"Bagaimana jika mas Damar tau semua nya? Bagaimana jika dia nanti malah menceraikan ku? Apa yang harus kulakukan?"
Saat itu, Nadia melihat pak Budi baru saja memasuki lobi, ia masih merasa lemas saat mertuanya itu menatapnya tajam.
.
.
Nadia duduk dengan tak tenang, gugup dan cemas. Dihadapannya duduk pak Budi yang masih menatap tajam pada Nadia.
"Kenapa kamu kemari?"
"Saya, mengunjungi mas Damar."
"Kau sudah dengar dia akan di mutasi ke Surabaya?"
Nadia hanya diam tak bersuara, menunduk dalam karena tak berani menatap pak Budi yang terus memberinya tatapan tajam.
"Kau sudah bertemu dengan nya?"
"Mas Damar tidak mengatakan apapun pa."
Pak Budi mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Tinggalkan Damar."
"Papa..." Nadia langsung mendongak menatap pak Budi dengan mata terkejut dan tak percaya.
"Dia tidak lagi menjabat sebagai direktur. Hanya ditempatkan di sebuah perusahaan kecil. Dia tidak akan bisa menghidupi gaya hidupmu lagi."
Mata Nadia berembun, ia sangat sakit dengan ucapan dari pak Budi. Memang, dia juga terpikat oleh kekayaan yang Damar miliki selain karena dia memang sudah mencintainya. Tapi,,
"Tinggalkan Damar. Mengenai Nathan, anak Damar, aku akan berusaha menjamin kehidupannya. Mengingat dia adalah cucuku. Tapi, aku ingin melakukan tes DNA lebih dulu. Hanya memastikan dia benar-benar cucuku atau bukan."
Tangan Nadia mengepal. Ia tau pak Budi tak menyukainya tapi apa yang pak Budi sampaikan sangatlah keterlaluan. Bagaimana bisa pak Budi begitu tegas meragukan Nathan, padahal dia tak tau apa-apa tentang kenyataan bahwa Damar sudah tau jika Nathan bukanlah anak kandung Damar.
'Apa mas Damar sudah mengatakannya pada Pak nudi? Tidak mungkin. Mas Damar bukan orang seperti itu.' pikir Nadia.
"Tidak perlu, saya mencintai mas Damar. Tulus, dia dia harus memulai lagi dari bawah, maka saya akan menyertainya. Saya permisi."
Nadia berdiri, lalu hendak mengambil langkah dan berbalik, namun langkahnya terhenti saat mendengar pak Budi berucap. Rona wajah Nadia berubah, matanya melebar. Dan jantungnya serasa mau copot dari rongganya.
(PS: apa yang pak Budi utarakan ya Readers sampai Nadia bereaksi begitu?)
###
__ADS_1
Pak Budi memasuki ruangannya, saat itu Zeo sudah berada di ruangnya. Pria itu menunggu di sofa tamu bersama dengan dua orang tim auditnya.
"Kau sudah lama?"
"Lumayan," jawab Zeo menatap papanya yang baru saja datang dan menjatuhkan bobotnya di sofa sebrang Zeo duduk."Ini laporan yang papaa minta."
Pak Budi mengambil berkas yang Zeo ulurkan. Lalu menelitinya.
"Terima kasih Zeo."
"Mengenai Damar..."
"Aku sudah mengeluarkan SK mutasi Damar ke Surabaya." Potong Pak Budi dengan masih meneliti berkasnya, tentu saja membuat pupil mata Zeo melebar.
"Apa? Damar di mutasi ke Surabaya?"
"Ya, kenapa memangnya?" Tanya pak Budi heran mengernyit kan keningnya berganti menatap Zeo.
"Kenapa harus ke Surabaya pa?"Zeo malah balik bertanya dengan nada keberatan.
"Yah, seperti yang kamu tau, ada satu pabrik yang cocok untuk menempa Damar agar dia menjadi lebih baik lagi."
"Tapi nggak harus di Surabaya juga kan? Apa di kota lain nggak ada?"
"Itu sudah keputusan bersama saat rapat. Tidak bisa dirubah lagi." Ucap pak Budi sedikit curiga dengan Zeo yang sepertinya tak suka dengan keputusan rapat."Oiya, mengenai penganti Damar, kamu tidak keberatan kan?"
"Maksud papa?"
"Aku menunjukmu."
Sejak awal, Zeo memang berencana untuk menghancurkan perusahaan papanya itu, tentu saja setelah mendepak Damar keluar dari gedung pusat.
"Kenapa? Ini kesempatan bagus untukmu."
"Maaf papa, aku sibuk dengan Zeoz CORP sekarang. Karena itulah dulu aku melepaskan posisi direktur Sayap kanan yang papa berikan." Ucap Zeo beralasan."Papa tempa saja Damar sampai dia berubah dan tarik balik kemari. Kurasa satu atau dua tahun cukup untuknya."
"Kamu benar-benar tidak mau menjadi bagian dari Rubian grub?"
"Aku sudah menjadi pemegang saham disini, apa ini belum cukup?" Zeo berdiri dari duduknya, "urusanku sudah selesai."
"Pertimbangkan sekali lagi." Pinta pak Budi pada putra bungsunya. Sesungguhnya, pak Budi melakukan ini untuk menutupi rasa bersalahnya pada Zeo dan Rihana yang telah ia telantarkan selama ini.
Zeo yang memang tidak ada niat baik pada Rubian grup menolak. Ia sudah menyiapkan sekenario hingga beberapa bulan kedepan. Agar perusahaan papanya itu perlahan bangkrut.
###
Satu Minggu berlalu, Damar sudah berada di Surabaya. Walau masih merasa kesal dan jengkel, dia tetap bekerja semaksimal mungkin. Damar juga membawa Nadia dan Nathan ke Surabaya. Walau bagaimanapun mereka tetap keluarganya, walau sudah merasa dihianati, tapi ia masih cinta dengan Nadia. Dia masih berusaha memaafkan Nadia.
Walau kini sudah berjalan hampir tiga tahun setelah ia tau Nathan bukanlah anaknya. Ia juga sudah memutuskan untuk membuka kembali jalan spermanya agar bisa memiliki anak. Walau hingga kini Nadia masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Mas berangkat dulu ya Nad."
__ADS_1
"Iya mas." Sahut Nadia, ia mencoba menjadi istri yang patuh dan tak banyak menuntut. Sejak kejadian kecelakaan Nathan yang membongkar kenyataan dia bukan anak kandung Damar, Nadia merasakan pandangan yang berbeda dari mata Damar. Tak lagi penuh cinta seperti dulu. Walau mereka masih bersama, Damar sudah menjadi lebih dingin padanya.
Mobil Oren Damar keluar dari pekarangan rumah. Nadia hanya melambaikan tangannya saja. Ia merasa lemas, hingga kini masih mendampingi Damar, namun dia tetap merasa was-was, apa lagi pak Budi juga mengetahui kenyataan yang terjadi delapan tahun yang lalu.
"Aku sangat berharap papa tidak akan mengatakannya pada mas Damar." Gumam Nadia dengan lemas memegangi keningnya yang terasa pusing."Apa yang harus aku lakukan? Setiap hari merasa tak tenang. Terus gelisah, ya tuhaann.."
_______
Pagi menjelang siang, Rinjani yang masih berada di resto mengecek beberapa laporan keuangan. Mengintip jam yang melingkar di pergelangan tanganya.
"Sudah waktunya menjemput Sam." Gumam Rinjani melirik lagi tumpukan nota dan lembaran kertas di mejanya. Ia juga melihat laptop nya yang masih ada beberapa yang belum dia cek.
"Tanggung nih, tinggal dikit, tapi Sam. Coba telpon gurunya penjaganya dulu deh. Nitip bentar." Gumam Rinjani. Lalu memijit hape nya.
"Halo. Dengan ibu Bu Marda?"
("Iya Bu Rinjani,")
"Maaf Bu, saya jemput Sam agak terlambat. Boleh nitip Sam sebentar?"
("Iya Bu, bisa. Ini kebetulan juga ada beberapa wali yang nitip dulu.")
"Terima kasih Bu Kalau begitu."
Rinjani pun menutup telponnya. Ia tersenyum lega, lalu mulai mengerjakan beberapa tugas. Lima belas menit berlalu, pekerjaan Rinjani akhirnya selesai. Ia pun bergegas untuk menjemput Sam. Tak lupa ia membawa beberapa box makan siang untuk bu Marda. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menjaga Sam.
Sesampainya Rinjani di TK, ia langsung menuju tempat para guru. Dan bertemu dengan Bu Marda. Yang kebetulan sedang bersama Sam.
"Bunda." Seru Sam senang.
"Sayangnya bunda. Maaf ya bunda lama."
"Nggak papa bunda. Disini Sam banyak temannya."
Ya udah, Sam tunggu bunda di luar ya."
"Okey."
Sam berlarian keluar menuju halaman TK. Sementara Rinjani masih berbasis basi dengan Bu Marda dan menyerahkan bingkisan yang dia bawa dari resto tadi. Setelah nya, Rinjani pamit.
Beberapa langkah di halaman, mata rinjani menyapu mencari sosok Samudera. Namun ia tak temukan. Akhirnya ia bertanya pada satpam yang menjaga.
"Oh, Samudra tadi pamit nemenin temennya di didepan sana Bu Rinjani." Tunjuk pak satpam kearah jalan yang agak besar. Namun saat itu tak ramai. Rinjani pun melihat kearah yang Pak satpam itu tunjuk.
"Nah, itu Samudra."
Rinjani melihat samudra sedang berbincang dengan seorang pria. Gegas Rinjani mendekat, namun langkahnya terhenti. Rinjani tertegun, tubuhnya membeku ditempatnya berdiri. Matanya membulat melihat sosok yang kini sedang bersama anak lelakinya, Samudra. Jantung Rinjani berdetak sangat kencang. Rasa gelisah dan takut memeluknya dengan erat. Hingga ia hanya bisa mematung.
"Sam..." Lirih Rinjani akhirnya bisa menggerakkan lidahnya yang kelu.
"Bunda...." Sebut Samudra yang menoleh mendengar suara sang bunda memanggil. Ia berlarian mendekat memeluk bundanya.
__ADS_1
_______
Bersambung....